Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Hamil


__ADS_3

Pagi ini Hana merasa tidak enak badan. Kepalanya pening, perutnya mual dan serasa ingin muntah. Hana merebahkan diri di sofa. Ia menghubungi Fatimah (ibunda Hana) agar bersedia datang ke rumah sang mertua untuk menemaninya. Kebetulan rumah orang tua Fadhil dan rumah Fatimah berjarak tidak terlalu jauh karena masih satu kelurahan. Sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki kurang dari sepuluh menit.


.


.


"Assalamu'alaikum." Terdengar suara salam. Hana beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu depan.


"Wa'alaikumsalam," balas Hana sembari membuka pintu dengan perlahan. Senyum terlukis indah di bibir Hana tatkala melihat Fatimah datang bersama Dzaki. Ehemm ... ada yang masih ingat siapa Dzaki? Dzaki adalah anak angkat Asti dan Arif yang kini sudah berusia enam tahun. Dzaki adalah putra kandung almarhumah Nita, mantan calon istri Arif yang meninggal setelah melahirkan bayinya. Dzaki sangat menyayangi Fatimah seperti neneknya sendiri. Begitupun dengan Fatimah yang menyayangi Dzaki seperti cucunya sendiri. Setelah Hana menikah, Dzaki meminta ijin kepada Arif dan Asti untuk tinggal bersama sang nenek (Fatimah). Arif dan Asti pun memberikan ijin karena mereka berharap bahwa dengan kehadiran Dzaki, Fatimah tidak akan merasa kesepian.


"Bu, trimakasih sudah berkenan datang." Hana mencium punggung tangan ibunya sebagai tanda penghormatan. Fatimah mengusap jilbab sang putri dengan penuh kelembutan seraya mencurahkan kasih sayang.


"Iya, Sayang. Nak Fadhil dan ummi belum tiba, Ndhuk?"


"Belum, Bu. Mungkin masih di perjalanan."


"Tante..." Dzaki mencium punggung tangan Hana. Senyuman indah tercetak di bibir Hana kala melihat wajah Dzaki yang nampak ceria.


"Pinter ya Dzaki sayang." Hana mengusap rambut Dzaki.


"Iya Tante."


Hana mempersilahkan Fatimah dan Dzaki untuk masuk ke dalam rumah. Mereka bertiga berjalan menuju ruang keluarga. Sesampainya di ruang keluarga, Hana mempersilahkan Fatimah dan Dzaki untuk duduk di sofa.


"Sebentar ya Bu, Hana buatkan teh dulu!"


"Iya Nduk."


Hana melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Ia membuat teh nasgitel gula batu tiga cangkir. Hana menaruh tiga cangkir teh nasgitel tersebut di atas nampan dilengkapi dengan toples berukuran sedang yang berisi kudapan.


Hana berjalan menuju ruang keluarga dengan membawa minuman dan kudapan tersebut.


"Silahkan diminum dan dinikmati, teh nasgitel beserta kudapannya!" ucap Hana setelah menaruh nampan yang berisi tiga cangkir teh nasgitel dan setoples kudapan.


Fatimah tersenyum lebar mendengar ucapan putrinya. "Owalah Ndhuk, kog malah memperlakukan ibu dan Dzaki seperti tamu."


"Ibu dan Dzaki memang tamu di rumah ini. Tamu yang istimewa." Senyum merekah di bibir Hana.


Baru saja Hana berniat akan duduk bersebelahan dengan Fatimah, perutnya serasa mual dan ingin muntah lagi.


Hana berlari-lari kecil menuju kamar mandi.


"Hoekkk, hoekk..."


Hana memuntahkan semua makanan dari dalam perutnya setelah masuk ke dalam kamar mandi. Fatimah bergegas menyusul putrinya.


"Kamu kenapa, Ndhuk?" tanya Fatimah seraya mengusap-usap punggung Hana dengan gerakan naik turun.


"Entahlah, Bu. Dari tadi, perut Hana mual dan serasa ingin muntah. Kepala Hana juga pusing."


Senyum terbit di bibir Fatimah setelah mendengar jawaban dari sang putri. "Jangan-jangan kamu hamil, Ndhuk."


Hana terkesiap mendengar ucapan Fatimah. "M-mungkinkah, Bu? Hana sudah terlambat tiga minggu."


"Ndhuk, kamu itu seorang dokter. Kog malah tidak mengerti tanda-tanda kehamilan?"

__ADS_1


"Bukannya tidak mengerti, Bu. Hana hanya takut salah, sebelum memastikan hasilnya dengan alat tes kehamilan. Hana bukan dokter spesialis obgyn, Bu. Hana takut kecewa, karena sudah empat tahun menikah, kami belum juga diberi momongan."


"Sabar ya Ndhuk! Besok minta Nak Fadhil untuk mengantarmu periksa ke dokter spesialis obgyn!"


"Iya Bu."


Fatimah memapah Hana keluar dari kamar mandi. Mereka berdua kembali ke ruang keluarga.


