
Kirana bersiap-siap untuk membantu proses kelahiran bayi Diana, meski sebenarnya ia merasa enggan. Namun, tatkala melihat kondisi Diana yang sangat memprihatinkan, hati Kirana terketuk untuk membantu wanita yang pernah menorehkan luka dan kesedihan di kisah hidupnya.
"Bie, tetap hubungi rumah sakit dan sampaikan kepada pihak rumah sakit untuk segera mengirim mobil ambulance! Aku minta, sebaiknya Hubby jangan mendampingi Diana!" titah Kirana dengan berbisik.
"Baiklah Bund, aku akan segera menghubungi rumah sakit dan menunggu Bunda di luar. Bund, kuatkan hatimu!" Abimana mencium kening istrinya. Abimana mengerti bahwa tidak mudah bagi Kirana untuk membantu wanita yang sangat dibencinya.
"Iya Bie."
"Aku mencintaimu, Bunda."
"Aku juga Bie."
Abimana keluar dari dalam sel kemudian segera menghubungi rumah sakit terdekat untuk mengirimkan mobil ambulance.
.
.
"Ukhmmmmm ...." Terdengar suara rintihan Diana yang semakin keras. Halimah yang sedari tadi duduk di samping Diana, tak kuasa menahan kesedihan, kedua netranya nampak berkaca-kaca. Halimah terus melangitkan doa sembari menggenggam erat tangan Diana.
"Ada yang perlu saya bantu Bu Dokter?" tanya Nurul, menawarkan diri.
"Tolong siapkan baskom berukuran agak besar berisi air hangat!" titah Kirana sambil mengeluarkan beberapa alat medis.
"Baik Dok," balas Nurul. Nurul keluar dari sel tahanan kemudian bergegas menyiapkan baskom berisi air hangat.
Kirana memeriksa keadaan Diana kembali, sebelum memberikan intruksi. Dokter cantik itu juga memberi perintah kepada salah seorang penjaga lapas untuk menutupi sel tahanan dengan kain panjang, agar pada saat Diana melahirkan, tidak menjadi tontonan penghuni lapas yang lain.
"Baiklah Di, bersiaplah untuk mengejan! Atur nafasmu dan yakinlah bahwa kamu bisa melahirkan bayimu dengan selamat!"
"Iya Kiran. Ta-tapi aku ingin di dampingi oleh Pak Bima," pinta Diana dengan suaranya yang terdengar lirih.
"Maaf Di, aku tidak bisa mengabulkannya. Lebih baik berkonsentrasilah untuk melahirkan bayimu!"
Raut wajah Diana berubah sendu. Diana sangat ingin di dampingi oleh pria yang dicintainya pada saat melahirkan, namun sayang pria tersebut bukanlah kekasih apalagi suaminya.
"Iya Kiran," balas Diana tanpa semangat.
Tampak Nurul sudah datang membawa baskom berisi air.
"Sekarang, mulai mengejan ya Di, tarik nafas perlahan dan dorong ....!" Kirana mulai memberikan intruksi kepada Diana.
"Urggghhhhhh ...." Diana berusaha mengejan. Wajahnya memerah dan mengernyit. Diana merasakan sakit yang luar biasa. Wajah sayu Diana mulai dibasahi oleh peluh. Halimah mengusap peluh Diana dengan perlahan menggunakan tisu.
"Dorong lagi Di!"
"Urgggghhhhh ...."
"Atur nafas lagi dan dorong, kamu pasti bisa Di!"
"Argghhhhhh ...."
__ADS_1
"Sekali lagi Di, dorong! Kepala si kecil sudah mulai nampak!"
"Erghhhh ...." Diana seakan-akan hampir kehabisan nafas. Terlihat kedua netranya akan terpejam.
"Di, ayo jangan menyerah! Sebentar lagi bayimu akan keluar."
Halimah menepuk-nepuk pipi Diana agar wanita itu tetap dalam keadaan sadar. Diana berusaha untuk tetap membuka mata dan mulai mengejan lagi.
"Urghhhh ...."
"Bagus, sekali lagi Di!"
"Arghhhhh ...."
Kedua netra Kirana nampak berkaca-kaca melihat sesosok malaikat kecil yang terlahir ke dunia. "Alhamdulillah, bayimu sudah terlahir, Di." Kirana menarik bayi mungil itu kemudian mulai menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan.
"Oe... oe.... oe...." Terdengar suara tangisan bayi yang sangat keras.
Buliran bening mulai membasahi wajah Diana tatkala mendengar tangisan bayinya.
"Di, bayimu berjenis kelamin laki-laki. Aku akan membersihkannya terlebih dahulu."
"Trimakasih Kiran," ucap Diana lirih.
Kirana hanya membalas ucapan Diana dengan menganggukan kepalanya.
