Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Perpisahan


__ADS_3

Seusai pemakaman Diana, Anggara harus rela berpisah dengan Vano, Halimah dan Karan. Vano dan Halimah kembali ke lapas, sedangkan Karan mulai tinggal bersama Panut beserta istri.


.


.


Saat ini mereka berada di kediaman Anggara. Vano dan sang papa saling berpeluk. Meski serasa berat untuk berpisah, namun kewajiban untuk menyelesaikan masa hukuman masih menanti.


"Pa, jaga diri Papa! Insya Allah, tiga tahun lagi kita akan berkumpul kembali," ucap Vano sambil mengurai pelukannya.


"Iya, Van. Semoga masa hukumanmu dan Halimah segera selesai, agar kalian bisa menggantikan Diana sebagai orang tua bagi Karan. Alhamdulillah, masih ada orang baik yang bersedia membantu kita, merawat dan menjaga Karan sampai masa hukuman kalian selesai. Papa yakin Panut adalah orang baik. Pribadinya sudah dapat terlihat dari raut wajah yang selalu memancarkan ketenangan dan tutur kata yang teramat sopan," balas Anggara disertai seulas senyum. Kedua netranya nampak berkaca-kaca.


"Iya Pa. Vano juga merasa seperti itu. Semoga Karan tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat dan tentunya saleh, tidak seperti Vano," Vano tersenyum getir.


"Sudahlah Van, sebenarnya papa yang salah karena dari kecil tidak pernah mendidik kamu dan Diana dengan mengajarkan ilmu agama. Papa minta maaf, karena selama ini belum bisa menjadi orang tua yang terbaik untuk kalian!"


"Tidak Pa. Selama ini, Papa sudah menjadi seorang papa yang baik. Vano yang seharusnya meminta maaf, Pa. Selama ini, Vano selalu mengecewakan Papa."


"Van, kita buka lembaran baru. Jangan meniru cara Papa mendidik putra-putrimu kelak!"


"Iya Pa...." Suara Vano tercekat. Ia merasa teramat sedih harus kembali berpisah dengan papanya. Vano mencium punggung tangan Anggara.


Halimah berjalan mendekat ke arah Anggara dan Vano berdiri. Halimah berpamitan kepada papa mertuanya dan memberikan penghormatan dengan mencium tangan Anggara.


Tibalah saatnya Vano dan Halimah saling berpamitan. Mereka meminta waktu sebentar, untuk berbincang. Vano mengajak istrinya ke ruang keluarga, dimana hanya ada dia dan Halimah.


"Mah, trimakasih telah bersedia menjadi istri dari pria pendosa ini." Vano mengusap pipi istrinya dengan lembut.


"Mas, aku yang seharusnya berterimakasih, karena seorang tuan muda bersedia memperistri seorang gadis desa yang yatim piatu." Halimah menatap manik mata suaminya. Begitu juga dengan Vano, ia menatap manik mata Halimah. Kedua netra mereka pun saling mengunci.


"Mah, semoga tiga tahun lagi kita bisa bertemu kembali. Aku akan berusaha menjadi suami yang terbaik untukmu. Meski pernikahan kita tidak dilandasi dengan perasaan cinta, namun ketika melihatmu, hati kecilku mengatakan bahwa kamulah wanita yang terbaik untukku."


"Begitu juga denganku, Mas. Mas Vano adalah jawaban dari setiap pintaku, di sepertiga malam, meski kita belum saling mengenal."


Vano mencium kening Halimah.


"Mah, bolehkah aku menciu* bibir istriku ini?" Vano mengusap bibir ranum istrinya. Nampak rona merah menghiasi pipi Halimah.


"Boleh, Mas," jawab Halimah dengan malu-malu.

__ADS_1


Vano melingkarkan tangannya pada pinggang ramping istrinya, sedangkan Halimah mengalungkan tangannya di leher sang suami.


Vano mulai menempelkan bibirnya pada bibir ranum Halimah. Kedua bibir mereka saling berpagut, seolah tidak ingin terlepas. Perlahan keduanya saling melepaskan pagutan bibir, setelah Halimah seolah kehabisan oksigen.


Vano tertawa kecil melihat ekspresi Halimah setelah mereka melakukan first kiss. Sangat terlihat jelas, bahwa Halimah seorang gadis desa yang polos.


Tetiba Vano teringat Kirana, karena dokter cantik itulah wanita pertama yang diciu* olehnya. Bibir Kirana bagaikan candu. Vano pun segera menepis ingatannya tentang Kirana. Vano menyadari apa yang telah dilakukannya terhadap Kirana adalah suatu dosa besar.


"Mah, jaga dirimu ya!" pinta Vano sebelum mereka berpisah.


"Mas juga. Aku akan bersabar menanti saatnya tiba. Insya Allah kita akan bertemu kembali."


.


.


Anggara mencium kening Karan sebelum bayi mungil itu dibawa oleh Panut.


