
Semenjak perasaan takut kehilangan bersarang di dalam hati, Adam semakin perhatian pada Shelly. Adam mencurahi Shelly dengan kasih sayang yang berlebih. Ia berusaha agar Shelly selalu bahagia. Karena obat segala penyakit ada pada hati yang merasa tentram dan bahagia. Perasaan yang selalu bahagia akan dapat menghambat bahkan menghilangkan segala penyakit yang di derita.
Hari ini, Adam berkeinginan membawa Shelly ke suatu tempat yang romantis. Adam merasa bahwa sudah lama sekali ia tidak pergi berdua hanya bersama Shelly. Beruntung, Tiara adalah seorang anak yang sangat pengertian. Ia tidak merajuk untuk ikut serta papa dan mamanya yang hanya ingin pergi berdua saja. Tiara memilih menghabiskan hari liburnya bersama Rizal dan Rahma. Mereka pergi berlibur, menikmati pemandangan yang menakjubkan di Pantai Wediombo. Pantai Wediombo meliputi sebuah teluk yang dikelilingi pegunungan batu karang dan pasir putih.
.
.
Adam dan Shelly berangkat sebelum adzan subuh berkumandang. Tepatnya seusai menjalankan ritual sholat malam.
Adam mulai melajukan mobilnya ke arah selatan. Jalanan kota Jogja masih tampak lenggang. Hanya terlihat satu dua kendaraan yang berlalu-lalang.
Kurang lebih setelah melalui perjalanan sekitar 35 km, pria itu menghentikan mobilnya.
"Shel, kita ke mushola dulu ya," ucap Adam setelah mereka keluar dari dalam mobil.
"Iya Dam."
Mereka pun berjalan menuju ke mushola untuk menunaikan sholat subuh terlebih dahulu, sebelum menikmati pemandangan yang disajikan.
Usai menjalankan ibadah sholat subuh, Adam mengajak istrinya untuk melanjutkan perjalanan.
Adam menggenggam tangan Shelly dengan erat. Kemudian mereka berjalan perlahan melewati jalan pintas yang sudah dicor sampai menuju ke gardu pandang. Dengan hati-hati sepasang suami istri itu melangkahkan kaki karena jalan yang dilalui masih gelap dan ada beberapa anak tangga yang licin oleh tanah basah.
Selama perjalanan menuju ke gardu pandang, mereka disuguhi suara-suara binatang hutan seperti tonggeret yang terasa begitu menenangkan. Orkestra alam yang tidak akan mereka temui di kota-kota besar. Adam mengajak Shelly untuk duduk sejenak dan menikmati alunan alam yang begitu menentramkan. Shelly terlihat begitu bahagia dan menikmati perjalanan bersama pria yang sedari dulu sangat ia cintai.
Setelah merasa cukup, mereka segera melanjutkan perjalanan menuju ke gardu pandang. Waktu yang diperlukan untuk berjalan kaki sampai di gardu pandang kurang lebih sekitar 15 menit.
"Dam, mengapa kita berjalan kaki bila jalanan menuju gardu pandang separuhnya bisa dilewati dengan mobil?"
Adam melukis seulas senyum yang menawan kala mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Shelly. "Biar semakin romantis Shel. Kita berjalan perlahan dengan saling bergandengan tangan, seperti yang pernah kita lakukan saat menikmati pemandangan diΒ Rugen Cliffs. Salah satu tempat wisata di negara Jerman."
Tercetak rona merah di pipi Shelly kala mendengar jawaban dari Adam. Terbayang kembali saat-saat indah yang ia lalui bersama Adam, ketika mereka tinggal di Jerman. Rugen Clifss lebih dikenal dengan nama Rugia Island, berada di antara Pomeranian dan Laut Baltic. Area ini terkenal sebagai destinasi wisata karena pantai pasir putihnya yang cantik, landscape alami yang berbeda, serta arsitektur resort yang memukau.Β
__ADS_1
"Hemmm, begitu ya?" Shelly seolah bersikap biasa saja, padahal jelas-jelas pipinya bersemu merah. Beruntung, mentari belum menampakan sinarnya, sehingga Adam tidak bisa begitu jelas melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Shelly.
"Iya. Kamu keberatan, Shel?"
"Tentu tidak Dam, aku sangat menikmati perjalanan ini."
