Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Perasaan Diana


__ADS_3

Waktu yang bergulir, terkadang mampu merubah diri seseorang. Entah perubahan yang sementara ataupun kekal. Bagaimana dengan perubahan pribadi seorang Diana? Hanya waktu yang mampu menjawabnya....


.


.


Siang ini, Diana merebahkan diri di lantai sel tahanan dengan menatap langit-langit. Sedangkan Halimah, seperti biasa menggunakan waktu luang untuk membaca kalam cinta serta memahami maknanya.


Sesekali Diana nampak tersenyum kala terbayang wajah seseorang yang selalu dikaguminya.


Usai membaca kalam cinta, Halimah menoleh ke arah Diana. Gadis itu nampak sedikit mengerutkan keningnya tatkala melihat Diana.


"Di, apa yang membuatmu tersenyum sendiri?" tanya Halimah ingin tau.


"Ohhh ... mmmm, aku sedang membayangkan wajah Pak Bima, Mah," jawab Diana tanpa ragu.


Kedua netra Halimah membulat sempurna.


"Apa? Kamu masih saja membayangkan suami orang?"


Diana mengulas senyum disertai anggukan pelan.


"Di, aku sudah menasehatimu berulang kali, lupakan Pak Bima! Berubahlah, Di!"


"Mah, aku sudah berusaha merubah pribadiku dan bertaubat. Namun, aku benar-benar tidak bisa melupakan Pak Bima, bahkan perasaanku terhadapnya tetap sama. Pak Bima pria tertampan yang tidak bisa ku takhlukan."


Halimah hanya bisa mengelus dada mendengar pengakuan Diana. Halimah sempat berpikir, setelah mengandung anak Alden, perasaan Diana pada Abimana sudah beralih, namun nyatanya tidak.


"Di, bukankah kamu sedang mengandung anak Alden? Aku pikir, perasaanmu telah beralih pada Alden."


"Alden hanya cinta sesaat. Lebih tepatnya, pria itu hanya sekedar menjadi tempat melampiaskan hasrat. Apalagi, dia menunjukan sisi buruknya, tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat. Perasaanku terhadap Alden dan Adam, tidak sebesar rasa yang tersimpan untuk Pak Bima, Mah."


Halimah menatap dengan intens manik mata Diana.


"Di, sadarlah bahwa perasaanmu terhadap Pak Bima, hanya akan membawamu larut ke dalam impian semu. Bahkan ambisi untuk memiliki Pak Bima, akan menuntunmu kembali pada dosa besar yang pernah kamu lakukan."


"Iya Mah, aku sadar akan hal itu. Untuk saat ini, aku benar-benar belum bisa melupakannya." Diana membalas tatapan Halimah.


.


.


Di sel tahanan lain, nampak Ponirah sedang menuliskan sesuatu pada selembar kertas. Entah apa yang sedang ditulisnya....????


🌹🌹🌹


Semilir angin yang bertiup, menerbangkan guguran bunga amarillis, seakan menyambut kedatangan Ilham beserta rombongan. Mereka datang ke desa W untuk mengunjungi Abimana, Kirana dan baby Keanu.


"Asalamu'alaikum," Ilham beserta rombongan yang terdiri dari Ridwan, Ratri, Hasan dan Arini mengucapkan salam sesampainya di teras rumah Sindy.


"Wa'alaikumsalam. Bang Ilham, Om, Tante....," balas Sindy diserta senyuman yang mengembang. Sindy mencium punggung tangan para tamunya kecuali Ilham, secara bergantian.


"Di mana Abimana, Kirana dan baby Keanu, Sin?" tanya Ilham mewakili rombongan.


"Mereka sedang berada di dalam kamar, Bang. Mari silahkan masuk! Saya panggilkan Abimana dan Kirana."


"Trimakasih Sind," ucap Ratri disertai seulas senyum.

__ADS_1


"Sama-sama, Te." Sindy dan para tamunya berjalan menuju ruang tamu.


Setelah mempersilahkan para tamunya duduk, Sindy bergegas menemui Abimana dan Kirana untuk memberi tau bahwa keluarga mereka datang berkunjung. Sedangkan Ilham beserta rombongan mendaratkan pantat mereka pada kursi panjang yang terbuat dari bambu.


.


.


"Ran, boleh aku masuk?" tanya Sindy sesampainya di depan kamar.


"Masuklah Sind!" jawab Abimana mewakili Kirana, dari dalam kamar.


CEKLEK


Sindy membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Ternyata di dalam kamar hanya ada Abimana dan Keanu.


"Bim, di mana Kiran? Kenapa kamu yang menggantikan popoknya Keanu?" Sindy nampak terkejut ketika mendapati Abimana yang sedang mengganti popok Keanu.


"Ohhh, Kiran sedang mandi. Ada apa Sind?" tanya Abimana sambil merapikan popok putranya.


