Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Tiba-Tiba Menikah


__ADS_3

Langit terlihat muram, tak ada lagi cahaya sang mentari menyapa bumi. Seolah alam ikut merasakan kedukaan yang tengah dirasakan oleh kedua insan karena kepergian Diana. Mereka adalah Anggara dan Vano.


Hari ini, Vano diberikan ijin untuk menghadiri pemakaman Diana, dengan dikawal oleh dua orang polisi.


Vano bersimpuh di hadapan jenazah adik yang sangat disayanginya. Vano tidak mampu menyembunyikan kedukaan. Lolos sudah air bening dari kedua sudut netra Vano.


"Diana, maafkan kakak! Di, seandainya kita tidak melakukan kesalahan dan dosa besar terhadap Kiran, mungkin Allah tidak akan memberikan hukuman ini. Di ...," suara Vano tercekat. Dadanya serasa menyesak tatkala mengingat semua kesalahan dan dosa yang telah ia perbuat selama ini. Terutama apa yang telah ia perbuat terhadap wanita yang dicintainya, Ayunda Kirana.


Anggara mengusap-usap punggung putranya. "Vano, kita relakan kepergian adikmu. Insya Allah, Allah akan memberikan ampunan dan membuka pintu surga untuk Diana."


"Aamiin Ya Allah. Pa, apakah papa sudah memaafkan kesalahan Diana?" tanya Vano. Kedua netranya menatap manik mata Anggara dengan intens.


Anggara mengangguk pelan. "Sudah Van, papa sudah memaafkan semua kesalahan Diana. Papa juga akan memberikan yang terbaik untuk putra adikmu."


"Alhamdulillah, trimakasih Pa." Vano dan Anggara saling berpeluk.


.


.


"Assalamu'alaikum ...." Terdengar ucapan salam. Vano dan Anggara mengurai pelukan. Mereka menoleh ke arah asal suara dan menjawab salam, "wa'alaikumsalam ...."


Terlihat Halimah yang sedang menggendong Karan, berjalan mendekat ke arah Vano dan Anggara. Halimah diberikan ijin untuk menghadiri pemakaman sahabatnya, Diana. Halimah tidak datang seorang diri, melainkan bersama Nurul dan Panut.


Halimah, Nurul serta Panut duduk bersebelahan dengan Vano dan Anggara, setelah menjabat tangan kedua pria itu. Ketiganya mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya Diana.


.


.


"Tuan, bayi yang berada dalam gendongan saya adalah putra Diana. Putri Tuan memberikan nama kepada putranya, Karan Putra Abima. Tuan, besar harapan kami, agar Tuan Anggara bersedia menerima Karan sebagai cucu," ucap Halimah dengan sedikit menundukan wajahnya.


Anggara mengusap wajah Karan. Air matanya kembali tertumpah tatkala melihat wajah Karan yang mirip dengan Diana.


"Cucuku...." Anggara mencium pipi bayi yang malang itu.


Dada Vano semakin menyesak melihat putra adiknya yang sudah yatim piatu. Besar harapannya untuk menggantikan Diana, merawat dan membesarkan Karan. Namun apa daya, Vano masih harus menjalani masa hukuman selama tiga tahun.


Vano dan Anggara menghela nafas kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Keduanya menyeka jejak air mata yang membasahi wajah dengan jemari tangan.


Semua tamu merasakan keharuan. Bahkan beberapa di antara mereka ikut meneteskan air mata karena melihat adegan yang membuat baper.


Halimah menyerahkan Karan kepada kakeknya. Tangan Anggara terlihat gemetar saat menerima tubuh mungil cucu tampannya.


"Mas Vano, ada titipan surat dari Diana." Halimah menyerahkan sepucuk surat yang ditulis oleh Diana saat kandungannya masih berusia lima bulan kepada Vano.

__ADS_1


Vano menerima surat dari Diana kemudian membukanya. Vano membaca isi surat itu dengan perlahan.


Surat Diana berisi mengenai kehidupannya selama tinggal di dalam penjara. Diana menceritakan persahabatannya dengan seorang gadis salehah bernama Halimah. Diana berharap, supaya Vano segera menikahi Halimah setelah membaca surat yang ia tulis.


Kedua netra Vano nampak berkaca-kaca setelah membaca surat Diana. Tatapan kedua netra pria berparas tampan itupun beralih pada wajah seorang gadis manis berlesung pipi, Halimah.


"Apakah kamu gadis yang bernama Halimah, sahabat Diana?" tanya Vano, kedua netranya semakin menatap wajah manis Halimah dengan intens.


"I-iya. Saya Halimah," jawab Halimah dengan menundukan pandangannya.


"Halimah, bersediakah jika pada hari ini, aku menikahimu?" Halimah diam membisu. Gadis manis itu seolah masih tidak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Vano.


Anggara dan para tamu terkesiap mendengar pertanyaan Vano yang ditujukan kepada Halimah.


"A-apa maksudmu Van?" tanya Anggara.


"Pa, Diana meminta Vano untuk segera menikahi Halimah, setelah membaca surat yang telah ditulisnya. Pa, mohon restui kami!" pinta Vano dengan bersungguh-sungguh.


