
Hari ini, Abimana benar-benar sedang tidak brsemangat pergi ke kantor. Inginnya selalu menempel Kirana. Semua pekerjaan kantor, ia percayakan kepada Rifky, asistennya. Rifky selalu bekerja dengan profesional dan penuh tanggung jawab.
"Yang, aku ikut menemani Sayang bekerja ya?" pinta Abimana dengan menampakan wajah memelas, seperti seorang anak yang sedang merengek kepada sang bunda.
"Tapi Bie ...,"
"Yang, please! Sekali ini saja, okay!"
Kirana menghela nafas panjang karena rengekan suaminya. "Baiklah Bie, tapi Hubby menunggu di ruanganku saja ya!"
"Baiklah Sayangku, emuachhhh..." Abimana mencium pipi istrinya di tempat umum. Betapa malunya Kirana karena dilihat oleh beberapa perawat dan pengunjung yang sedang berjalan memasuki klinik.
"Hubby..." Kirana menatap tajam suaminya. Bukannya takut atau meminta maaf, Abimana malah terkekeh dan kembali mencium pipi istrinya.
Kirana yang gemas mencubit pinggang suaminya dengan keras.
"Awwww, sakit Bunda." Abimana mengusap pinggangya yang serasa sakit karena cubitan sang istri.
"What? Bunda?" Mata Kirana membulat.
"Yeah, karena sebentar lagi aku akan menjadi ayah dan Sayang akan menjadi seorang bunda." Abimana mengulas senyum.
Ucapan Abimana seketika menumbuhkan perasaan bahagia di hati Kirana. Ia menatap manik hitam suaminya disertai senyuman penuh makna. "Aamiin Bie. Nanti aku akan meminta Dokter Zahra untuk memeriksa kandunganku, Bie."
Abimana mengusap pipi Kirana dengan lembut. "Iya Yang. Rasa cintaku setiap detik bertambah besar kepadamu istriku."
"Ehemmmm, di manapun so sweetnya nggak ada yang ngalahin." Seketika Abimana dan Kirana menoleh secara bersamaan ke arah asal suara.
"Fabian...." Kedua netra Abimana membulat.
Fabian terkekeh dan menepuk pundak bekas rivalnya. "Ehem, apa kabar Bro?"
"Alhamdulillah baik dan kurang baik Bro." Abimana menyunggingkan senyuman.
Fabian sedikit mengernyitkan keningnya. Dokter muda itu nampak tidak faham dengan jawaban Abimana.
"Maksudmu apa Bro?"
"Maksudku kabar kami baik Bro. Yang membuat menjadi kurang baik, sepertinya aku sedang mengalami sindrom kehamilan simpatik." Abimana sedikit menundukan wajahnya dengan lesu.
"Pfttttt, hahhhhhhaha. Selamat menikmati masa-masa kehamilan simpatik Bim. Yang sabar yakkk! Sindrom couvadeย biasanya dirasakan oleh seorang suami pada saat usia kehamilan sang istri berada pada trimester pertama dan ketiga."
Seketika wajah Abimana terlihat pias. Terbayang olehnya kejadian tadi pagi. Rasa mual dan terus-terusan ingin muntah, ditambah kepalanya yang teramat pusing. Bahkan, mungkin kejadian itu akan terulang kembali.
"Hhehe, yang kuat ya Bim!"
__ADS_1
"Iya Bian." Suara Abimana terdengar tidak bersemangat.
"Ehem, jangan menampakan keromantisan kalian secara berlebihan di tempat umum!" cibir Fabian yang disertai gelak tawa.
"Suka-suka kami dong. Biar jiwa para jomblo meronta-ronta, Bian." Kirana terkekeh, begitu juga dengan Abimana. Ya, saat ini memang Fabian masih jomblo karena belum ada sosok wanita yang mampu merebut hatinya selain Kirana. Hanya Kirana yang sebenarnya masih bertahta di kalbu, namun Fabian selalu berusaha untuk membuang jauh-jauh perasaan cintanya, karena sang wanita pujaan sudah menjadi milik seorang Abimana.
"Hufffttt Kiran, kalau ngomong suka bener."
"Yaiyalah, hhehhhe. Oya Bian, hari ini jadi ada kunjungan?"
"Kunjungannya diundur besok lusa, Ran. Memangnya ada apa?"
