
Suasana haru masih menyelimuti kediaman Rani. Shelly dan Rani masih terisak, begitu juga dengan Aulia, adik kandung Shelly dan Zain.
Netra Adam sudah memanas sedari tadi melihat pemandangan yang membuat hatinya tercubit. Adam merasa teramat bersalah pada Shelly dan keluarganya. Andai saja dulu ia tidak salah pergaulan ketika tinggal di LN, pasti Shelly pun tidak akan ikut terjerumus ke dalam lembah dosa.
Karena teramat cinta pada Adam, Shelly menuruti permintaan pria yang dicintainya dengan tinggal bersama di apartemen dan melakukan aktivitas selayaknya pasangan suami istri tanpa ikatan yang halal. Penyesalan selalu datang terlambat, kini tiba saatnya Adam mempertanggung jawabkan kesalahan di masa lalu.
Adam duduk bersimpuh di hadapan Rani. Dengan menahan rasa sesak di dalam dada, Adam mengucap kata maaf kepada ibunda Shelly, "Bu, ma-maafkan saya! Saya lah yang menyebabkan Shelly melakukan dosa besar itu. Saya yang telah menodai kesucian Shelly hingga ia hamil."
Dada Rani bergemuruh. Api amarah di dalam hatinya berkobar. Andai saja Zain tidak memintanya untuk tetap bersabar dan berusaha meredam emosi jika bertemu dengan Adam, Rani seolah ingin mencabik-cabik tubuh sang menantu. Wanita paruh baya itu ingin sekali melampiaskan amarahnya pada Adam karena telah menodai kesucian Shelly.
Hening
Rani masih belum membalas permintaan maaf yang terucap dari bibir Adam.
Shelly seolah mampu membaca pikiran dan mengerti perasaan ibunya. Wanita berwajah pucat itu pun ikut duduk bersimpuh di samping Adam.
"Bu, Shelly mohon, maafkanlah Adam! Suami Shelly tidak bersalah sepenuhnya. Shelly juga bersalah karena tidak mampu menahan hawa nafsu. Bu, Shelly sangat mencintai Adam dari dulu sampai detik ini dan mungkin ... hingga kelak bila nyawa Shelly sudah tidak lagi menyatu dengan raga," ucap Shelly disertai derai air mata.
Lolos sudah buliran air bening dari kedua sudut netra Adam yang sedari tadi sudah menganak di pelupuk mata tatkala mendengar ucapan dari bibir Shelly. Adam tidak pernah menyangka bahwa cinta Shelly terhadapnya begitu besar. Ia pandangi wajah Shelly yang pucat. Adam meraih tubuh Shelly dan mendekapnya dengan erat. "Shel, trimakasih atas cintamu," ucap Adam lirih.
Rani sungguh tidak tega melihat putrinya duduk bersimpuh dengan berderai air mata dan memohon agar ia memberikan maaf kepada Adam. Rani juga sangat terharu melihat pemandangan di hadapannya. Rani menyadari, bahwa apa yang telah terjadi pada Adam dan Shelly di masa lalu adalah suatu kesalahan yang tidak bisa dirubah. Semua telah terjadi dan akan menjadi pelajaran hidup bagi keduanya. Rani hanya bisa berharap dan melangitkan pinta agar Shelly selalu diberikan kebahagiaan dan kesembuhan.
Hati Rani teramat hancur saat Zain memberitahunya bahwa Shelly tengah mengidap penyakit leukemia. Rani kembali teringat pada almarhum putra bungsunya yang telah meninggal di usia remaja karena mengidap penyakit yang sama dengan Shelly. Putra bungsu Rani bernama Zidan.
"Berdirilah kalian!" titah Rani yang membuat Adam dan Shelly menengadahkan wajah mereka. Adam mengurai dekapannya dan menghapus jejak air mata dengan jemari tangan, begitu juga dengan Shelly.
"Apakah Ibu sudah memberikan maaf kepada Adam, suami Shelly?" tanya Shelly penuh pengharapan.
Rani mengangguk pelan. "Iya Shel. Ibu memaafkan Adam, namun dengan syarat ...."
__ADS_1
"Syarat?" Shelly sedikit mengerutkan keningnya.
