
Malam merangkak pergi berganti pagi. Suara panggilan dari Illahi terdengar menggetarkan jiwa di subuh hari.
Fadhil sudah nampak segar setelah membersihkan tubuhnya dengan mandi junub. Bibirnya terukir senyuman tatkala menatap wajah cantik Hana yang masih terlelap.
Fadhil duduk di tepi ranjang, diusapnya pipi Hana dengan lembut. "Humaira, bangunlah sayang!" bisik Fadhil tepat di telinga istri tercinta.
Perlahan kelopak mata Hana terbuka. Hana mengerjap-ngerjapkan netra tatkala menatap wajah seorang pria yang seolah terlihat semakin rupawan.
Fadhil terkikik geli melihat muka bantal Hana yang menggemaskan. "Mas Fadhil..." Suara Hana terdengar parau.
"Hehem, bangunlah Humaira! Sudah saatnya menjalankan sholat subuh."
"Iya Mas. Awwww...." rintih Hana sembari menggigit bibir bawahnya. Hana duduk dengan perlahan karena masih merasakan perih di area sensitifnya. Ia sandarkan kepala pada heardbord.
"Ada yang sakit, Humaira?" tanya Fadhil dengan menampakan raut wajah cemas.
Hana mengelak sambil tersenyum kikuk, "nggak kog Mas."
"Mas Fadhil gendong sampai ke kamar mandi ya?"
"Tidak usah Mas. Hana malu." Hana menarik selimut sampai ke leher karena tubuhnya masih setengah polos. Terlukis rona merah di wajah cantiknya tatkala terbayang penyatuan raga semalam.
Fadhil menjapit hidung Hana dengan pelan. "Kenapa malu Humaira? Semalam Mas Fadhil sudah melihat semuanya." Terukir senyuman yang menawan di bibir Fadhil.
"Tapi, Hana benar-benar malu Mas."
"Ya sudah, sekarang kenakan kembali pakaianmu, Humaira!" Fadhil mengambil pakaian Hana yang terserak.
"Syukron, Mas." Hana menerima pakaiannya dengan malu-malu.
"Afwan, Humaira."
Fadhil membantu istrinya mengenakan pakaian. Setelah berpakaian, Hana berdiri dengan perlahan.
"Mas Fadhil antar sampai ke kamar mandi ya?"
"Iya Mas." Fadhil memapah istrinya sampai ke kamar mandi.
"Hana mandi dulu ya, Mas," ucap Hana sebelum menutup pintu kamar mandi.
"Iya Humaira. Mandinya jangan lama-lama ya!" titah Fadhil dengan menatap wajah cantik istrinya.
Hana menganggukan kepala dan mengulas senyum. " Iya Mas."
__ADS_1
Visual Hana dan Fadhil
Selesai mandi junub, Hana bersiap untuk menjalankan sholat subuh bersama suaminya, Fadhil Siddiq Syam.
Setelah membaca niat, terlantun takbiratul ihram dari bibir Fadhil sebagai penanda di mulainya ritual sholat subuh. Fadhil dan Hana tenggelam dalam kehusyukan beribadah.
🌹🌹🌹
Langit di pagi ini nampak begitu cerah. Abimana dan Kirana mengajak Keanu menikmati suasana pagi dengan berjalan-jalan di Malioboro. Kirana membawa tas selempangnya, sedangkan Abimana menggendong putra mereka dengan posisi seperti kangguru.
"Bie, mampir ke Pasar Beringharjo ya! Aku ingin sekali menikmati kesegaran es dawet," pinta Kirana sambil mengusap pipi putra tampan mereka. Keanu terlihat sangat ceria. Sesekali Keanu melonjak-lonjak tatkala melihat andong yang ditarik oleh kuda.
"Baiklah Bunda." Abimana menarik kedua sudut bibirnya hingga menampakan senyuman khas yang menawan.
Abimana dan Kirana melangkahkan kaki dengan santai menuju Pasar Beringharjo yang letaknya tidak jauh dari Malioboro.
.
.
Mereka berdua masuk ke dalam Pasar Beringharjo dan berjalan menuju los pertama sebelah utara. Kedua netra mereka tertuju pada sosok nenek yang sedang duduk di atas dingklik (kursi kayu pendek). Di hadapannya tertata rapi beberapa kendil kecil dari tanah liat dan satu baskom blirik.
Abimana dan Kirana melangkahkan kaki mendekat pada si nenek yang bernama Mbah Hari.
"Mbah, es dawetnya masih?" tanya Kirana disertai seulas senyum.
"Kami pesan es dawet lengkap, dua mangkuk ya Mbah!"
"Ya Mbak, mari silahkan duduk dulu!"
