
Sesampainya di rumah, Adam merutuki ucapannya sendiri. Sebenarnya ia tidak tega membiarkan seorang wanita seperti Mishel tenggelam dalam kesedihan. Apalagi Adam membuntuti Mishel dan melihat pemandangan di taman yang membuat hatinya tercubit. Ingin rasanya Adam memeluk Mishel dan mengucapkan kata maaf, namun Adam meragu untuk melakukannya.
Adam berdiri dan menyandarkan kepalanya pada kaca jendela kamar. Ia pandangi air langit yang jatuh semakin deras. "Mishel, maafkan aku! Sungguh aku tidak berniat untuk menggoreskan luka di hatimu. Aku hanya tidak ingin mengulangi kesalahan yang pernah ku lakukan pada Shelly. Mishel, semoga lukamu segera terobati dengan kehadiran Farhan," monolog Adam. Entah mengapa, saat melihat Mishel menangis di taman, hati Adam pun terasa sakit.
"Papa...."
Adam menoleh ke arah asal suara. Rupanya Tiara sudah berdiri di belakang Adam.
"Ada apa Sayang?" Adam mengulas senyum dan mengusap pipi putrinya dengan lembut.
"Pa, mengapa tante Mishel tidak datang hari ini?"
Adam meraih tubuh sang putri dan mendekapnya dengan erat. "Sayang, mungkin tante Mishel sedang ada pekerjaan. Jadi, tante Mishel tidak bisa datang ke rumah untuk menemani Tiara berbuka puasa. Apalagi, hari ini hujan turun sangat deras. Pastinya, langit tidak akan tertoreh warna jingga. Bukankah Tiara dan tante Mishel sangat senang melihat keindahan senja, hmmm?"
"Ohhhh, iyaya. Mungkin, tante Mishel tidak datang karena hujan ya Pa? Tiara yakin, pasti besok tante Mishel akan datang jika hujan tidak turun dan langit memperlihatkan keindahan senja."
"Iya, Insya Allah Sayang. Yuk, kita bersiap-siap untuk menjalankan ibadah sholat tarawih!"
"Yuk Pa."
Adam mengurai dekapannya. Ia bergegas membersihkan diri kemudian menggunakan baju koko, sarung dan peci. Ia juga tak lupa membawa sajadah. Betapa rupawannya makhluk Tuhan yang satu ini. 😍
Setelah keluar dari kamar papanya, Tiara pun segera mengambil air wudhu. Tiara mengenakan mukena warna putih dengan renda berbentuk bunga-bunga kecil. Ia juga tak lupa membawa sajadah serta buku tugas dari sekolah.
Adam, Tiara, Rizal dan Rahma pergi ke masjid untuk menjalankan sholat tarawih, meski hujan tak juga reda.
🌹🌹🌹
Kedua orang tua Mishel terkesiap saat melihat putri mereka tiba di rumah dengan bajunya yang sudah basah kuyup. Bahkan Mishel terlihat menggigil kedinginan. Bibir Mishel pun nampak pucat.
"Mishel, apa yang terjadi Nak? Mengapa kamu basah-basahan begini? Mengapa tidak menelepon ayah atau ibu, supaya menjemputmu ke rumah sakit?" Raut wajah Melly menyiratkan kekhawatiran begitu juga Raka. Ayah dan ibu Mishel sangat mengkhawatirkan kondisi putri mereka.
__ADS_1
"Ayah, Ibu, Mishel tidak apa-apa. Hanya saja, Mishel sedang ingin berhujan-hujanan. Mishel mandi dulu ya, Yah, Bu."
Melly mengusap pipi Mishel dengan lembut. Ia tatap manik mata yang masih mengembun. "Mishel, apa mungkin karena Adam lagi, kamu seperti ini? Kamu tidak bisa mendustai ayah dan ibu, Mis."
Mishel berusaha mengulas senyum. "Bukan karena Adam, Bu." Dusta. Mishel menjawab pertanyaan ibunya dengan kata-kata dusta. Namun, seorang ibu tidak akan percaya dengan jawaban putrinya begitu saja. Apalagi, Melly tau persis bahwa Mishel sangat mencintai Adam. Ia ikut bersedih karena cinta sang putri tak pernah terbalaskan.
Melly menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan. "Semoga kamu tidak berdusta, Mis. Segeralah mandi dengan air hangat! Jangan sampai kamu sakit, Nak. Karena besok lusa, Farhan dan keluarganya akan datang ke rumah untuk meminangmu."
