
Sepulang dari rumah sakit, Hana segera berjalan menuju kamarnya. Kedua mertua Hana, Abdullah dan Aisyah sedang pergi mengunjungi pesantren yang mereka dirikan. Hana semakin merasa kesepian. Ia mencoba menghubungi Fadhil berkali-kali, namun nihil. Fadhil tidak mengangkat panggilan teleponnya. Hana merasa gelisah, hatinya tidak tenang. Ia berpikir sesuatu yang buruk tengah menimpa suaminya.
"Mas Fadhil, apa yang sedang terjadi padamu? Angkat telepon dariku Mas!" Hana berjalan mondar-mandir sembari berusaha menghubungi suaminya berkali-kali. "Mas angkat dong!" Hana tidak menyerah dan terus saja berusaha menghubungi suaminya. Hingga suara seruan dari Illahi berkumandang.
Hana segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dilanjutkan dengan berwudhu.
Hana keluar dari kamar mandi setelah berpakaian lengkap. Ia bentangkan sajadah kemudian mengenakan mukena berwarna putih dengan bordiran bunga mawar.
Hana memulai ritual ibadah sholat isya dengan khusyuk. Seusai salam, Hana berdzikir dan melangitkan pinta. "Ya Allah, selamatkan dan jagalah Mas Fadhil untuk hamba. Hilangkan ketakutan dan kekhawatiran dari hati serta pikiran hamba. Ya Allah, hamba benar-benar takut jika harus kehilangan Mas Fadhil." Lolos sudah air bening dari kedua sudut netra Hana kala terbayang wajah tampan Fadhil. Meski baru beberapa jam terpisah, nyatanya Hana sudah merasa rindu dan sangat khawatir akan keselamatan suaminya.
.
.
Sudah pukul dua belas malam, namun Hana belum juga mendapatkan kabar dari Fadhil. Sedangkan kedua mertuanya pun, belum pulang ke rumah.
Bulir kesedihan yang sedari tadi menganak di pelupuk mata akhirnya tumpah juga. Karena merasa hatinya gundah dan tidak tenang, Hana pun melangitkan pinta, "Allahumma inni as aluka nafsaan bika muthma-innah, tu'minu biliqoo-ika' watardhoo bi qodhooika wataqna'u bi'athooika. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepada-Mu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu.”
Drtt.... drtt.... drtt...
Suara getaran benda pipih yang tergeletak di atas nakas. Hana buru-buru meraihnya. Rupanya ada vidio call dari Fadhil. Hana segera mengusap wajahnya yang nampak basah.
Senyum Hana terkembang tatkala melihat wajah tampan Fadhil di layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Humaira." Fadhil mengulas senyum. Ia nampak duduk di tepi ranjang.
"W-wa'alaikumsalam Mas. Mas Fadhil kenapa dari tadi tidak menjawab telepon dari Hana? Hana sangat khawatir, Mas."
"Maaf Humaira, begitu sampai di Bandung, Mas Fadhil langsung bertemu dengan rekan bisnis abi. Seusai menjalankan sholat isya, Mas Fadhil sebenarnya ingin segera menghubungi Humaira, namun ...," Fadhil menggantung kata-katanya. Wajahnya berubah sendu.
Raut wajah Hana diliputi kecemasan tatkala melihat suaminya yang seolah sedang bersedih. "Namun kenapa, Mas?"
"Namun, Mas Fadhil memperoleh kabar dari salah seorang karyawan bahwa kantor abi kebakaran."
"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Mengapa kantor abi bisa kebakaran, Mas?"
"Dugaan sementara karena korsleting listrik. Tapi, Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, Humaira."
"Syukur Alhamdulillah, Mas. Yang terpenting saat ini keselamatan Mas Fadhil dan para karyawan."
__ADS_1
"Iya Humaira. Mungkin, kebakaran kantor abi di Bandung adalah jawaban dari kegundahan hati Mas Fadhil beberapa hari ini, Humaira."
"Heem Mas. Yang sabar dan ikhlas, Mas Fadhil!"
Senyum tercetak di bibir Fadhil kala mendengar ucapan istrinya. "Mmmm ... sepertinya Mas Fadhil tidak asing dengan kata-kata itu."
Hana terkekeh. "Iya Mas. Kata-kata itu selalu terucap dari bibir Mas Fadhil setiap Hana mendapat kemalangan."
"Humaira plagiat." Fadhil tersenyum lebar.
"Biarin, wekkkkk." Hana menjulurkan lidahnya.
"Humaira...."
"Ya Mas."
"Besok pagi, Mas Fadhil akan kembali ke Jogja."
Hana menautkan alisnya. "Loh, katanya Mas Fadhil akan berada di Bandung selama tiga atau empat hari."