Kirana segera memotong tali pusar bayi Diana, sebelum membersihkannya.
.
.
"Kiran, berilah nama putraku Karan Putra Abima!" pinta Diana. Tubuh wanita itu terlihat semakin lemah.
"Baiklah Di. Insya Allah, sebentar lagi mobil ambulance akan segera tiba untuk membawamu ke rumah sakit. Tubuhmu semakin lemah Di. Aku yakin saat ini kamu sedang mengalami stres." Kirana mendekatkan baby Karan pada Diana.
"Iya, aku merasa hidupku sudah tidak berguna lagi. Ayah dari bayi yang aku lahirkan tidak mau bertanggungjawab. Apalagi, papa sudah tidak menganggapku sebagai putrinya." Tubuh Diana berguncang hebat, deraian air mata semakin banyak tertumpah.
"Bersabarlah Di! Aku yakin, kelak ayah dari bayimu pasti akan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Om Anggara juga akan terketuk hatinya bila melihat pangeran kecilmu yang berwajah tampan." Kirana berusaha membesarkan hati Diana.
"Di, sudah saatnya melakukan IMD. Biarkan putramu mencari putin* bundanya sendiri!" Kirana menaruh baby Karan di dada Diana.
Diana merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan. Melihat seorang bayi kecil yang sedang berusaha mencari putin*.
Baby Karan menghisap putin* bundanya. Kebahagiaan Diana pun semakin bertambah.
Nurul dan Halimah yang masih duduk di samping Diana, merasa terharu melihat Diana dan bayinya.
Halimah menyeka jejak air mata yang membasahi wajah Diana.
Perlahan, kedua netra Diana terpejam. Bibirnya terhias oleh senyuman.
__ADS_1
"Di, Diana." Kirana menepuk-nepuk pipi Diana.
"Di, sadarlah!" Kirana terus berusaha menyadarkan Diana.
Kirana mengangkat baby Karan kemudian memberikannya kepada Nurul sebelum berusaha menyadarkan Diana kembali.
"Di, buka matamu!" pinta Kirana sambil memeriksa keadaan Diana. Kirana terus melakukan segala cara yang ia mampu, agar nyawa Diana dapat tertolong.
Peluh mulai bercucuran membasahi wajah cantik Kirana. Tubuhnya serasa lemas, tatkala memastikan bahwa Diana sudah tak bernyawa.
TES
Setetes air bening mulai keluar dari kedua sudut netra Kirana.
"Apa yang terjadi pada Diana, Bu Dokter?" tanya Halimah. Raut wajahnya diliputi oleh kekhawatiran.
"Di-Diana sudah meninggal dunia," jawab Kirana dengan suranya yang terdengar lirih.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap Nurul dan Halimah. Kedua wanita itu sudah tidak mampu lagi membendung air mata yang tertumpah.
Kirana menutupi tubuh Diana dengan kain panjang.
"Mbak, tolong beritahu keluarga Diana, bahwa Diana sudah meninggal dunia!" titah Kirana kepada Nurul.
"Ba-baiklah Bu Dokter. Saya akan segera menghubungi papa Diana." Nurul berdiri, kemudian menyerahkan baby Karan kepada Halimah sebelum melangkah pergi.
.
.
Mobil ambulance yang akan membawa Diana ke rumah sakit telah tiba. Para medis segera mengangkat tubuh Diana yang sudah tak bernyawa untuk di masukan ke dalam mobil ambulance.
"Bie."
Abimana memeluk tubuh istrinya dengan erat seraya memberi ketenangan. Kirana membalas pelukan suaminya.
"Bie, aku tidak berhasil menyelamatkan nyawa Diana," sesal Kirana.
"Apa yang terjadi pada Diana sudah menjadi kehendak-Nya. Bunda sudah berusaha dengan maksimal. Bunda sosok wanita yang hebat. Aku bangga padamu, Bund." Abimana mencium pucuk kepala Kirana.
"Ma-maaf Bu Dokter, bagaimana nasib bayi Diana? Siapa yang akan merawatnya?" tanya Halimah ragu.
Abimana dan Kirana mengurai pelukan. Mereka berdua nampak berpikir. Keduanya masih belum yakin, bila Anggara akan bersedia merawat bayi yang telah dilahirkan oleh Diana.
Tetiba terdengar suara seorang pria. "Saya yang akan merawatnya."
🌹🌹🌹🌹
Readers, kira-kira siapa yang bersedia merawat baby Karan? Jawabannya next episode ya, Insya Allah. Mohon maaf jika ada typo atau salah ketik 😅😅🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak like agar author tetap bersemangat. Syukur-syukur ada yang berkenan memberikan vote untuk mendukung karya author.
__ADS_1
Trimakasih dan happy reading ❤❤❤