"Ya. Adam harus bisa membahagiakan putri ibu."
Netra Shelly dan Adam nampak berbinar. Mereka teramat bersyukur karena Rani bersedia memberikan maafnya. Adam dan Shelly berdiri dengan perlahan.
"Trimakasih Bu." Adam mencium punggung tangan Rani dengan penuh khidmat. Rani mengusap-usap punggung sang menantu seraya membalas ucapan trimakasih yang keluar dari bibir Adam.
"Trimakasih, Ibu." Shelly memeluk ibunya dengan erat. Rani pun membalas pelukan putri yang teramat dicintainya. "Semoga Allah menyembuhkan penyakitmu dan memberikan umur panjang," doa tulus Rani di dalam lubuk hatinya.
Shelly dan Rani, perlahan mengurai pelukan. "Shel, di mana cucu ibu?"
Shelly mengulas senyum. "Cucu ibu berada di rumah mertua Shelly."
"Ibu ingin sekali bertemu dengan cucu ibu, Shel." Netra Rani nampak berkaca-kaca.
"Ibu akan segera bertemu dengan Tiara, cucu Ibu. Shelly dan Adam akan membawa Ibu dan Aulia ke rumah Papa Rizal untuk menemui Tiara."
🌹🌹🌹
Temaram lampu kamar menemani sepasang kekasih yang sedang bercengkrama di atas ranjang. Mereka adalah Abimana dan Kirana. Abimana memeluk tubuh istrinya dengan erat, sedangkan Kirana menenggelamkan dadanya pada dada bidang sang suami.
"Bund...."
"Hehem...."
"Bagaimana jika kita mengabulkan permintaan Keanu dengan memberikannya adik?"
Kirana mengulas senyum. "Iya Yah. Lagi pula, Keanu sudah berusia lima tahun. Kasihan jika Kean kesepian tanpa kehadiran seorang adik."
__ADS_1
Abimana meregangkan pelukannya dan menatap wajah cantik sang istri dengan intens. "Bund, Keanu tidak hanya ingin memiliki seorang adik. Kean putra kita ingin memiliki dua orang adik sekaligus. Oleh karena itu, bersiaplah untuk bekerja keras agar kita memiliki anak kembar, Bund!"
Rona merah tercetak jelas di wajah Kirana tatkala mendengar ucapan suaminya.
Abimana mengurai pelukan dan meraih dagu Kirana. Bibir Abimana dan Kirana berpagut. Ritual penyatuan raga pun dimulai.
Abimana melepas kaus yang dikenakannya. Posisi mereka kini sangat intim. Abimana berada di atas tubuh Kirana.
Sayang sekali mereka lupa mengunci pintu kamar.
KLEK
Tetiba kamar menjadi sangat terang. Abimana dan Kirana terkesiap tatkala mendengar suara bocil.
"Ayah baru ngapain? Mengapa berada di atas tubuh Bunda?" tanya Keanu dengan polos.
Abimana segera menjauhkan tubuhnya dari Kirana dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh putra mereka.
"Oh, it-itu. Ayah sedang meniup mata Bunda karena kelilipan debu," jawab Abimana berdusta. Abimana mengucap istighfar di dalam hati karena telah berdusta pada Keanu.
"Owhh," balas Keanu singkat.
Beruntung Abimana hanya melepas kaus yang dikenakannya. Sedangkan Kirana masih berpakain lengkap. Hemm ... selalu saja mereka gagal melakukan penyatuan raga karena ulah Keanu. Meski mereka telah memastikan bahwa Keanu sudah tertidur lelap, nyatanya ada saja ulah sang putra yang selalu sukses menggagalkan ritual penyatuan raga. Terkadang, tiba-tiba Keanu berteriak memanggil sang ayah untuk menemaninya tidur atau minta dibuatkan susu.
Benar apa yang dikatakan oleh Raikhan. Abimana dan Kirana membutuhkan waktu berdua saja tanpa Keanu untuk beberapa hari, agar mereka dapat memberikan sang putra, adik yang sangat diinginkan. 😌😌😌
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan berikan semangat kepada author ICPA dengan klik hadiah atau vote. 💓💓💓
Trimakasih dan Selamat membaca 💓💓💓