
Air langit masih membasahi bumi ketika Kirana berada di dalam mobil yang ia sewa untuk pergi ke desa W. Sebelum sampai ke desa W, Kirana menghubungi Sindy terlebih dahulu.
📞 "Asalamu'alaikum, Sindy...."
📞 "Wa'alaikumsalam, maaf dengan siapa ya?"
📞 "Kamu nggak mengenali suaraku Sind? Aku Kirana."
📞 "Ya Allah Ran, maaf. Kenapa kamu ganti nomor, hemmm?"
📞 "Ceritanya panjang, Sind. Nanti begitu sampai di desa W, aku akan menceritakan semuanya."
📞 "Loh, jangan bilang saat ini kamu sedang dalam perjalanan menuju ke desa W!"
📞 "Iya Sind, aku memang sedang dalam perjalanan ke desa W."
📞 "Kangen sama akuhhhhh ya? Hhhehe..."
📞 "Heem, Sind. Selain kangen, aku juga ingin tinggal di desa W bersamamu."
📞 "Hehhhh, terus bagaimana dengan suamimu yang tampannya mirip si Hito?"
📞 "Sind, aku sudah bilang kan? Nanti aku akan menceritakan semuanya setelah sampai di desa W, mengerti?"
📞 "Ya dech, mengerti Dokter Kirana."
📞 "Sind, sharelock lokasi rumah yang kamu tempati!"
📞 "Hadeccchhhh, meski aku sharelock, mobil nggak bisa masuk sampai ke sini, Ran. Jalan desa W belum beraspal, masih bebatuan. Banyak pengemudi mobil yang takut kalau ban mobil mereka bocor terkena bebatuan. Selain itu jalannya juga cuma muat untuk dilewati satu mobil, di kanan kiri jalan ditumbuhi pohon jati."
📞 "Yasudah, kamu jemput aku di mana Sind?"
📞 "Jalan masuk menuju ke desa W saja ya Ran! Di kiri jalan ada puskesmas, nanti aku tunggu di sana. Untuk menuju ke rumah yang aku tempati, kita jalan kaki lho, Ran."
📞 "Iya Sind. Aku sudah biasa jalan kaki, mendaki gunung pun aku kuat, hhhehe."
📞 "Iya, iya aku percaya Ran."
📞 "Sampai bertemu nanti, Sind."
📞 "Okay Ran..."
📞 "Asalamu'alaikum."
📞 "Wa'alaikumsalam, Kiran."
Setelah mengakhiri komunikasinya dengan Sindy via telepon, Kirana membuka galeri foto. Diusapnya foto Abimana dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Dada Kirana serasa sesak tatkala melihat foto sang kekasih yang ditinggalkannya. Kedua netra Kirana pun nampak berkaca-kaca.
"Bie, meski baru sebentar kita berpisah, aku sudah sangat merindukanmu. Bagaimana aku bisa melewati hari-hari tanpa ada dirimu di sisi?"
Di tempat yang berbeda, Abimana pun tengah memandangi foto Kirana. Kesedihan yang mendalam terpancar dari raut wajahnya.
__ADS_1
"Kiran, bagaimana aku bisa melewati hari-hari tanpa hadirmu di sisi? Baru sebentar kita berpisah, aku sudah sangat merindukanmu."
.
.
Sesampai di depan puskesmas yang dimaksud oleh Sindy, mobil yang Kirana sewa pun berhenti.
Kirana melepas seatbelt kemudian membuka pintu mobil dengan perlahan.
Tak lupa Kirana memberikan tips kepada sopir yang mengantarnya, sebelum ke luar dari mobil.
"Kiran....." Sindy langsung memeluk sahabatnya dengan erat. Kiran pun membalas pelukan Sindy.
"Sind, jangan panggil aku Kiran! Panggil aku, AYU!" pinta Kirana dengan berbisik.
"Loh kenapa?"
"Aku tidak ingin semua orang di desa W tau siapa diriku yang sebenarnya."
"Hemmm, baiklah. Kamu berhutang penjelasan kepadaku, Dokter Ayu." Keduanya perlahan melerai pelukan.
"Iya Sind.... Hhhhehe, meski sedikit aneh nama AYU mencerminkan wajahku ya Sind."
"Hisssshhhh, pedenya ruarrrr biasahhhh." Sindy mencebik.
"Aku ketularan Abi. Pedenya juga ruarrrr biasah, hhhehee."
"Sini aku bawakan tas punggungmu, Ay!"
"Asiaaapppp, kebetulan Sind. Aku juga sudah pegel." Kirana melepas tas punggungnya untuk diserahkan kepada Sindy.
"Okay Sind, makasih ya."