Kirana dan Abimana duduk di kursi yang telah disediakan.
Tak lama kemudian, dawet yang mereka pesan sudah siap dinikmati. Dawet plus cincau, serta irisan nangka. Mereka menerima semangkuk kecil es dawet yang dilengkapi dengan sendok bebek dari Mbah Hari.
"Matur nuwun Mbah...." (Trimakasih Mbah)
"Sami-sami, Mbak."
Setelah menerima es dawet, mereka disuguhi cerita oleh Mbah Hari.
"Mbah masih muda sekali waktu pertama berjualan dawet. Saat itu belum banyak minuman yang aneh-aneh seperti sekarang," ucap Mbah Hari sambil menampakan seulas senyum.
Mbah Hari berusaha mempertahankan cita rasa es dawet buatannya selama lebih dari setengah abad.
Semua pengolahan es dawet yang dibuat simbah secara tradisional dan menggunakan bahan-bahan alami. Mbah Hari sudah menjajakan es dawet di Pasar Beringharjo sejak tahun 1965.
__ADS_1
Seporsi es dawet bisa berisi cendol warna-warni, cincau, santan, cairan gula Jawa, potongan buah nangka dan es batu. Harga seporsi es dawet juga sangat terjangkau.
"Saya tidak pernah menambahi apapun dari resep es dawet yang sudah turun-temurun ini supaya rasanya sama seperti yang ibu saya buat dulu," imbuh Mbah Hari.
Abimana dan Kirana manggut-manggut mendengar cerita Mbah Hari.
"Dawet racikan simbah memang pantas di acungi jempol karena rasanya berbeda dengan dawet yang dijajakan oleh pedagang lainnya," puji Kirana sambil mengaduk es dawet yang akan dinikmati supaya rasanya tercampur.
Senyum Mbah Hari mengembang kala mendengar pujian dari Kirana.
"Seger ya Bund...," ucap Abimana sambil menyesap es dawet langsung dari mangkuknya.
"Huum, seger banget Bie."
"Dawet Mbah Hari ini sangat terkenal lho Bund."
"Iya Bie, aku tau. Dulu aku dan Paijo sering mampir untuk menikmati es dawet Mbah Hari sepulang dari sekolah," Kirana berucap dengan santai sambil menyendok cendol dan cincau.
Mata Abimana membulat sempurna. "Beneran Bund? Bunda dan Raikhan?"
Kirana menganggukan kepalanya. "Iya Bie. Hubby tahu sendiri kan sewaktu SMA aku sangat akrab dengan Rai? Tapi ... hanya sekedar sahabat, tidak lebih. Dia tidak pernah memandangku sebagai seorang perempuan kala itu, karena aku sangat tomboy."
"Iya Bund. Syukurlah Rai dan Bunda hanya sekedar sahabat. Berarti memang jodoh Bunda adalah aku." Senyuman penuh arti terlukis di bibir Abimana.
"Dulu, aku dan Alya juga sering mampir untuk menikmati es dawet Mbah Hari, Bund. Meski kebersamaan kami masih lekat dalam ingatan, namun perasaanku terhadap Alya sudah terhapuskan, sejak kita menikah, Ayunda Kirana," monolog Abimana di dalam hati.
"Iya Bie, Alhamdulillah kita berjodoh dan memiliki seorang putra yang tampan, Keanu Putra Abimanyu." Kirana mencium pipi putranya. Keanu tertawa hingga menampakan dua giginya.
Setelah membayar es dawet, Abimana dan Kirana beranjak dari posisi duduk. Mereka kembali berjalan memasuki tiap los Pasar Beringharjo. Setiap wanita yang berpapasan dengan mereka, terpukau dengan ketampanan Keanu dan Abimana.
"Woooowww Hito dan baby Air," pekik salah seorang karyawan kios batik yang bernama Yuni sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Wuihhhh, Bang Hito, baby Air...," sahut Darsih. Kedua netranya bahkan tidak berkedip.
Kirana berdecak kesal. "Ayo Bie, kita keluar saja dari Pasar! Sudah panas tambah panas."
Abimana terkikik geli melihat ekspresi kesal istrinya. "Okey Bunda, kita pergi ke Taman Pintar saja ya!"
"Iya Bie. Buruan yuk! Gerah aku lama-lama berada di dalam pasar." Ya jelas saja gerah, karena suami dan putra tampannya menjadi pusat perhatian para gadis dan ibu-ibu. 😌
🌹🌹🌹🌹
Yupsss readers, yukss minum dawet dulu!!! hhhehehe 😁😁😁
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, klik hadiah atau vote untuk mendukung ICPA.
Trimakasih dan happy reading, salam cendol dawet 😘😘😘