
"Papa...." Diana memeluk papanya. Anggara pun membalas pelukan putri yang sangat dirindukan meski telah sering kali mengecewakannya.
"Di... Bagaimana kabarmu, Sayang?" Anggara sedikit merenggangkan pelukan.
Diana tertunduk, kedua sudut netranya tak mampu lagi membendung air mata kesedihan.
Anggara mengangkat dagu Diana.
"Apa yang terjadi? Katakan pada Papa?"
"Hiks ... hiks, Pa...."
"Kenapa kamu menangis, hemmm?"
"Pa, Diana ha-hamil. Hiks ... hiks."
Kedua netra Anggara membulat sempurna. Pria paruh baya itu terkesiap mendengar ucapan putrinya.
"Apa....? Siapa yang melakukannya, jawab Di!" Anggara mencengkram pundak Diana dan mengguncang-guncangkannya.
Tangis Diana pun pecah, ia tak sanggup menjawab pertanyaan papanya. Entah apa yang akan dilakukan oleh Anggara setelah mengetahui kebenaran bahwa putrinya telah melakukan dosa besar dengan salah seorang penjaga lapas.
"Pa, huuhuuuu.... Maafkan Diana!" Hanya itu yang dapat Diana ucapkan. Seolah bibir Diana masih sulit untuk mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Perlahan Anggara melepaskan cengkraman tangannya dari pundak Diana.
"Duduk!" perintah Anggara dengan meninggikan intonasi suaranya. Marah, kecewa, sedih berbaur menjadi satu hingga membuat Anggara tak mampu meredam emosi.
Diana mendaratkan pantatnya di kursi disusul oleh Anggara.
Keduanya kini duduk dengan saling berhadapan. "Cepat, katakan siapa yang telah menghamilimu!" Kedua netra Anggara nampak memerah karena amarah.
"Pa, yang melakukannya adalah Alden, hiks ... hiks," jawab Diana dengan terisak. Dihapusnya tetesan air bening dengan jemari tangan.
"Siapa Alden?" tanya Anggara, masih dengan intonasi suara yang tinggi.
"Di-dia mantan penjaga lapas." Diana tertunduk, ia begitu takut melihat ekspresi wajah papanya yang sedang dibakar api amarah.
"Brengse*...." teriak Anggara karena amarah yang semakin meluap.
BRAK
Anggara menggebrak meja yang ada di hadapannya.
"Di mana si brengse* itu sekarang, hah?" Anggara menatap dengan tajam kedua manik mata Diana.
"Ka-kata salah seorang rekannya, Alden sedang berada di Kalimantan."
"Papa akan mencarinya di manapun dia sembunyi." Tangan Anggara mengepal dengan kuat.
__ADS_1
"Pa, Alden pergi ke Kalimantan karena ingin rujuk dengan istrinya." Perlahan Diana menengadahkan wajahnya yang terlihat sendu. Air bening mulai menetes dari kedua sudut netranya kembali.
TES
"Apa? Jadi dia sudah beristri? Kamu.... Arghhh." Anggara mengusap wajahnya dengan kasar.
"Pa, pertama kali akan melakukannya, Alden berkata bahwa dia seorang duda... Hiks ... hiks."
"Dan kamu mau melayaninya, hah?"
"Awalnya Diana berusaha menolak Pa, tapi ...."
"Tapi kemudian kamu merasakan kenikmatan dan dengan senang hati melayaninya? Dasar wanita muraha*. Setelah apa yang terjadi kamu masih belum juga sadar Di...."
"Maaf Pa.... Hiks ... hiks."
"Papa sangat kecewa dan marah padamu, Di. Andai dulu kamu tidak melakukan kebodohan, pasti hidupmu sudah bahagia bersama Adam."
"Maaf Pa, Di-diana menyesal."
"Papa tidak akan pernah menganggap anak yang kamu kandung, sebagai cucu Papa. Bahkan, mulai detik ini jangan lagi memanggilku, papa! Aku sudah tidak mempunyai seorang putri." Anggara beranjak dari duduk dan bersiap untuk melangkahkan kaki.
"Pa...." Diana menjatuhkan dirinya dan bersimpuh dengan memegang kaki Anggara.
"Maafkan Diana! Maaf Pa!"
Pria paruh baya itu pun segera pergi meninggalkan putrinya yang masih saja duduk bersimpuh dan menangis.
"Pa.... Huuhuuu...."