"Bang Ilham datang beserta orang tua kalian."


"Baiklah Sind, aku akan menemui mereka." Sindy ke luar dari kamar sahabatnya diikuti oleh Abimana. Ayah muda nan tampan, menggendong putranya dengan sangat luwes.


.


.


Melihat Abimana yang berjalan mendekat ke arah mereka dengan menggendong baby Keanu, Ilham beserta keluarga seketika berdiri.


"Bim, selamat, selamat, selamat atas kelahiran putra kalian," ucap Ilham. Kedua netranya menampakan binar kebahagiaan. Begitu juga dengan kedua orang tua dan mertua Abimana. Semua yang berada di ruang tamu, diliputi kebahagiaan kala melihat baby Keanu.


Kedua netra Ratri nampak berkaca-kaca ketika menerima baby Keanu. Diciumnya pipi gembul baby Keanu dengan lembut seraya mencurahkan rasa cinta.


"Sehat, sehat terus ya Sayang. Loh mana bundanya, Bim?"


"Sedang mandi Bu."


"Owhhhh, bagaimana proses kelahiran baby Keanu, Bim?"


"Alhamdulillah normal Bu."


"Alhamdulillah," ucap Ratri dan yang lainnya hampir bersamaan.


.


.


"Bang Ilham, Ayah, Ibu...," sapa Kirana. Kedua netranya menampakan binar kebahagiaan.


Arini langsung memeluk menantunya. Kirana pun membalas pelukan ibu mertua.


"Selamat ya Sayang. Trimakasih telah memberikan kami cucu yang sangat tampan."


"Sama-sama Bu. Kiran juga teramat berterimakasih karena Ibu sudah melahirkan seorang putra yang tampan dan teramat perfect, sehingga mampu menjadi seorang suami dan ayah yang siaga serta selalu sabar menghadapi Kiran."


Perlahan Arini dan Kiran mengurai pelukan. Kirana mencium punggung tangan Hasan dan Ridwan secara bergantian.

__ADS_1


"Bang Ilham."


"Selamat adek comel." Kirana dan Ilham saling berpeluk singkat.


"Di mana Mbak Suci dan baby Nissa, Bang?" Kirana mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan namun yang ia cari tidak ada.


"Mereka berdua tidak ikut, Dek. Kasihan Nissa masih terlalu kecil bila diajak berpergian jauh."


"Owhhhh. Bang, kapan kita adakan aqiqah untuk Keanu?"


"Bagaimana jika dua hari lagi, Dek."


"Baiklah Bang. Tapi, sepertinya Kiran dan Keanu belum bisa ikut kembali ke kota. Mungkin setelah Keanu berusia dua bulan, Kiran baru berani mengajaknya pulang."


"Iya Dek. Sebaiknya kalian tinggal di desa ini untuk sementara waktu. Kasihan Keanu, perjalanan ke kota dari desa W memakan waktu yang cukup lama."


"Heem Bang."


Mereka pun kembali duduk dan berbincang.


.


.


Sindy berjalan dengan membawa nampan yang berisi sepuluh cangkir teh nasgitel. Setelah meletakannya di atas meja, Sindy mempersilahkan para tamu untuk menikmati segarnya teh buatannya. Selain teh nasgitel, Sindy menyediakan camilan berupa manggleng dan rengginang yang sudah tertata di atas meja.


"Asalamu'alaikum." Terdengar ucapan salam dari luar rumah.


"Wa'alaikumsalam," balas Sindy sambil berlari kecil menghampiri asal suara.


Sindy menarik kedua sudut bibirnya hingga nampaklah senyuman yang teramat manis.


"Beb...."


"Hai Sayang, ini bunga untukmu." Fabian memberikan Sindy buket mawar putih.


"Achhhhh so sweet.... Trimakasih Beb." Tangan Sindy nampak gemetar menerima buket bunga mawar putih, wajah cantiknya bersemu merah tatkala Fabian menatap dengan tatapan penuh cinta.


"Yang, mawar putih atau white rose adalah simbol cinta sejati yang bermakna kesetiaan, ketulusan dan penyatuan hati. Jadi ...,"


"Jadi apa Beb?" Jantung Sindy berdegup sangat kencang.


"Jadi, kita nikah yuk!! Aku ingin segera memiliki malaikat kecil," jawab Fabian dengan sungguh-sungguh.


"Hayuuuukkkkk.... Bang!"


🌹🌹🌹🌹


Ehemmmm, semoga masih setia mengikuti ICPA ya readers. Trimakasih dan happy reading... 😘😘😘


Eitzzzz tetap semangati author dengan meninggalkan like 👍


Komentar


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Klik emote ❤untuk fav novel

__ADS_1


Vote atau hadiah jika berkenan memberi dukungan kepada author. ❤❤❤🙏🙏🙏



__ADS_2