
Mentari masih menyapa dengan kehangatan sinarnya, ketika dokter muda nan cantik melanjutkan perbincangan dengan Nita, setelah selesai menjalankan tugasnya di hari pertama.
"Mbak Nita, harus tegar dan tetap semangat menghadapi ujian dari Allah. Yakinlah, kelak bahagia akan menyapamu! Hukuman penjara sebenarnya memang tidak mampu untuk menebus dosa besar yang dilakukan oleh ayah angkatmu, namun percayalah bahwa balasan dari Allah itu lebih adil," ucap Kirana seraya memberikan percikan semangat kepada Nita.
Nita menghela nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Nampak raut wajahnya masih berselimut kesedihan.
"Iya Bu Dokter, jika saya tidak yakin pada keadilan dan kasih sayang Allah, pasti tubuh ini sudah menjadi jasad. Setelah pria jahat itu menodai putri yang seharusnya dijaga dan dilindunginya, seketika saya ingin mengakhiri hidup ini. Saya berjalan dengan raga yang seolah tanpa nyawa. Hingga ketika berada di atas jembatan, saya ingin melakukan percobaan bunuh diri dengan meloncat ke sungai. Beruntung ada seorang pria tampan yang tiba-tiba keluar dari dalam mobil, mencegah saya untuk melakukan perbuatan dosa itu. Pria tampan itu berusaha menyadarkan saya dengan tutur katanya yang menenangkan. Kemudian, kami pun saling berkenalan. Malaikat tak bersayap yang telah menyelamatkan nyawa saya bernama Mas Arif," balas Nita dengan mengulas senyum, karena terbayang wajah Arif yang tampan.
Kirana mengerutkan sedikit keningnya.
"Arif?" tanya Kirana, karena nama Arif sangat familiar baginya.
"Iya, Mas Arif. Pria tampan berkacamata."
"Hemzzz, nampaknya Mbak Nita menaruh hati pada Arif, si pria tampan berkaca mata ya?" goda Kirana dengan mentowel-towel pipi Nita yang sudah terlihat memerah.
"Ach Bu Dokter," balas Nita dengan malu-malu.
"Cieee ...."
"Tapi, mana mungkin Mas Arif menerima cinta dari seorang perempuan yang sudah ternoda?" Tiba-tiba raut wajah Nita kembali melukiskan kesedihan.
"Jika Arif memang pria yang baik, pasti dia akan menerima Mbak Nita apa adanya," hibur Kirana dengan menepuk pelan pundak perempuan malang itu.
"Iya, tapi saya tidak akan terlalu berharap. Bu Dokter, saya ingin dipanggil Nita saja. Jangan memakai MBAK!" pinta Nita.
"Baiklah, NITA. Kalau begitu, panggil Bu Dokter yang syantikkk ini, Mbak Kiran! Mulai saat ini, kita bersahabat." Kirana mengangkat jari kelingkingnya disertai seulas senyum, begitu juga dengan Nita. Dua jari kelingking mereka pun saling bertautan.
πΉπΉπΉ
__ADS_1
Sore sebelum senja menorehkan warna jingga, Kirana dan Nita berjalan-jalan di sepanjang bantaran sungai. Terlihat anak-anak sedang berlari berkejaran. Rencananya, malam ini Kirana akan menginap di rumah Nita, sedangkan rekan-rekannya yang lain, menginap di kediaman Darma.
Tiba-tiba kedua netra Kirana tertuju pada dua orang anak yang sedang berdiri di atas jembatan. Kedua anak itu saling memperebutkan bola. Kirana segera berlari ke arah mereka, karena khawatir jika salah satunya akan tercebur ke sungai. Namun terlambat, apa yang dikhawatirkan Kirana telah terjadi. Salah seorang anak yang bernama Alif, benar-benar tercebur ke sungai.
"Alifffff," teriak para warga yang melihat Alif tercebur.
Kirana menitipkan ponselnya pada Nita. Dan berusaha menolong Alif, dengan menceburkan diri ke sungai.
BYURRR
"Dokter Kiran....," teriak Nita.
Semua orang terkejut mendengar teriakan Nita.
Kirana berenang dan berusaha menggapai tangan mungil Alif, seorang anak kecil yang masih berusia empat tahun.
Karena terlalu bahagia, Kirana terlupa untuk segera menjauhi tepi sungai. Tiba-tiba air sungai dari arah utara mengalir sangat deras. Airnya meluap sampai ke tepi sungai. Kirana tidak berhasil menyelamatkan diri dari derasnya terjangan air sungai, karena kakinya terpeleset. Tubuh Kirana pun terbawa arus sungai. Malaikat tak bersayap itu berusaha melawan arus dengan berenang, namun gagal.
Nita dan semua warga yang melihatnya, sontak berteriak histeris.
"Dokter Kirannnnn...."
Beberapa warga berusaha menggapai tubuh Kirana yang sudah terlihat lemas dengan sebatang bambu, namun tetap saja gagal.
Salah seorang warga segera menelepon tim SAR dan menghubungi ketua RW.
Nita menangis tersedu-sedu, tubuhnya lunglai. Hanya doa yang dapat ia panjatkan untuk keselamatan Kirana.
"Ya Robb, selamatkanlah Dokter Kiran. Berikanlah perlindunganMu dan berikan ia kesempatan untuk hidup, karena Dokter Kiran seorang wanita berhati mulia. Dialah malaikat tak bersayap."
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉ
Readerssss
Mungkinkah Kirana dapat terselamatkan? Bagaimana reaksi Abimana ketika mendengar kabar bahwa istrinya terbawa arus sungai???
Ikuti episode selanjutnya!!!!!! π©π©π©
Catatan:
Mohon maaf, episode sebelumnya author revisi sedikit πππ
Balai desa diganti dengan rumah ketua RW.
Kepala desa diganti dengan ketua RW atau Bapak Darma ππ , karena Kirana bertugas di perkampungan yang letaknya di bantaran sungai, bukan di pedesaan. Author khilaf karena ngetiknya sambil merem, ech ngantukππ
Tinggalkan like ya readers π
Beri komentar boleh berupa saran atau kritik
Rate 5 βββββ
Beri Vote jika ingin memberikan dukungan pada author
Klik emote β€ untuk fav novel
Trimakasih dan happy reading ππ
__ADS_1