
Abimana dan Kirana berdiri di atas sajadah, kemudian memulai ritual sholat subuh berjamaah.
Mereka berdua sangat khusuk ketika menyembah Robb pemilik alam semesta.
Setelah mengucapkan dua salam, sepasang kekasih yang telah terikat dalam ikatan suci pernikahan melantunkan dzikir serta memanjatkan segala pinta.
Arunika mulai menyapa saat keduanya selesai melantunkan kalam cinta. Abimana mengecup kening istrinya dengan penuh perasaan. Mereka berpeluk, dan saling menikmati kenyamanan.
🌹🌹🌹
Usai menikmati sarapan pagi, keempat pengantin baru chek out dari hotel.
Abimana mengemudikan mobil menuju rumah mertuanya. Jalanan kota Jogja tidak terlalu ramai di pagi hari. Nampak beberapa pesepeda, dan kendaraan tradisonal, yang berlalu lalang.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam, mereka sampai di tempat tujuan.
Rumah Ridwan nampak asri dan sederhana, meski ia tergolong keluarga yang terpandang serta mempunyai harta berlimpah. Kesederhanaan Ridwan menurun pada kedua buah hatinya, Ilham dan Kirana.
Ting tong ... ting tong
"Asalamu'alaikum." Kirana menekan bel pintu disertai ucapan salam.
CEKLEK
Pintu pun terbuka dengan perlahan.
"Wa'alaikumsalam," balas Ratri dari balik pintu.
Kedua buah hati Ratri beserta menantu-menantunya, mencium punggung tangan Ratri dengan bergantian, sebelum memasuki rumah.
"Ayah kemana Bu?" tanya Kirana. Mereka berlima berjalan menuju ruang keluarga.
"Ayah mendadak ada meeting di kantor. Kebetulan perusahaan Pak Abraham ingin menjalin kerjasama dengan Ridwan Group," balas Ratri disertai seulas senyum.
Sesampai di ruang keluarga, mereka duduk di sofa sembari bercengkrama.
"Semoga kerjasama om Abraham dan ayah, mampu mencapai hasil memuaskan untuk kemajuan kedua perusahaan, Bu," ucap Kirana dengan menggenggam erat tangan ibundanya. Wanita cantik itu duduk bersebelahan dengan ibu tercinta.
__ADS_1
"Aamiin, Kiran," balas Ratri penuh harap.
"Ibu buatkan minum dulu. Kiran, lepaskan genggaman tanganmu, putri cantiknya Ibu!" pinta Ratri pada Kirana. Namun putrinya yang comel menggelengkan kepala dan tidak mau melepas genggaman tangannya.
"Kirana masih rindu, Bu." Kirana menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu.
Abimana, Suci dan Ilham, tersenyum geli melihat tingkah Kirana yang masih seperti anak kecil.
"Biar Suci saja Bu, yang membuatkan minuman." Suci beranjak dari duduknya diikuti oleh Ilham.
"Iya Bu, biar kami saja," sahut Ilham.
Ratri menghela nafas sebelum membalas ucapan Ilham dan Suci, " Huff, baiklah. Sepertinya si comel sedang kambuh manjanya."
"Hemzz, padahal sudah punya suami. Kenapa malah menempel Ibu, adek comel?" Ilham mengacak jilbab adiknya dengan gemas.
"Biarin, wekkkk." Kirana menjulurkan lidahnya. Abimana tersenyum tipis melihat tingkah istri comelnya. Pria tampan itu menyadari keunikan karakter Kirana. Kadang bisa bersikap dewasa, kadang juga seperti bocil, bocah kecil.
Ilham dan Suci melangkahkan kaki menuju dapur untuk membuat minuman. Sedangkan Kirana, Abimana dan Ratri bercengkrama di ruang keluarga.
"Kiran, Bima, kalian ingin berbulan madu kemana?" tanya Ratri. Wanita paruh baya itu mengusap lembut jilbab putrinya.
Abimana dan Ratri mengerutkan kening, mencoba menelaah jawaban Kirana.
"Maksudmu apa, Kiran?" tanya Arini, meminta penjelasan atas jawaban yang diberikan oleh putrinya.
"Kiran ingin mendaki gunung, Bu. Sudah lama Kiran tidak mendaki gunung bersama Abi. Terakhir kami melakukan pendakian ke gunung lawu, saat masih SMA." Kirana menjelaskan maksudnya. Abimana dan Ratri mengulas senyum setelah mendengarkan penjelasan dari Kirana.
"Apa tidak ada rencana lainnya, Sayang? Misal bulan madu ke Bali, atau ke Bogor?" tanya Ratri. Dalam hatinya diliputi rasa khawatir bila anak dan menantunya berbulan madu dengan mendaki gunung.
"Tidak Bu, Kiran tetap ingin mendaki gunung," tegas Kiran.
"Sayang, mendaki gunung itu bukanlah cara untuk berbulan madu. Nggak mungkin juga kita romantis-romantisan di atas gunung," timpal Abimana disertai seulas senyum tipis.
"Yeyyy, siapa juga yang mau romantis-romantisan, By. Aku hanya ingin menikmati masa cuti." Kirana terkekeh.
Ratri yang merasa gemas dengan ucapan putri comelnya, memukul punggung Kirana dengan pelan.
__ADS_1
"Kiran, ini bukan waktunya bercanda. Ibu bertanya dengan serius."
"Iya Ibuku sayang. Putri Ibu sedang tidak bercanda. Kiran ingin mendaki gunung, menikmati suasana malam di ketinggian. Melihat rasi bintang dan rembulan. Setelah mendaki gunung, kami bisa menginap di villa. Disana kami juga bisa berbulan madu kan, Bu?" Kirana menampakan wajah puppy eyes.
"Iya, iya. Baiklah Kiran. Kalian boleh mendaki gunung. Tapi jangan mengajak abangmu dan istrinya, biarkan mereka memilih tempat untuk berbulan madu sendiri!" perintah Ratri. Wanita paruh baya itu mencubit pipi putri tercinta.
"Baiklah Bu, kami juga tidak ingin mengganggu keromantisan mereka," balas Kirana dengan tersenyum nyengir.
Ilham dan Suci berjalan ke arah mereka bertiga.
Suci membawa nampan, berisi lima cangkir teh hangat. Ia pun menaruh nampan di atas meja dan mempersilahkan ibu mertua, suami dan kedua adik iparnya, untuk menikmati teh hangat yang nasgitel.
Suci dan Ilham mendaratkan pantat mereka di atas sofa.
Ratri, Abimana, Kirana dan Ilham mengambil secangkir teh hangat kemudian mulai meneguknya, setelah mereka mengucapkan terimakasih kepada Suci.
Perbincangan mereka berlanjut. Ratri menyampaikan keinginan putrinya kepada Ilham dan Suci.
"Jika Kiran dan Bima ingin mendaki gunung, kalian ingin berbulan madu kemana?" tanya Ratri kepada putra dan menantunya.
"Bu, kami berdua ingin berbulan madu di desa. Menikmati suasana pedesaan yang masih asri dan sejuk," jawab Ilham, disertai senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
"Baiklah, Ibu akan menyampaikannya kepada ayah kalian," ucap Ratri. Raut wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kebahagiaan. Betapa ia teramat bersyukur, melihat kedua buah hatinya sudah memiliki pasangan halal.
🌹🌹🌹🌹
Readersss
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like 👍
Komentar, boleh kritik atau saran 😍
Klik emote ❤ untuk favoritkan novel
Beri Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote untuk memberi dukungan kepada author
__ADS_1
Trimakasih dan happy reading 😘😘😘