"Duduk dulu, Nduk! Ibu buatkan wedang jahe sebentar."


"Iya Bu." Hana duduk di sofa dan bersandar pada backrest.


.


.


Setelah meminum wedang jahe buatan Fatimah, mual dan muntah yang Hana rasakan menjadi berkurang.


Saat ini Dzaki dan Fatimah tengah asik menonton televisi sedangkan Hana merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Assalamu'alaikum." Terdengar ucapan salam. Suaranya sangat familiar. Seketika Hana bangun dari posisi rebahan.


"Wa'alaikumsalam," jawab Hana, Fatimah dan Dzaki bersamaan.


"Biar Hana saja yang membuka pintunya, Bu."


"Baiklah, Ndhuk."


Hana segera berjalan menuju pintu depan. Wajahnya sudah dipenuhi binar kebahagiaan karena terbayang siapa yang datang. Fadhil Siddiq Syam, suami yang teramat dirindukan.


"Ummi." Hana mencium punggung tangan Aisyah. Kemudian Hana dan Aisyah pun saling berpeluk.


"Bagaimana keadaan Ummi?" Hana sedikit meregangkan pelukan.


"Alhamdulillah, ummi baik-baik saja, Sayang. Semua yang terjadi atas kehendak dari Allah, kita hanya bisa sabar dan ikhlas menerima ujian dariNya."


"Ummi benar. Yang terpenting tidak ada korban jiwa, Mi."


"Iya Sayang. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa."


"Ehemmm." Fadhil berdehem karena merasa di acuhkan oleh istrinya.


Hana dan Aisyah tersenyum melihat raut wajah Fadhil yang nampak kesal.


"Sayang, ummi masuk dulu ya. Tuch yayangmu merengut." Hana dan Aisyah mengurai pelukan mereka.


"Iya Mi. Di dalam ada ibu dan Dzaki," ucap Hana disertai senyuman manis.


Netra Aisyah nampak berbinar, senyum terkembang di bibirnya. "Wah kebetulan sekali. Ummi sudah kangen dengan ibumu dan Dzaki."


Aisyah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan menuju ruang keluarga untuk menemui Fatimah dan Dzaki.


"Mas Fadhil." Hana memeluk tubuh suaminya, menumpahkan rasa rindu. Fadhil membalas pelukan Hana. Ia cium pucuk kepala istrinya dengan penuh perasaan.


"Hana kangen, Mas. Hana teramat bersyukur dan bahagia, Mas Fadhil pulang ke rumah dengan selamat."

__ADS_1


"Mas Fadhil juga teramat bersyukur dan bahagia bisa bertemu kembali dengan Humaira. Mas Fadhil sangat merindukan Humaira."


"Mas...."


"Hehem...."


"Sepertinya, Hana hamil."


Fadhil meregangkan pelukan. "Benarkah Humaira?"


Hana mengangguk pelan. "Insya Allah, iya Mas. Untuk memastikannya, besok pagi Mas Fadhil antarkan Hana untuk periksa ke dokter spesialis obgyn!"


"Dengan senang hati, Humaira." Raut wajah Fadhil nampak dipenuhi oleh binar kebahagiaan. Ia pun menghujani wajah istrinya dengan ciuman.


🌹🌹🌹


Hari ini Adam dan Shelly pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter Zain. Adam selalu menggenggam tangan Shelly saat berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Shelly nampak bahagia dengan perlakuan Adam.


"Dam, trimakasih," ucap Shelly disertai senyuman penuh makna.


"Shel, kamu sudah mengucapkan kata terimakasih 99 kali. Satu kali lagi mengucapkannya, aku akan memberimu hadiah piring."


"Masa hanya hadiah piring." Bibir Shelly mencebik.


Tetiba Adam menghentikan langkahnya, diikuti oleh Shelly yang juga menghentikan langkah kakinya.


Adam menatap wajah Shelly dengan intens. Meski pucat, wajah Shelly terlihat cantik.


"Shel, ucapkan sekali lagi!"


Senyum terkembang di bibir Shelly. "Trimakasih, suamiku."


CUP


Adam mendaratkan kecupan di bibir Shelly.


Mata Shelly membulat sempurna kala menerima serangan dari bibir Adam yang tiba-tiba.


"Dam, malu. Kita sedang berada di rumah sakit, Dam." Pipi Shelly bersemu merah.


Adam terkekeh melihat raut wajah Shelly. "Untuk apa malu? Kita kan pasangan yang halal."


Mereka berdua kembali melangkahkan kaki menuju ruangan Dokter Zain. Hati Shelly dipenuhi ribuan bunga-bunga setelah mendapat kecupan dari Adam.


***Rasa takut akan kehilangan seseorang,


menyadarkan diri bahwa kita sangat membutuhkan hadirnya πŸ’“***


🌹🌹🌹🌹


Masih bersambung ... 😁😁


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan jika memiliki kelebihan poin, dukung ICPA dengan memberikan sekuntum bunga 🌹 atau vote.


Trimakasih dan selamat membaca 🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2