"Di Bandung udaranya dingin. Mas Fadhil kedinginan karena jauh dari penghangat jiwa dan raga."
Hana mengerutkan sedikit keningnya. "Maksud Mas Fadhil apa? Penghangat jiwa dan raga ...."
Blusssss
Tercetak rona merah di pipi Hana saat mendengar ucapan Fadhil.
"Ehemmm, baru sehari tidak bertemu, Mas Fadhil sangat merindukanmu, Humaira."
"Hana juga Mas."
"Sudah larut malam, Humaira. Istirahatlah!"
"Iya Mas. Tapi, abi dan ummi belum pulang ke rumah, Mas."
"Owhhh, Mas Fadhil lupa memberitahu. Abi dan ummi melakukan perjalanan ke Bandung setelah dihubungi oleh Faisal, asisten pribadi Mas Fadhil. Mas Fadhil menyuruh Faisal untuk memberitahu abi bahwa kantor di Bandung mengalami musibah kebakaran."
"Bagaimana keadaan abi dan ummi, sekarang Mas?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, abi dan ummi baik-baik saja. Ummi sempat syok, namun abi menguatkan dan berusaha menenangkan hati ummi. Saat ini abi dan ummi berada di hotel yang sama dengan Mas Fadhil. Abi meminta Mas Fadhil, agar mengantar ummi pulang ke Jogja besok pagi. Abi juga khawatir jika Humaira berada di rumah seorang diri."
"Owhhhh jadi itu sebabnya, Mas Fadhil akan pulang ke Jogja besok pagi? Jadi bukan karena merindukan Hana?" Bibir Hana nampak mencebik.
Fadhil tertawa geli melihat ekspresi wajah istrinya yang menggemaskan. "Ya... salah satunya karena abi. Dan karena kerinduan pada Humaira juga."
Blussss
Kali ini wajah Hana terlihat seperti tomat merah.
"Ehemmm, Mas Fadhil tidur dulu ya Humaira. Persiapan untuk melakukan perjalanan pulang besok pagi supaya tidak mengantuk."
"Iya Mas."
"Assalamu'alaikum, Humaira istriku."
"Wa'alaikumsalam Mas Fadhil, suamiku."
Setelah Fadhil mengakhiri vidio call, Hana meletakan lagi ponselnya di atas nakas. Bibirnya terlukis senyuman. "Mas Fadhil, aku mencintaimu."
Usai mengucap doa sebelum tidur, Hana memejamkan matanya.
🌹🌹🌹
Setelah mengetahui penyakit yang di derita oleh Shelly, Adam merasa tertampar. Adam menyadari bahwa apa yang terjadi pada Shelly adalah teguran dari sang pemilik hati. Seharusnya Adam melangitkan pinta agar hatinya terpaut pada Shelly, bukan hanya meminta dihapuskan rasa cintanya terhadap Hana tanpa berupaya menghilangkan angan-angan semu.
Adam menghubungi Dokter Zain untuk berkonsultasi mengenai penyakit yang sedang di derita oleh Shelly. Dokter Zain meminta Adam agar segera membawa Shelly ke rumah sakit tempat ia bekerja untuk melakukan serangkaian pemeriksaan dan pengobatan.
"Shel, besok pagi kita pergi ke rumah sakit untuk menemui Dokter Zain. Insya Allah beliau akan berusaha untuk menyembuhkan penyakitmu. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Yakinlah bahwa kamu akan sembuh atas ijin dan ridhoNya!" Adam mencium kening Shelly dengan penuh perasaan. Menumpahkan rasa sesal yang mendalam. Ia peluk tubuh ringkih Shelly.
Senyum terbit di bibir Shelly tatkala mendapat perlakuan Adam yang sangat menentramkan hati dan jiwa. "Iya Dam. Trimakasih." Shelly menenggelamkan kepalanya di dada bidang Adam.
"Beristirahatlah Sayang! Sudah larut malam," bisik Adam di telinga Shelly sembari mengeratkan pelukannya. Entah mengapa Adam merasa sangat takut kehilangan Shelly. Mungkinkah bahwa sebenarnya, Adam masih memiliki rasa cinta yang teramat besar kepada Shelly? Dan mungkinkah perasaan cinta terhadap Hana adalah ujian dari Illahi? Hanya Dia yang maha mengetahui segalanya.
Yâ muqallibal qulûb tsabbit qalbî 'alâ dînika. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung.... 💓💓💓
__ADS_1
Ehemmm jangan lupa tinggalkan jejak like dan klik hadiah atau vote jika berkenan memberikan dukungan untuk ICPA.
Trimakasih dan selamat membaca 💓💓💓