Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Hukuman Vano dan Diana


__ADS_3

Hari ini Anggara pergi mengunjungi kedua buah hatinya di penjara. Setelah mendengar kabar kebejatan dan kejahatan yang dilakukan oleh putra putrinya, Anggara teramat murka kepada mereka.


.


.


"Pa, keluarkan Vano dari tempat laknat ini! Vano mohon Pa!" Vano bersimpuh dihadapan Anggara. Pria muda itu menundukkan kepala, bahkan deraian air mata mulai membasahi wajah tampannya.


Anggara membuang nafas kasar. "Papa tidak akan pernah melakukan kesalahan untuk kesekian kalinya. Jalanilah hukumanmu! Di dalam penjara ini, cobalah untuk merenungi segala dosa-dosa yang telah kamu perbuat, Van!"


"Tapi Pa, Vano sungguh tidak kuat bila setiap hari diperlakukan secara tidak manusiawi. Mereka menjadikan Vano sebagai pelampiasan hawa nafsu." Tangis Vano semakin pecah tatkala terbayang dirinya dijadikan sebagai pemuas hawa nafsu oleh sesama jenis selama mendekam di sel tahanan.


Anggara nampak sedikit mengerutkan kening. "Apa maksud kamu, Van?"


"Pa, Vano dimasukan ke sel tahanan bersama para penyuka sesama jenis. Setiap hari mereka bergiliran menciumi dan menggerayangi tubuh Vano. Bahkan ketua mereka pernah menodai keperjakaan Vano."


Anggara teramat prihatin dan kasihan terhadap putra sulungnya. Di dalam hati Anggara terselip rasa bersalah karena telah memanjakan dan kurang mendidik putra putrinya dengan ilmu agama, sehingga menjadi bumerang bagi masa depan kedua buah hatinya.


"Baiklah, Van. Papa akan meminta kepada petugas lapas agar kamu di pindahkan ke sel tahanan yang lain. Papa tidak akan pernah mengeluarkanmu dari penjara. Papa ingin, ketika keluar dari penjara, putra papa sudah berubah menjadi pria yang berkepribadian lebih baik."


Vano merasa sedikit lega karena akan berpindah sel tahanan. Meski Anggara tidak bersedia mengeluarkannya dari penjara, namun Vano teramat bersyukur karena terbebas dari para narapidana yang setiap hari meminta jatah untuk menyalurkan hasratnya.


"Trimakasih Pa." Vano sedikit menengadahkan wajahnya.


"Berdirilah!" Anggara memegang kedua pundak putranya.


Vano berdiri dengan perlahan kemudian duduk di hadapan Anggara.


"Pa, maafkan atas segala kesalahan yang telah Vano perbuat." Vano menyeka jejak air mata dengan jemari tangan.


"Papa akan memberikan maaf setelah kamu bisa berubah menjadi seorang pria yang berakhlak mulia. Kasihan mama kalian yang sudah berada di alam sana. Mungkin mama kalian akan teramat bersedih bila melihat kelakuan putra putrinya yang teramat mengecewakan."


"Iya Pa, Vano akan berusaha menjadi pria yang berakhlak mulia."


"Van, minta maaflah kepada Kirana! Wanita berhati mulai itu pasti merasa trauma dengan apa yang telah kamu perbuat terhadapnya," pinta Anggara dengan suaranya yang terdengar lembut.


"Vano akan meminta maaf kepada Kiran, Pa. Bahkan Vano akan bersujud di kakinya dan menjalankan apa saja yang Kiran minta untuk menebus kesalahan dan dosa besar yang Vano telah perbuat terhadapnya. Pa, jujur Vano melakukan semua ini karena berambisi memiliki Kiran. Hanya Kiran, wanita yang sangat Vano cintai."


"Papa mengerti perasaanmu terhadap Kiran yang begitu besar. Namun, mulai saat ini hempaskan perasaan cintamu! Kiran sudah memiliki suami. Andai dulu kamu memiliki akhlak yang mulia, insya Allah Kirana akan membuka pintu hatinya untukmu."


"Apa yang Papa ucapkan memang benar. Vano harus menghempaskan rasa cinta Vano terhadap Kiran yang teramat besar."

__ADS_1


Seorang penjaga memberitahukan bahwa waktu berkunjung sudah selesai.


"Yasudah, Papa pergi dulu untuk mengunjungi adikmu." Anggara beranjak dari duduknya diikuti oleh Vano.