"Emmm, aku ingin meminta Dokter Zahra untuk memeriksa kandunganku."
"Owhhh, kebetulan bunda sedang tidak ada jadwal keluar. Langsung saja temui bunda di ruangannya, Ran!"
"Baiklah Bian, kami akan segera menemui beliau." Kirana mengembangkan senyuman.
Abimana, Kirana dan Fabian berjalan beriringan memasuki klinik Dokter Zahra.
๐น๐น๐น
Di ruang pemeriksaan.
Abimana dengan setia mendampingi sang istri yang sedang diperiksa oleh Zahra.
Kirana berbaring di ranjang pasien, kemudian Zahra mulai melakukan USG untuk mengetahui posisi janin di dalam kandungan.
"Nah Pak Bima, coba anda lihat...!! Ini letak janin yang ada di dalam kandungan Dokter Kirana." Zahra menunjukan apa yang beliau maksud di layar monitor.
Seketika mata Abimana dan Kirana nampak dihiasi binar kebahagiaan. Mereka berdua teramat bahagia dan bersyukur atas anugerah terindah yang selalu dinantikan setiap pasangan suami istri, kehadiran malaikat kecil di dalam rahim Kirana.
"Malaikat kecil kita Sayang..." Ucap Abimana pada sang istri, sembari mengecup kening Kirana dengan penuh cinta.
"Iya Bie. Alhamdulillah Allah menghadirkan malaikat kecil untuk kita."
"Selamat Pak Bima dan juga Dokter Kiran. Dijaga kandungannya dengan baik, jangan terlalu kelelahan, makan-makanan yang bergizi ya Bu dokter...!!" pesan Zahra dengan mengembangkan senyuman.
Kirana mengukir senyum di bibirnya dan mengucapkan terimakasih kepada Zahra, "iya Dokter Zahra, trimakasih..."
"Untuk Pak Bima, selalu jaga dan motivasi istri anda selama masa kehamilan!! Hindari pikiran yang membuat Dokter Kiran stres!"
"Iya... Trimakasih Dokter Zahra. Saya akan melakukan semua yang terbaik untuk istri dan calon anak kami," balas Abimana disertai senyuman yang menghiasi wajah tampannya.
"Oya Dokter, bagaimana menghadapi sindrom couvade yang tengah saya alami?"
__ADS_1
Zahra sedikit mengerutkan keningnya.
"Owhhh jadi Pak Bima mengalami sindrom couvade?"
"Emmm, iya Dok."
"Hindari stres, jaga pola makan, berusahalah untuk rileks, Pak Bima! Sambutlah kehamilan istri anda dengan penuh suka cita!"
"Tentu Dok, saya akan menyambut kehamilan istri saya dengan suka cita."
.
.
Selesai pemeriksaan, Abimana memapah sang istri, melangkah meninggalkan ruangan Zahra.
"Bie, berangkatlah ke kantor!"
"Tapi aku ingin sekali selalu bersamamu, Yang."
"Bie, nanti sore kita bisa bersama lagi. Bisa-bisa, aku nggak akan fokus bekerja kalau Hubby selalu nempel seperti prangko," cebik Kirana.
"Hemmmzzz, baiklah Yang. Tapi berikan suamimu ini ciuman penyemangat!"
"Yasudah, dekatkan wajahmu Bie!" Abimana mendekatkan wajah dan memejamkan matanya.
CUP
Kirana mencium kening Abimana dengan penuh perasaan.
"Kurang Yang. Berikan suamimu ini ciuman yang lengkap!"
"Bie, ini di tempat umum lho. Semua orang memperhatikan kita."
"Biarin, dunia ini milik kita Sayang. Yang lain hanya ngontrak. So, berikan ciuman lengkap itu segera atau aku tidak akan berangkat ke kantor!" Abimana menatap dengan intens kedua netra Kirana, seolah menegaskan ancamannya pada sang istri.
"Hadecchhh." Kirana menepuk jidat karena permintaan suaminya yang terkesan konyol. Memberikan ciuman lengkap di tempat umum... Nggak terbayang betapa malunya Kirana. ๐๐๐
๐น๐น๐น๐น
Maaf jika banyak typo ya readersss ๐๐๐
Jangan lupa like untuk menyemangati author. ๐๐
Trimakasih dan happy reading โคโค
__ADS_1