
Sesampainya di depan pintu, Fadhil menekan bel dan mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum."
"Wa'allaikumsalam." Suara balasan salam dari dalam rumah.
CEKLEK
Pintu pun terbuka dengan perlahan.
"Mas Fadhil, Dek Hana." Shelly terkejut melihat tamu yang datang ternyata Fadhil dan Hana.
"Iya Mbak. Maaf, tadi pesan dari Mbak Shelly belum Hana balas," ucap Hana sembari mengulas senyum. Hana dan Shelly berpeluk singkat.
"Ahh, tidak apa-apa Dek. Mari silahkan masuk!" Shelly mempersilahkan para tamunya untuk masuk ke dalam rumah.
Hana dan Fadhil melangkahkan kaki memasuki rumah besar keluarga Rizal. Mereka bertiga berjalan menuju kamar Adam.
Nampak Tiara duduk di tepi ranjang sembari membujuk papanya agar bersedia makan. Hana merasa sedih tatkala melihat Adam terbaring tak berdaya di atas ranjang.
"Assalamu'alaikum." Hana berucap salam. Seketika Adam dan Tiara menoleh ke asal suara yang terdengar sangat familiar.
"Ha-Hana...." Mata Adam nampak membulat sempurna tatkala melihat wanita yang sangat dirindukannya.
"Tante Hana.... Wa'allaikumsalam, Te."
"Tiara...." Tiara beranjak dari posisi duduk kemudian berlari ke arah Hana.
BRUK
Tiara menubruk tubuh Hana hingga sedikit terhuyung ke belakang. Hana mengusap rambut Tiara dengan penuh kelembutan, menumpahkan rasa kasih sayang kepada gadis kecil yang malang.
"Tante, papa tidak mau makan." Tiara melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Hana.
Hana berusaha mengulas senyum, meski dadanya serasa nyeri mendengar ucapan Tiara.
"Yuk kita bujuk Papa agar mau makan!"
Tiara menganggukkan kepala dan meraih tangan Hana. "Yuk Te!"
Mereka berjalan ke arah ranjang dengan bergandengan tangan. Hana dan Tiara mendudukkan pantat di kursi yang berada di sisi ranjang.
"Mas Adam, kenapa Mas tidak mau makan?" Hana berusaha menekan perasaannya tatkala melontarkan pertanyaan kepada Adam.
Senyum terbit di bibir Adam yang nampak pucat. "Mas Adam tidak lapar, Hana. Bisakah kita bicara berdua saja?"
Hana terdiam. Ia menoleh ke arah Fadhil yang sudah berdiri di sisi ranjang. Ditatapnya manik mata Fadhil seraya meminta ijin untuk berbicara dengan Adam.
__ADS_1
Fadhil tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya. Karena sudah mendapatkan ijin dari suaminya, Hana pun menyanggupi permintaan Adam. "Suami Hana sudah mengijinkan, Mas. Tapi Hana minta, pintu kamar dibiarkan terbuka! Hana takut akan timbul fitnah."
"Baiklah Hana."
Adam mengusap rambut Tiara dengan penuh kelembutan. "Sayang, papa ingin bicara sebentar dengan Tante Hana. Tiara main di luar dulu ya sama mama!"
Tiara menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Ya Pa."
"Anak pinter." Adam mengulas senyum. Tiara beranjak dari duduknya kemudian berjalan ke arah Shelly yang sedang berdiri di sisi ranjang.
"Ayo Ma, kita ke luar!"
"Ayo, Sayang!"
"Tante Hana, kami tinggal dulu ya!"
"Iya, Tiara."
Shelly meraih tangan Tiara dan menggandengnya. Fadhil, Tiara dan Shelly melangkah pergi meninggalkan Adam dan Hana.
"Hana...." Suara Adam terdengar parau. Raut kesedihan terlukis jelas di wajahnya.
"Ya, Mas," jawab Hana singkat. Hana berusaha menunjukkan raut wajah biasa-biasa saja, meski sebenarnya ia pun merasakan kesedihan.
"Mas Adam sangat merindukanmu. Mas tidak bisa hidup tanpamu, Hana..." Bulir kesedihan mulai menetes membasahi wajah Adam.
Adam menghela nafas panjang. "Berbicara tentang ikhlas itu mudah, namun untuk menjalankannya teramat sulit, Han."
"Mas, kita tidak ditakdirkan untuk berjodoh. KehendakNya adalah yang terbaik."