"Iya Pa." Vano dan Anggara berpelukan singkat. Setelah mereka melerai pelukan, Anggara meminta kepada petugas lapas untuk memindahkan putranya ke sel tahanan yang lain.


🌹🌹🌹


Saat ini di lapas khusus wanita sedang diadakan kegiatan gotong royong untuk membersihkan lapas.


"Hei wanita manja, bersihkan toilet itu!" Salah seorang narapidana wanita bertubuh gempal menyuruh Diana untuk membersihkan toilet yang sangat kotor.


"Tidak mau, kau saja!" balas Diana dengan suaranya yang terdengar lantang.


"Owhhhh, jadi kamu tidak mau?" Kedua netra wanita itu menatap tajam Diana.


"Ya, aku tidak sudi membersihkan toilet yang sangat menjijikan ini."


"Baiklah kalau begitu, aku akan membersihkannya dengan rambutmu." Dengan kasar wanita bertubuh gempal itu menjambak rambut Diana.


"Awwww, sakit.... Lepaskan rambutku!" rintih Diana.


"Jongkok!" Perintah si wanita bertubuh gempal dengan menaikan intonasi suaranya. Karena merasa kesakitan, Diana menuruti apa yang diperintahkan oleh wanita itu.


"Hahahaha, rasakan itu wahai wanita manja."


Diana segera mengangkat kepalanya. "Huekkk..."


"Bagaimana, lebih senang membersihkan toilet dengan rambut atau tanganmu, hah?" Ponirah menyeringai.


Diana tidak menjawab, ia mengambil air dan sampo untuk membersihkan rambutnya yang sangat bau. Berkali-kali Diana memuntahkan isi perut karena tidak tahan dengan bau rambutnya sendiri.


Setiap hari selama mendekam di balik jeruji besi, Diana selalu mendapatkan perlakuan buruk dari Ponirah dan anak buahnya.


.


.


Ponirah tersenyum devil sambil menulis sesuatu di selembar kertas yang ia minta dari penjaga lapas dengan alasan jika Diana yang memintanya. Ponirah menulis pesan yang ia tujukan kepada salah seorang penjaga lapas berbadan tinggi besar dan berkumis tipis.


Pak, nanti malam saya ingin memberikan kesenangan kepada anda.

__ADS_1


Diana


Penjaga lapas yang bernama Tukiyo tersenyum penuh makna setelah membaca tulisan Ponirah. Terbayang olehnya apa yang akan terjadi nanti malam.


.


.


Diana duduk di hadapan Anggara dengan menundukkan sedikit kepalanya.


"Pa, maafkan Diana! Bebaskan Diana dari penjara ini, Pa! Diana sungguh sudah tidak kuat lagi berada di tempat yang kotor dan dipenuhi oleh orang-orang jahat."


Anggara tersenyum getir melihat wajah putrinya yang nampak sayu.


"Di, papa tidak akan membebaskanmu dari penjara, karena apa yang kamu perbuat sudah sangat keterlaluan. Menggoda suami orang, menyuruh kakakmu untuk melecehkan Kirana, bahkan membunuh Tante Maria."


"Tapi Pa, Diana sungguh tidak kuat lagi berada di sini." Buliran air bening mulai membasahi wajah Diana.


"Di, selama menjalani masa hukuman, kamu harus berusaha untuk introspeksi diri! Papa berharap, selama di dalam penjara kamu bisa menyadari segala kesalahan dan dosa-dosamu. Minta maaflah kepada Kirana, Di!"


"Diana tidak sudi meminta maaf pada wanita itu, Pa. Diana masih tidak rela jika Kiran bahagia bersama pria yang teramat Diana cintai," ucap Diana dengan tegas.


"Papa sangat kecewa kepadamu, Di. Vano bisa mendengarkan dan menuruti apa yang Papa perintahkan, sedangkan kamu dengan angkuhnya menolak untuk meminta maaf kepada Kirana." Anggara meninggikan intonasi suaranya karena teramat marah pada Diana.


"Pa...."


"Sudahlah, Papa malas bila harus berdebat denganmu. Papa pergi dulu." Anggara segera berdiri kemudian melangkah pergi meninggalkan Diana.


🌹🌹🌹🌹


Insya Allah, hari ini author akan UP dua kali, episode Diana dan Vano.


Jangan lupa untuk tetap menyemangati author dengan meninggalkan jejak like 👍


komentar


rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


klik emote ❤ untuk fav. novel


Trimakasih dan happy reading ❤❤❤

__ADS_1



__ADS_2