"Cucu kakek yang tampan, jangan nakal dan jangan rewel ya! Karan harus menurut pada bapak dan ibu yang merawat dan mengasuhmu! Tumbuhlah menjadi anak yang saleh, Ran! Agar mama Diana bisa mendapatkan kebahagiaan di alam akherat." Anggara mengusap pipi cucunya.


"Pak Panut, saya percayakan Karan kepada bapak beserta istri. Mohon diterima sejumlah uang yang saya berikan, untuk membeli keperluan Vano dan sebagai tanda ucapan terimakasih dari kami sekeluarga!" Anggara menyerahkan sejumlah uang kepada Panut.


"Saya akan sangat senang, bila Pak Panut bersedia menerimanya. Jika Pak Panut menolak pemberian saya, maka saya akan mencari orang lain untuk merawat Karan," ancam Anggara agar Panut bersedia menerima sejumlah uang pemberiannya.


Dengan terpaksa, pada akhirnya Panut bersedia menerima sejumlah uang pemberian Anggara. Pria paruh baya itu merasa lega dan mengulas senyum tatkala Panut bersedia menerima pemberiannya.


🌹🌹🌹


Senja menorehkan warna jingga, nampak seorang wanita tengah duduk di taman belakang dengan mengelus perutnya yang kian membesar. Wanita itu adalah Asti. Ya, Asti tengah mengandung buah cintanya dengan Arif. Kandungan Asti sudah menginjak usia tujuh bulan, sama seperti Alya.


"As, kog melamun?" Adam mendudukan pantatnya bersebelahan dengan Asti.


"Eh, Mas Adam. Asti tidak melamun. Asti sedang melihat guratan warna jingga di langit sambil menunggu Mas Arif," balas Asti disertai senyuman.


"Ohhh, memang Arif sedang ke mana As?"


"Mas Arif sedang pergi ke mini market, membelikan camilan untuk Asti."


Adam melihat perut Asti yang nampak ada gerakan-gerakan kecil.

__ADS_1


"Dedeknya menendang-nendang As?" tatapan Adam tidak beralih dari perut Asti.


"Hhhehe iya Mas. Gerakannya lincah sekali." Asti tertawa kecil menampakan gigi gingsulnya.


"Betapa bersyukurnya Arif mendapatkan seorang istri sepertimu, As. Memang benar apa kata orang, jodoh adalah cerminan dari diri kita sendiri. Arif dan kamu memiliki pribadi yang hampir sama. Sedangkan aku .... Aku bukanlah sosok pria yang sempurna seperti Arif." Pandangan kedua netra Adam beralih menatap langit.


"Mas Adam sosok pria yang baik. Insya Allah, kelak Mas Adam akan mendapatkan jodoh seorang wanita yang baik juga. Merayulah kepada Sang Maha Cinta di sepertiga malam! Dia akan mendengar segala pinta hamba-Nya yang merayu dengan sepenuh hati." Ucapan Asti terdengar bijak.


"Iya As, aku akan berusaha bangun di sepertiga malam dan merayu kepada-Nya. Sayang ya As, Hana masih kuliah." Adam tertawa kecil. Hana adalah adik bungsu Alya dan Asti.


"Iya Mas," jawab Asti disertai senyuman.


"Hana sudah mempunyai pacar, As?" tanya Adam menyelidik.


"Hana tidak suka berpacaran, Mas."


Adam mengerutkan sedikit keningnya. "Kenapa, As? Di jaman modern seperti saat ini, mana ada orang yang tidak suka berpacaran."


"Ada, Mas. Buktinya banyak. Ada Mas Ilham dengan Mbak Suci. Mas Raikhan dengan Mbak Alya. Mas Abi dengan Mbak Kiran. Aku dengan Mas Arif." Asti mengembangkan senyuman.


Adam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum nyengir.


"Mas Adam ingin melakukan ta'aruf dengan Hana?" tanya Asti tiba-tiba.


"Hah...." Adam terkesiap mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Asti.


🌹🌹🌹🌹


Ehemmmm, ada yang mau daftar menjadi calonnya Adam? hhhehe. 😁😁😁


Alhamdulillah, ternyata sampai juga ICPA di episode ke 100. Awalnya author tidak yakin bahwa ICPA akan sejauh ini. Sebenarnya author hanya akan mengetik kisah Abimana dan Kirana tidak lebih dari 100 episode. Namun atas kehendak Allah, episode ICPA Insya Allah akan melebihi 100 episode. 😇


Trimakasih teruntuk para readers dan sobat author yang selalu mendukung ICPA. Semoga apa yang author ketik dapat bermanfaat bagi para pembacanya. 😇😇🙏🙏🙏


Salam sayang selalu 😘😘😘


Kunjungi karya baru author yang berjudul Mantan Jadi Besan ya Sob ❤🙏


__ADS_1



__ADS_2