
Langit tergores warna jingga, tanda senja telah menyapa. Nampak seorang gadis duduk berdampingan dengan seorang wanita cantik yang berbalut jilbab untuk menutupi rikmanya. Mereka berdua tengah menikmati keindahan lembayung senja di balkon sembari berbincang.
"Langitnya nampak indah ya, Te? Tiara sangat bahagia setiap Tante berkunjung ke rumah ini. Tiara dan Tante menikmati keindahan lembayung senja di balkon sambil bercengkrama."
Mishel mengulas senyum. Tetiba ada rasa sesak kala melihat senyum Tiara yang merekah.
Mishel menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.
"Iya, langit nampak indah di senja hari. Namun sebentar lagi, mungkin Tante tidak akan bisa menemani Tiara melihat keindahan lembayung senja."
Tiara tersentak mendengar ucapan Mishel. Ia takut jika Mishel akan meninggalkannya seperti sang mama. Tiara mengalihkan pandangannya. Ia menatap wajah Mishel dengan intens.
"Te, apa maksud Tante?"
Mishel tersenyum getir. Diusapnya rambut Tiara dengan penuh kasih sayang. "Tiara, maafkan Tante! Insya Allah, seminggu lagi ada seorang pria yang akan melamar Tante. Kedua orang tua Tante, berkeinginan agar putrinya ini segera menikah, Sayang."
Tiara memeluk tubuh Mishel dengan erat. Bulir kesedihan mulai membasahi wajahnya.
"Tante, jangan tinggalkan Tiara! Jadilah mama Tiara, Te! Jangan menikah dengan orang lain! Menikahlah dengan papa Adam, Te!"
Mishel membalas pelukan Tiara. Sebenarnya Mishel sangat ingin menjadi mama sambung bagi Tiara, namun ia sadar bahwa Adam pasti tidak akan bersedia untuk menikahinya. Meski Adam mengetahui perasaan Mishel, nyatanya pria tampan itu tidak pernah membalasnya. Mishel sadar, bahwa Adam tidak pernah mencintainya. Dari dulu cinta Mishel yang teramat besar kepada Adam, bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Mishel mencium pucuk kepala Tiara. Ia mencoba menahan bulir bening yang sudah mengumpul di pelupuk mata. "Tiara sayang, Tante Mishel benar-benar minta maaf. Meski kelak Tante tidak bisa menemani Tiara, masih ada papa, oma dan juga opa yang akan mencurahi Tiara dengan kasih sayang serta cinta. Mereka akan menemani Tiara melihat keindahan lembayung senja. Jangan bersedih lagi ya anak manis!" Mishel meregangkan pelukan. Disekanya buliran bening yang membasahi wajah Tiara dengan jemari tangan.
"Pokoknya Tante tidak boleh menikah dengan pria selain papa, titik nggak pake koma!" Tiara meninggikan intonasi suaranya. Gadis kecil yang malang itu mengurai pelukan kemudian beranjak dari posisi duduk. Ia berjalan meninggalkan Mishel yang masih duduk terpaku.
"Tiara, maafkan Tante! Papa Adam tidak mungkin bersedia menikahi Tante." Suara Mishel terdengar lirih. Lolos sudah buliran bening yang sedari tadi ia tahan. Tubuh Mishel bergetar. Betapa sesak dadanya saat ini. Cinta yang tak pernah mendapat sambutan, kini harus mampu ia hempas dengan cara menerima pinangan dari pria lain.
.
.
Keluarga Rizal sudah berkumpul di ruang makan, termasuk Mishel dan Tiara. Suasana di ruang makan kali ini, nampak hening. Tidak ada keceriaan Tiara. Bahkan wajah Tiara terlihat sendu.
Rizal menatap wajah Tiara lekat-lekat. "Tiara sayang, mengapa wajahmu nampak sendu? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tiara, mengapa tidak menjawab pertanyaan opa?" Adam yang sedari tadi terdiam, kini ikut bersuara.
"Tiara tidak apa-apa, Pa. Tiara hanya sedang teringat mama. Mengapa mama tega meninggalkan Tiara? Andai saja boleh meminta, Tiara ingin ikut mama." Lolos sudah bulir-bulir air mata yang sedari tadi tertahan. Adam, Mishel, Rahma dan Rizal merasa tersentuh mendengar jawaban Tiara. Mereka mengerti apa yang tengah dirasakan oleh Tiara.
Mishel merasa teramat bersalah pada Tiara. Namun ia harus apa? Mishel sungguh tidak berdaya. Tidak mungkin seorang Mishel Larasati, dokter muda nan cantik, kembali mengemis cinta pada Adam. Seorang pria yang selama ini tidak pernah membalas cintanya.
Mishel memeluk tubuh Tiara sembari membisikan kata maaf. "Maaf, maafkan Tante Sayang. Kita berbuka puasa dulu ya! Tante janji, tidak akan meninggalkan Tiara."
__ADS_1
Mishel sedikit meregangkan pelukannya. Ia seka buliran bening yang membasahi wajah Tiara.
"Tiara, meski sebentar lagi Tante akan dipinang, Insya Allah Tante Mishel akan meluangkan waktu untuk menemani Tiara, melihat lembayung senja."
"Tapi Te ...." Suara Tiara tercekat. Ingin rasanya Tiara memaksa sang papa untuk segera menikahi Mishel. Karena, hanya Mishel yang mampu menggantikan posisi mamanya. Mishel seorang wanita yang keibuan dan memiliki ketulusan hati.
"Ehem, mari kita segera berbuka puasa! Tiara, jika ada masalah, nanti seusai menjalankan sholat tarawih, ceritakan pada papa apa yang sebenarnya terjadi!"
"Iya Pa."
Setelah membaca doa berbuka puasa, mereka pun mulai melepas dahaga. Buka puasa kali ini benar-benar teramat berbeda, tidak ada canda tawa, hanya terdengar dentingan suara sendok dan garpu.
🌹🌹🌹🌹
Hai haiiiii para readers dan sobat author, gimana nich puasanya??? Masih lancar dan semangat kan??? 😉 Semoga kita senantiasa diberi kemudahan dalam menjalankan segala amalan di bulan ramadhan, aamiin aamiin aamiin yaa robbal allamiin 😇🙏
Upsss, kira-kira ... Bang Adam tetep kukuh dengan keinginannya untuk tidak menikah lagi atau ... demi Tiara, Adam rela menikahi Mishel??
Again atau stop nich boncabenya???😅😅😅
Jangan lupa tetap tinggalkan jejak like dan beri komen penyemangat.
__ADS_1
Trimakasih dan happy reading 😘