Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Meraih Sakinah


__ADS_3

Pertama ku memandangnya


Tak ada rasa di dalam jiwa


Semua terasa seperti biasa


Tak ada rasa cinta


Waktu pun terus berlalu


Mengapa ku semakin merindu


Inikah rasa pada dirinya yang tak bisa kusentuh


.


.


Fadhil dan Hana duduk santai dengan menikmati gelato. Mereka mulai berbincang. Hana terlihat lebih rileks setelah menikmati gelato rasa chocolate kesukaannya.


"Mas, apa yang Mas Fadhil bicarakan dengan Mbak Shelly? Mengapa sepertinya serius sekali? Hana tidak suka Mbak Shelly menatap wajah Mas Fadhil dengan intens. Harusnya dia bisa menjaga pandangan. Toh Mbak Shelly sudah mempunyai Mas Adam. Hana mengalah demi Mbak Shelly dan Tiara, mengapa sepertinya dia masih tidak puas memiliki Mas Adam?" ucap Hana panjang lebar. Wajahnya terlihat masam kala membicarakan Shelly.


Fadhil tersenyum lebar mendengar ucapan Hana. "Masya Allah, sepertinya istriku sudah mulai cemburu. Hemmm ... itu tandanya cinta Mas Fadhil sudah dibalas oleh Hana, ya ... meski belum sepenuhnya. Tapi Alhamdulillah, Insya Allah ikhtiyar dan doa Mas Fadhil untuk mengalihkan hati Hana tidak sia-sia."


Fadhil kembali memasukkan gelato ke dalam mulutnya. Bibir Fadhil terhias oleh senyuman tatkala melihat rona merah tercetak jelas di pipi Hana.


"Humaira, tadi Mas Fadhil dan Mbak Shelly hanya membicarakan tentang keadaan Mas Adam. Dia tidak mau makan dan sering mengurung diri di dalam kamar. Setelah menikah, Mbak Shelly selalu mendapat penolakan dari Mas Adam. Hanya Tiara yang diperhatikan oleh Mas Adam. Mmm ... kata Mbak Shelly, cara bicara Mas Fadhil mirip dengan adiknya yang sudah tiada. Oleh karena itu, Mbak Shelly merasa senang ketika berbincang dengan Mas Fadhil."

__ADS_1


Hana menghentikan ritual menikmati gelatonya. Ia tatap wajah tampan suaminya dengan intens. "Apa benar yang dikatakan oleh Mbak Shelly? Apa dia hanya merasa senang saat berbincang dengan Mas Fadhil karena mirip almarhum adiknya? Hana sungguh takut jika Mbak Shelly mempunyai perasaan yang lebih terhadap Mas Fadhil. Hana takut jika Mas Fadhil berpaling dari Hana, karena kita sudah ...," Raut wajah Hana nampak sendu. Ia gigit bibir bawahnya.


Fadhil menatap lekat-lekat wajah istrinya. "Karena apa Humaira?"


"Karena kita sudah ... menyatukan raga, Mas. Hana sudah menyerahkan kesucian pada Mas Fadhil." Hana menundukkan kepala. Netranya serasa panas. Bulir kesedihan mulai menganak di pelupuk mata.


Fadhil mengangkat dagu Hana dengan perlahan. Ia tatap manik mata Hana. "Humaira, percayalah bahwa cinta Mas Fadhil tidak akan beralih! Sampai mati pun, Insya Allah hanya Hana yang menjadi kekasih halal Mas Fadhil. Kalaupun Mbak Shelly memiliki perasaan lebih, Mas Fadhil tidak akan menanggapinya. Mulai sekarang, kita tidak usah mencampuri urusan rumah tangga Mas Adam dan Mbak Shelly. Jika Mas Adam masih sakit karena tidak mau makan, toh masih ada dokter. Biarkan Mas Adam dan Mbak Shelly menyelesaikan masalah mereka sendiri!"


"Iya Mas. Apa yang Mas Fadhil ucapkan memang benar. Ada baiknya jika kita tidak lagi mencampuri urusan rumah tangga mereka. Maafkan Hana, Mas! Hana sempat merasa khawatir dengan kondisi kesehatan Mas Adam. Tapi ... sekarang Hana sudah tidak terlalu khawatir karena masih ada keluarga Om Rizal dan dokter yang akan berusaha menyembuhkan Mas Adam."


Fadhil mengecup kening istrinya dengan penuh kelembutan. Kecupan Fadhil selalu berhasil memberikan ketenangan bagi Hana. Di dalam hati Hana berucap syukur karena memiliki imam pengganti seorang Fadhil Siddiq Syam. Lelaki yang sedari kecil selalu menjaga dan berusaha memberinya kebahagiaan. Fadhil Siddiq Syam adalah bianglala (pelangi) bagi kehidupan Hana Maulida Putri.


🌹🌹🌹


Bulir air bening membasahi mukena seorang gadis kecil yang tengah meratap, merayu dan meminta agar Allah senantiasa memberi kebahagiaan untuk kedua orang tuanya. Tangisnya terdengar menyayat tatkala mengadukan keadaan papa dan mamanya kepada Illahi.


Tanpa Tiara sadari, Adam sedari tadi berdiri dengan bersandar pada pintu. Hati Adam tercubit tatkala mendengar suara Tiara yang tengah mengadu dan melangitkan pinta kepada Illahi untuk kebahagiaan papa dan mamanya.


Adam masih terpaku melihat punggung Tiara yang naik turun karena tangisan dari luapan kesedihan. Adam melangkahkan kaki dengan pelan ke arah putrinya.


Adam duduk bersimpuh di hadapan Tiara. Ia raih tubuh Tiara dan memeluknya dengan erat.


"Maafkan papa, Sayang! Maaf jika papa telah berbuat zalim! Papa akan berusaha membuat Tiara dan Mama bahagia, meskipun ...,"


"Meskipun Papa harus merelakan Tante Hana?"


Perlahan Adam meregangkan pelukannya. Di tatapnya manik mata Tiara dengan intens. "Meskipun, papa bukanlah seorang pria yang sempurna. Papa sudah mengikhlaskan Tante Hana. Papa, Tiara dan mama akan membuka lembaran baru. Papa benar-benar ingin menebus kesalahan di masa lalu. Maafkan papa ya Sayang!"

__ADS_1


Adam mengusap wajah Tiara yang sembab. Dikecupnya kening sang putri dengan penuh perasaan, menuangkan kasih sayang dan cinta seorang papa kepada putrinya.


Tanpa mereka sadari, Shelly sudah duduk bersimpuh di belakang Adam. Shelly merasa sangat terharu melihat perlakuan Adam terhadap Tiara.


"Dam ...." Shelly menyentuh bahu Adam. Adam menoleh ke belakang. Ia tatap wajah istrinya dengan intens.


"Shel, maafkan aku! Aku benar-benar pria yang egois."


"Sudahlah, Dam. Mari kita perbaiki hubungan kita! Kita buka lembaran baru, meraih sakinah bersama!"


"Iya Shel. Bantu aku mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawadah, warohmah!"


Senyum terlukis indah di bibir Shelly. "Tentu Dam. Kita akan bersama-sama membingkai pintu surga, mewujudkan rumah tangga yang harmonis atas ijinNya."


Adam, Shelly dan Tiara saling berpeluk. Pancaran kebahagiaan terlukis jelas di wajah mereka.


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Maaf jika ada typo 🙏🙏🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak like untuk memberi semangat pada Author ICPA


Trimakasih dan selamat membaca 💓💓💓

__ADS_1


__ADS_2