
Mentari pagi menyapa, memberi kehangatan dan semangat menyongsong hari meski dibalut coba dan uji.
Keluarga Kirana masih berkumpul di ruangan rawat inap atau tepatnya di kamar tempat si dokter cantik nan berhati mulia dirawat.
Abimana duduk di tepi ranjang sembari menyuapi istrinya yang masih terlihat lemah, bahkan untuk duduk saja Kirana belum bisa.
Ya, saat ini wanita yang biasanya terlihat energik hanya bisa berbaring, bahkan butuh waktu beberapa hari untuk memulihkan kepalanya agar bisa tegak kembali. Fabian berpesan, Kirana harus melakukan tahapan-tahapan untuk melatih kepalanya agar bisa pulih seperti sedia kala. Mulai dari menggunakan satu bantal sebagai alas kepala, kemudian dua bantal, setelah dirasa beralas dua bantal tidak pusing, baru dilanjutkan menggunakan alas tiga bantal.
"Nah, istri comelku yang pinter, habiskan ya makanannya! Tinggal sesuap lagi."
"Sudah Bie. Aku sudah kenyang," rengek Kirana dengan mengatupkan mulutnya.
"Sayang, kalau makanan ini tidak habis, kasihan ayamnya bisa mati," bujuk Abimana dengan memasang wajah imut.
Kirana tertawa geli mendengar ucapan dan melihat mimik wajah suaminya yang terlihat lucu. Ilham dan lainnya pun ikut tertawa.
"Pfffttt ... hahaha, Ya Allah Hubby. Ech Bie, kita kan nggak punya ayam, terus ayam siapa donk yang mati?" cebik Kirana.
"Ayam tetangga Yank," balas Abimana asal.
"Bie, tetangga kita yang bernama Bu Een, ayamnya sudah mati semenjak terkena kentut gorila, hhhhaha." Tawa Kirana semakin menjadi, seolah ia terlupa dengan kesedihan yang tengah dirasakan. Ya, kesedihan karena kini menjadi wanita berkepala gundul tapi jangan sampai mandul. 😌😌😌 Semuanya pun ikut terbahak mendengar celotehan Kirana.
"Kan masih ada ayamnya Bu Asmah, Yank," balas Abimana tidak mau kalah.
"Hisss, ayamnya Bu Asmah sudah dicekik hidup-hidup, sebagai pelampiasan emosinya yang memuncak, karena teramat malu pada Mbak Widya dan Mas Juna," Kirana terkekeh.
"Hemzzz, kalau nggak ada ayam, ya puyuh saja, Yank."
"Haisssshhh, puyuhnya siapa yang mati?" Kirana mengerucutkan bibirnya.
Abimana menjawab pertanyaan Kirana dengan berbisik, "Puyuhku Yank."
Sontak Kirana memekik, "Hubbbyyyyyyy..."
Ilham dan yang lainnya terkejut mendengar pekikan Kirana yang terdengar menggema.
"Ada apa Kiran?" tanya Ridwan dengan menampakan raut wajah yang dipenuhi kekhawatiran.
Abimana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Kirana menutup wajahnya dengan satu telapak tangan karena merasa teramat malu.
"Mmm, tidak ada apa-apa Yah. Tadi kami hanya bercanda," jawab Abimana mewakili istrinya.
__ADS_1
"Hemmzz, yasudah kalau tidak ada apa-apa. Ayah kira kamu kesakitan, Ran."
Abimana dan Kirana saling berpandangan, mereka terlihat menahan tawa yang hampir meledak.
🌹🌹🌹
Satu persatu keluarga mereka pulang ke rumah. Kini tinggal Abimana dan Kirana yang masih berada di dalam satu ruangan.
Hampir saja Abimana menautkan bibirnya pada bibir sang istri yang masih pucat, namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tokk... tokk... tokk....
Abimana membuang nafas kasar karena merasa kecewa. "Hufffttt, gangguan datang."
"Hehhh Bie, sabar untuk beberapa hari napa?" cebik Kirana.
"Hemzzzz."
Abimana beranjak dari duduknya dan mulai membukakan pintu. Terlihat lima orang gadis yang masih seusia anak sekolah berdiri di depan pintu. Mereka berlima segera masuk ke dalam setelah Abimana mempersilahkan.
Kelima gadis berjalan mendekat ke ranjang.
"Ela, Wulan, Sindy, Ainy, Inces Lea...." Kirana mengabsent nama mereka satu persatu.
Kirana membalas pelukan Sindy dengan satu tangan. Beruntung, sebelum kehadiran para tamu tak diundang, Kirana menutupi kepalanya dengan pasmina. 😀😀😀
Setelah Sindy, keempat gadis belia itu pun memeluk Kirana dengan bergantian.
"Siapa mereka Yank?" tanya Abimana seraya berbisik.
"Mereka author-author NT yang super kece. In shaa Allah calon penulis famous."
"Owhh, kog Sayang bisa kenal mereka?"
"Karena istrimu ini sering komentar di karya mereka, Hubby."
"Sayang juga jadi author?"
"Bukan Bie. Hanya menjadi readers sejati yang berusaha menghargai karya mereka. Karya kelima gadis belia itu super keren lho Bie."
Abimana menganggukan kepala tanda mengerti ucapan istrinya.
__ADS_1
"Ehhhem, sudah bisik-bisiknya Kak?" tanya Ela dengan memasang raut muka cemberut.
Kirana nyengir menjawab pertanyaan Ela, "Sorry El, suka khilaf kalau terus-terusan deket sama si Hubby."
"Kak, kami ikut prihatin atas musibah yang menimpa Kak Kiran," ucap Ainy dengan menampakan raut wajah sedih.
"Iya Kak. Kami sangat bersedih saat membaca status Kak Kiran di WA," timpal Wulan yang juga menampakan raut wajah sedih.
"Loh, dari kemarin Kakak nggak nulis status. Terus siapa? Kamu ya Bie??" tanya Kirana dengan menatap tajam suaminya.
Abimana memijit kepalanya yang tidak pusing dan menjawab pertanyaan sang istri, "Iya Yank, maaf."
"Lain kali jangan bikin status tanpa sepengetahuanku, Bie!" titah Kirana dengan memasang wajah masam.
"Iya Sayangku...." Abimana mengecup pipi istrinya di hadapan para gadis jomblo, kecuali Ela. Seketika mereka pun menutup mata dengan telapak tangan.
"Kak, kalian menodai penglihatan kami," pekik Inces Lea.
"Upsss maaf," balas Abimana. Wajah sepasang suami istri itu pun sudah dipenuhi rona merah.
Setelah cukup lama berbincang, kelima gadis belia berpamitan pada Abimana dan Kirana. Abimana bernafas lega, karena tidak ada lagi yang mengganggu kebersamaan mereka berdua.
Namun, belum sempat mendaratkan pantatnya di tepi ranjang, Abimana harus merasakan kecewa karena terdengar kembali ketukan pintu.
Tok.. tok... tok....
🌹🌹🌹🌹
Maaf, episode selingan biar nggak sedih terus 😅😅😅🙏🙏🙏
Readersss, jangan lupa tinggalkan like ya 👍
Komentar
Klik emote ❤
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote jika berkenan ❤❤
Trimakasih dan happy reading 😘😘😘
__ADS_1