"Ayo berdiri! Kembalilah ke dalam sel!" perintah Nurul sembari membantu Diana berdiri.
🌹🌹🌹
Setelah pergi meninggalkan Diana, Anggara bergegas mengunjungi putranya, Vano.
.
.
Kini Anggara dan Vano duduk berhadapan.
"Pa, apa yang terjadi? Mengapa raut wajah Papa nampak sendu?" Vano menggenggam tangan Anggara dan menatap manik mata papanya yang telah basah.
"Di-Diana...." Rasa sesak di dada karena amarah, kecewa dan kesedihan yang mendalam membuat Anggara seakan sulit untuk berucap.
"Apa yang terjadi pada Diana, Pa?"
__ADS_1
"Diana ha-hamil."
Kedua manik mata Vano membulat sempurna. Ia terkesiap mendengar apa yang telah diucapkan oleh papanya.
"Diana hamil?"
"Iya, adikmu hamil. Papa marah, kecewa dan sangat sedih dengan apa yang telah diperbuat oleh adikmu, Van," jawab Anggara dengan lirih.
"Tidak, ini tidak mungkin kan Pa? Bagaimana Diana bisa hamil? Diana berbuat zina dengan siapa, Pa?"
"Van, sepertinya adikmu belum juga menyadari semua kesalahan dan dosa-dosa yang telah ia perbuat, selama tinggal di balik jeruji besi. Diana kembali melakukan kesalahan dengan melakukan dosa besar. Diana melakukannya dengan salah seorang penjaga lapas."
"Hah, ma-mana mungkin? Arggghhhhhh ... Diana." Vano emosi, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Apa yang dirasakan oleh Vano sama seperti Anggara. Marah, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu. Vano teramat kecewa dengan adiknya yang belum juga bertaubat.
"Pa, apa pria brengse* itu mau bertanggung jawab?"
Anggara menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Sepertinya tidak Van, pria itu pergi ke Kalimantan untuk rujuk dengan istrinya."
"Hah, dasar pria brengse*. Papa harus mencari pria itu, Pa!"
"Tidak, Papa tidak akan mencarinya. Papa sudah teramat malu dengan apa yang telah diperbuat oleh Diana. Papa tidak akan menganggap anak yang dikandung Diana sebagai cucu Papa. Bahkan, Papa tidak lagi menganggap Diana sebagai putri."
Vano tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Anggara. Anggara yang dikenal oleh Vano adalah sosok papa berjiwa besar dan selalu berlapang dada dengan kelakuan buruk putra-putrinya. "Pa, tapi kasihan Diana. Sampai kapanpun, Diana adalah putri Papa."
"Tidak, Van. Papa sudah teramat bersabar selama ini. Karena Diana-lah, mama kalian meninggal. Mama kalian meninggal sesaat setelah melahirkan Diana. Hidup Papa hancur setelah kepergiannya. Papa kecewa karena pengorbanan mama kalian sia-sia. Putri yang pernah dilahirkannya, kini tumbuh menjadi seorang wanita muraha* dan berakhlak buruk."
Hening....
Vano dan Anggara tenggelam dalam kesedihan.
Entah apa yang akan terjadi pada Diana, jika sang papa benar-benar sudah tidak menganggapnya sebagai anak. Vano, mungkinkah dia juga akan seperti Anggara. Tidak menganggap Diana sebagai adik.
Nasib Diana semakin malang. Apa yang kini telah terjadi pada Diana, hanyalah sebagai bentuk rasa kasih sayang dari-Nya, agar Diana menyadari kesalahan dan dosa-dosa yang telah ia perbuat. Selama jantung masih berdetak, selama itu pula pintu taubat masih terbuka.
🌹🌹🌹🌹
Wahai Tuhan, aku tak layak ke surga-Mu. Namun aku juga tak sanggup untuk ke neraka-Mu. Dosa-dosaku, tak terhitung setiap waktu. Ya Illahi, terimalah taubat hamba-Mu.
Readers, sebenarnya author kasihan dengan nasib Diana di kemudian hari. Semoga apa yang terjadi pada Diana, menjadi sebuah pelajaran hidup agar kita sebagai seorang wanita lebih bisa menjaga kesucian dan harga diri. ❤❤❤
Trimakasih bagi readers dan sobat author yang masih setia mengikuti ICPA. ❤❤❤
Jangan lupa untuk memberi semangat kepada author dengan meninggalkan jejak like 👍
Happy reading 😘😘😘
__ADS_1