"Hana, Mas Adam berjanji akan berlaku adil, jika ... Hana bersedia menikah dengan Mas Adam lagi." Adam menatap manik mata Hana dengan intens.
DEG
Jantung Hana berdegup kencang tatkala mata mereka bersiborok. Hana mengalihkan pandangannya.
"Mas, meski Mas Adam bisa berlaku adil, namun Hana tidak bisa berbagi cinta dengan wanita lain. Apalagi ... kini Hana sudah bahagia hidup bersama Mas Fadhil."
Dada Adam serasa nyeri tatkala mendengar ucapan Hana. Wajahnya bertambah pias. Adam semakin dirundung kesedihan karena harapannya bersatu dengan Hana, hanyalah impian semu.
"Hana, bagaimana perasaanmu terhadap Fadhil? Hana mencintai Fadhil?"
"Tentu Mas. Mas Fadhil adalah suami yang baik. Hana sangat mencintai Mas Fadhil." Hana berusaha mengelak, meski di dalam hatinya masih ada setitik rasa cinta untuk Adam.
"Mas, cinta tidak harus memiliki. Mas Adam harus bersyukur karena dicintai oleh Mbak Shelly dan Tiara! Cinta mereka tulus, Mas. Bukan seperti cinta Hana pada Mas Adam yang mudah tergerus oleh cinta lainnya." Lolos sudah air bening yang sedari tadi menganak di pelupuk mata. Hana berusaha tegar meski hatinya pun teramat sakit.
__ADS_1
"Makanlah Mas! Allah tidak menyukai hamba yang menyiksa dirinya sendiri. Berusahalah menjadi imam yang kuat dan terbaik untuk Mbak Shelly dan Tiara!" Hana mengusap air bening yang membasahi pipinya dengan jemari tangan.
Hening ....
Bibir Adam terkunci. Lidahnya serasa kelu. Hati Adam tercubit kala mendengar ucapan Hana. Adam sadar bahwa ia adalah sosok pria yang rapuh.
"Jika sudah tidak ada yang ingin Mas Adam bicarakan, Hana pamit. Jaga kesehatan Mas Adam! Assalamu'alaikum." Hana beranjak dari posisi duduknya kemudian melangkah pergi meninggalkan Adam yang masih terdiam membisu.
.
.
Hana menuruni tangga dan berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Fadhil, Shelly dan Tiara yang sedang berbincang.
"Ehemm ... maaf Mbak Shelly, Hana dan Mas Fadhil pamit dulu ya." Hana memangkas perbincangan Shelly dan Fadhil yang nampak serius. Hana merasa tidak suka saat mendapati Shelly menatap wajah suaminya dengan intens.
Shelly terkesiap ketika menyadari bahwa Hana sudah berdiri di sampingnya. "Eh ... oh, mengapa buru-buru, Dek?"
"Hana dan Mas Fadhil belum puas berbulan madu. Hana mohon, Mbak Shelly fokus menjaga Mas Adam! Mas Adam butuh perhatian yang lebih dan pembuktian cinta dari Mbak Shelly," ketus Hana.
Fadhil beranjak dari posisi duduknya kemudian berpamitan pada Shelly dan Tiara.
"Kami pamit dulu Mbak." Fadhil mengulas senyum. Shelly hanya membalas ucapan Fadhil dengan menganggukkan kepala disertai senyuman penuh makna. Entah mengapa, Shelly merasa nyaman ketika berbincang dengan Fadhil.
"Om dan Tante pulang dulu ya Tiara. Bantu mama untuk membujuk papa agar mau makan!"
"Siap Om," balas Tiara dengan menampakkan senyum manis.
Setelah mengucapkan salam, Fadhil dan Hana melangkahkan kaki keluar dari rumah besar keluarga Rizal.
.
.
Di dalam mobil, Hana dan Fadhil saling terdiam. Fadhil menatap sekilas wajah Hana yang nampak sendu.
Fadhil mencoba memecah keheningan dengan berdehem. "Ehem ...."
Hening, tidak ada respon apapun dari Hana. Pandangan netra Hana nampak menerawang ke luar jendela.
Fadhil menghentikan mobilnya di depan Tempo Gelato. Fadhil beranggapan, mungkin Hana akan lebih rileks jika mereka berbincang sembari menikmati es krim.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
__ADS_1
Maaf jika banyak typo 🙏🙏