Mishel hanya mengulas senyum setipis kertas dan menganggukan kepalanya dengan pelan. Mishel berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontai. Hati Mishel masih terasa sakit. Dadanya pun menyesak.
.
.
Mishel membasahi rikma dan tubuhnya dengan air yang keluar dari shower. Ia merutuki ucapannya. Bukankah ia sudah berjanji, tidak akan mengemis cinta pada Adam untuk kesekian kalinya.
"Mishel bodoh. Mengapa kamu mengemis cinta pada Adam lagi, Mis! Bukankah dari dulu, hati Adam tidak pernah terbuka untukmu, hah." Lolos lagi air bening dari sudut netra Mishel. Tubuhnya berguncang saat mengingat percakapan terakhirnya dengan Adam.
Sungguh, cinta Mishel pada Adam terlanjur mendalam. Hatinya diselimuti kegalauan. Mungkinkah Mishel akan menerima Farhan meski di dalam hatinya, sedikitpun tak ada rasa cinta? Atau ... selama hidupnya, Mishel tidak akan menikah dan menjadi perawan hingga menua?
🌹🌹🌹
Setelah Keanu terlelap, Abimana segera beranjak dari posisi berbaring. Ia melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Bund," sapa Abimana sembari mengusap pipi istrinya dengan lembut. Ternyata Kirana sudah tertidur nyenyak. Senyum terlukis indah di bibir Abimana saat melihat wajah damai istrinya.
Abimana duduk di tepi ranjang. Ia tatap wajah cantik wanita yang kini sangat dicintai dengan intens.
"Kiran, aku sungguh teramat bersyukur karena Allah telah memberikan sosok makmum pengganti seorang wanita yang teramat cantik dan berhati mulia. Betapa indah rencana Allah yang telah menyatukan kita dalam ikatan suci pernikahan meski pada awalnya tidak didasari oleh rasa saling cinta. Aku ingin selamanya hidup bersama denganmu hingga kita menua bersama." Tiba-tiba pandangan Abimana tertuju pada bibir istrinya yang seolah bagaikan magnet. Abimana pun mendekatkan wajahnya. Bibir Abimana sudah bersiap untuk mendarat tepat di bibir ranum Ayunda Kirana. Namun ....
PLAK
__ADS_1
Tiba-tiba telapak tangan Kirana mendarat dengan sempurna di pipi pria tampan bermata teduh.
"Aww....," pekik Abimana sambil mengusap pipinya yang serasa perih.
Mendengar suara teriakan Abimana, Kirana pun terbangun. Kirana mengerjap-ngerjapkan mata. Ia pandangi pipi suaminya yang sudah terhias warna merah.
"Yah, kenapa pipi Ayah sampai memerah?" Kirana beranjak dari posisi berbaring. Ia usap pipi Abimana yang memerah akibat tamparan tangannya.
Hati Abimana berbunga-bunga saat jemari lentik Kirana mengusap pipinya. Seolah sudah seabad ia tidak disentuh oleh tangan mulus sang kekasih halal. Abimana pun nampak senyum-senyum sembari menatap wajah cantik istrinya.
Kirana menautkan alis. Ia heran dengan sikap suaminya yang terlihat aneh. "Yah, kog tidak dijawab? Dan ... kenapa malah senyum-senyum sendiri, hmmm?"
"Mmm ... Ayah sedang terpesona melihat wajah cantik sang bidadari. Pipi ayah memerah karena ditampar oleh bidadari surga, Bund. Ayah sangat bersyukur karena Bunda sudah tidak muntah lagi bila berdekatan dengan makhluk Tuhan yang tampan ini."
Seolah ucapan Abimana membangkitkan kesadaran Kirana sepenuhnya.
Hoekk.... (😅🙏)
Kirana memuntahkan isi perutnya sehingga mengenai kaus yang dikenakan oleh Abimana. Netra Abimana pun berotasi sempurna saat melihat kaus kesayangannya sudah kotor.
"Yahhh, Bubun. Kenapa kaus ayah malah dikotori?"
Kirana mencebikan bibirnya. "Isshhhh, salah Ayah sendiri. Kenapa dekat-dekat bunda?"
Abimana menyesal, mengapa ia malah mengucap kata-kata yang menyebabkan kesadaran istrinya kembali normal 360 derajat. 😌😌😌
🌹🌹🌹🌹
Ehemmm... lanjut nggak nich boncabenya??? 😁😁😁
Yupsss, jangan lupa tinggalkan jejak like untuk memberi semangat author.
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan bagi yang menjalankannya. 🙏🙏🙏
Trimakasih dan happy reading 💓💓💓