"Sama-sama Ay."
"Sind, saat kamu memanggilku Ay, malah seperti panggilan sayang yakkk.." Kirana terkekeh.
"Hemmmzzz, biar saja. Dari pada aku memanggilmu Yu, nanti dikirain memanggil Yu Tejo, Yu Karmo, Yu Mintho." Sindy tersenyum lebar kala mengabsent deretan nama ibu-ibu tukang gibah.
"Hahhhhaa, ya Allah Sind... Ternyata kamu masih seperti yang dulu ya. Asal berceloteh."
"Yachhhhh, kita kan sebelas dua belas, gesrek." Kirana dan Sindy pun tertawa. Meski masih diliputi perasaan sedih, namun dengan bertemu Sindy, kesedihan Kirana sedikit terobati.
Mereka berdua berjalan di atas tanah yang masih dipenuhi oleh batu-batu kapur yang berukuran kecil, karena jalanan di desa W belum berupa aspal. Butuh kehati-hatian saat berjalan, apalagi setelah hujan, jalan yang dilalui sangat licin.
"Nah, sudah sampai. Semoga kamu betah tinggal di sini Ay." Sindy dan Kirana tiba di depan rumah yang full terbuat dari kayu jati. Bentuknya pun sangat sederhana. Lantainya masih berupa tanah.
"Insya Allah aku akan betah, apalagi ada kamu." Kirana mengulas senyum.
"Mari masuk! Beristirahatlah dulu! Aku sudah persiapkan kamar untukmu Sob."
"Trimakasih, Sind." Keduanya pun memasuki rumah yang sangat sederhana itu.
Kirana mendaratkan pantatnya di atas kursi panjang yang terbuat dari bambu, begitu juga dengan Sindy. Ia duduk bersebelahan dengan sahabatnya setelah meletakan tas punggung.
__ADS_1
"Sind, aku ingin mandi. Badanku serasa lengket setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu."
"Mandilah Ay! Embernya sudah kupenuhi dengan air. Kalau di sini, kita harus mengambil air dengan cara menimbanya Ay. Tidak seperti di kota, tinggal pencet air pun akan langsung mengalir."
"Makanya tanganmu sekarang kekar Sind." Kirana tersenyum lebar sembari memegang lengan tangan Sindy.
"Haisssshhhh, sebentar lagi tanganmu juga akan kekar Ay." Sindy mencebik.
"Eh Sind, katanya di sini juga ada sendang."
"Ada, letaknya tidak jauh dari hutan. Biasa digunakan untuk mandi para warga. Di desa ini, tidak banyak warga yang sudah memiliki kamar mandi sendiri, Ay. Mereka harus berjalan ke sendang atau pun kerumahku dan rumah bapak kepala desa untuk menumpang mandi."
"Hemmm, kasihan juga ya."
"Iya, makanya mereka mandi sebelum matahari terbenam. Kalau kemalaman, wowwww bisa ditemani makhluk tak kasat mata mandinya, hhhehhee."
"Bisa-bisa malah ikut mandi ya makhluknya Sind..." Kirana terkekeh.
"Hhhhhhahaha, iya..."
"Yasudah, aku mandi dulu ya."
"Heem Ay. Aku antar ke kamarmu dulu. Semoga kamu bisa tidur nyenyak di kamar yang hanya berukuran kecil, tentu saja tidak seperti kamar yang selama ini kamu tempati."
"Nggak masalah Sind, kecil atau besar. Hanya saja...." Raut wajah Kirana berubah sendu.
"Hanya saja tidak akan ada suami yang menemanimu tidur kan?" Sindy menatap manik mata Kirana yang sudah nampak berkaca-kaca.
"Iya Sind, mulai saat ini aku harus membiasakan diri tidur tanpa suamiku."
"Kamu harus menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi Ay!"
"Iya Sind, nanti aku akan menceritakan semuanya kepadamu, setelah mandi."
Sindy dan Kirana beranjak dari duduk. Keduanya berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan Sindy untuk Kirana.
Kirana memasuki kamarnya yang baru. Kamar yang hanya berukuran kecil dengan tempat tidur yang terbuat dari bambu.
"Bie, semoga aku mampu hidup tanpamu..."
🌹🌹🌹🌹
Readersss, apa sebenarnya yang menjadi tujuan Kirana tinggal di desa W, selain pergi meninggalkan suaminya???
Tetap ikuti kisah cinta Abi dan Kiran, semoga tidak membosankan. 😅😅🙏🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak like
Komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Klik emote ❤ untuk fav. novel
Beri Vote atau hadiah jika berkenan
__ADS_1
Trimakasih dan happy reading ❤❤❤