Anggara mengulas senyum. Ia tidak menyangka bahwa Diana akan menjodohkan kakaknya dengan seorang gadis berjilbab dan bertutur kata sopan. "Papa merestui kalian. Bagaimana jika kamu dan Halimah menikah saat ini juga sebelum jenazah Diana dimakamkan? Kebetulan papa mempunyai sahabat seorang penghulu. Untuk dokumen pernikahan, papa yang akan mengurusnya besok."


"Alhamdulillah, trimakasih Pa. Vano setuju Pa, namun jika Halimah bersedia menerima Vano sebagai suaminya." Kedua netra Vano kembali berkaca-kaca.


"Halimah, kamu belum menjawab pertanyaanku. Apakah kamu bersedia menerima pria yang tidak sempurna ini sebagai suamimu?"


"Alhamdulillah," ucap Vano dan Anggara bersamaan.


🌹🌹🌹


Halimah seorang gadis malang yang hidup sebatang kara. Ayah dan ibunya meninggal dunia karena kecelakaan, pada saat Halimah berusia lima belas tahun.


Gadis yang bernasib malang kini diangkat derajatnya oleh Allah. Siapa sangka, seorang gadis desa menjadi calon menantu Anggara,


pria yang memiliki harta melimpah.


.


.


Acara ijab qabul pun dimulai setelah Hendro, sahabat Anggara tiba. Almarhum ayah Halimah diwakili oleh seorang wali hakim. Halimah meneteskan air mata ketika Vano mengucapkan qabul.


Setelah selesai melaksanakan ijab qabul, Vano mencium kening Halimah yang sekarang telah sah menjadi istrinya. Jemari tangan Vano mengusap air mata yang membasahi wajah manis Halimah.


Dengan menahan gejolak rasa, Halimah mencium punggung tangan Vano.


Keduanya memohon doa kepada Anggara, agar pernikahan mereka sakinah mawadah warohmah.

__ADS_1


Vano dan istrinya bergantian mencium punggung tangan Anggara.


Semua tamu yang hadir memberikan selamat kepada sepasang pengantin baru, Vano dan Halimah.


.


.


"Pa, bagaimana nasib Karan? Siapa yang akan merawatnya bila papa sibuk mengurus perusahaan?"


Anggara sedikit mengerutkan keningnya. "Papa juga sedang berpikir, Van. Siapa yang akan bersedia merawat putra Diana?"


Dengan ragu, Panut menyela percakapan Vano dan papanya. "Mohon maaf Tuan Anggara, jika anda tidak keberatan, saya dan istri yang akan merawat Karan untuk sementara waktu. Kebetulan adik saya mempunyai bayi laki-laki. Adik saya yang akan memberikan air asi untuk Karan."


"Siapa nama anda? Mengapa anda berkeinginan merawat Karan?" tanya Anggara disertai seulas senyum.


"Perkenalkan, nama saya Panut, Tuan! Saya dan istri sudah lama belum dikaruniai keturunan. Jika diperbolehkan merawat Karan, kami akan merasa teramat bahagia, Tuan," jawab Panut mantap.


"Baiklah, saya mengijinkan. Saya minta, rawat dan jagalah Karan serta sayangi bayi mungil ini dengan sepenuh hati! Semua keperluan Karan, akan saya sediakan."


"Trimakasih Tuan. Saya dan istri akan merawat, menjaga dan menyayangi Karan dengan sepenuh hati. Kami akan menganggap Karan seperti anak sendiri."


Anggara dan Vano bernafas lega karena mereka yakin Panut beserta istrinya adalah orang yang tepat untuk diberikan amanah, merawat dan menjaga Karan.


"Hmmm, saya juga mengucapkan terimakasih karena anda sudah bersedia merawat Karan. Kalau boleh tau, di mana anda tinggal?"


"Kebetulan kami bertempat tinggal tidak jauh dari rumah Tuan. Tepatnya bersebelahan dengan restoran ayam kremes."


"Syukurlah kalau begitu, berarti ketika saya ingin bertemu dengan Karan, tidak perlu pergi jauh-jauh, itu pun pada saat saya pulang ke Jogja."


"Insya Allah bisa Tuan," balas Panut disertai seulas senyum.


"Pak Panut, saya titipkan Karan kepada anda dan istri, sampai masa hukuman Vano dan Halimah selesai."


"Iya Tuan, dengan senang hati." Kedua netra Panut nampak berbinar. Hatinya merasa teramat bahagia tatkala terbayang wajah sang istri. "Kamu pasti akan merasa senang Bu, bila aku pulang membawa malaikat kecil. Semoga kehadiran Karan di rumah kita, semakin membawa kebahagiaan," monolog Panut di dalam hati.


🌹🌹🌹🌹


Demi mengabulkan permintaan para readers, pada akhirnya yang akan merawat Karan adalah Pak Panut beserta istri, sampai masa hukuman Vano dan Halimah selesai. Insya Allah, setelah merawat Karan, Panut dan istrinya diberikan hadiah terindah, seorang malaikat kecil yang sudah dinantikan sejak lama. 😇😇😇💓💓


So, jangan lupa tinggalkan jejak like ya readers. 😘😘


Trimakasih dan happy reading 💓💓💓


__ADS_1


__ADS_2