"Baiklah, ayo semangat melanjutkan perjalanan! Sampai di atas, aku akan tunjukan pemandangan yang membuatmu takjub, Shel."
"Benarkah, Dam?"
"Tentu saja." Adam semakin mengeratkan genggaman tangannya. Tanpa terasa mereka sampai di gardu pandang.
"Nah Shel, lihatlah gumpalan awan itu!" Adam menunjukkan pemandangan yang membuat netra Shelly membulat sempurna dan nampak berbinar. Shelly teramat takjub melihat penampakan gumpalan awan. Seolah mereka tengah berada di suatu tempat yang sangat indah di atas langit. "Negeri di Atas Awan," ucap Shelly disertai senyuman yang mengembang.
Adam memeluk istrinya dari belakang sembari mengecup lembut puncak kepala Shelly.
"Makasih Dam, karena sudah membawa ku ke tempat yang teramat indah ini."
"Iya Sayangku." Adam mengeratkan pelukannya. Tangan Shelly memegang lengan Adam yang melingkar pada pinggangnya.
"Masya Allah, Dam."
"Kamu bahagia Shel?" Adam mencium pipi Shelly dengan lembut.
Hati Shelly dipenuhi oleh ribuan bunga-bunga bermekaran saat Adam mencium pipinya. Sensasi hangat menjalar di tubuh Shelly.
"Sangat bahagia, Dam. Pemandangan di tempat ini teramat romantis."
"Bersemangatlah untuk sembuh! Yakinlah bahwa segala macam penyakit pasti ada obatnya, termasuk penyakit yang sedang kamu derita, Shel!"
"Iya Dam. Namun jika penyakitku ini tidak akan bisa sembuh, bagaimana Dam?" Raut wajah Shelly berubah sendu.
"Shel, kamu masih ingat ucapan Zain, kan?"
__ADS_1
"Tentu saja, Dam. Tetapi aku masih sangsi dengan ucapan Mas Zain. Seolah ia hanya ingin menghibur dan membesarkan hati adiknya ini."
"Shel, yakinlah dengan ucapan Zain! Bukankah dia adalah seorang dokter spesialis kanker?"
"Heem, Dam. Tapi jika nanti aku benar-benar pergi, menikahlah lagi, Dam!"
Adam meregangkan pelukannya. Ia membalikan tubuh Shelly. Keduanya pun saling berhadapan. "Shel, jangan ucapkan kata-kata itu lagi! Aku sungguh tidak suka. Shel, orang yang sakit parah terkadang malah diberikan usia yang panjang, sedangkan orang yang fisiknya terlihat sehat bahkan segar bugar, sudah banyak yang meninggal secara mendadak. Hidup dan mati ada di tangan sang pemilik nyawa, kita tidak berhak mendahului kehendakNya."
"Tapi, Dam ...." Adam meraih tengkuk Shelly dan memagutkan bibir mereka. Hangat. Shelly merasakan kehangatan kala menikmati sentuhan bibir Adam. Jantung Adam dan Shelly berdegup kencang kala pagutan bibir mereka semakin dalam.
πΉπΉπΉ
Fadhil dan Hana sangat berbahagia setelah memastikan bahwa mereka benar-benar mendapat anugerah cinta yang sudah empat tahun dinantikan. Begitupun keluarga besar mereka. Karena teramat bersyukur, Abdullah dan Aisyah membagikan bingkisan beserta sejumlah uang kepada anak-anak yatim dan para janda.
Saat ini Fadhil dan Hana tengah duduk bersantai di bangku taman. Mereka menikmati keindahan bunga mawar yang sedang bermekaran. Fadhil melingkarkan tangannya di bahu sang istri, sedangkan Hana menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, imam pengganti yang kini sangat ia cintai.
"Alhamdulillah Humaira, sebelum datangnya bulan suci Ramadhan, Allah mengabulkan pinta kita." Bibir Fadhil terlukis senyuman. Ia usap perut istrinya yang masih rata.
"Iya Mas, Alhamdulillah. Bulan suci Ramadhan pada tahun ini teramat spesial karena Allah telah menghembuskan nafas kehidupan pada rahimku." Fadhil menghujani pucuk kepala Hana dengan kecupan.
Keduanya pun kini saling berpandangan dan saling melempar senyum yang memiliki sejuta makna. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah, yang kamu dustakan?" ucap Fadhil dan Hana bersamaan. Tiada pernah terbayangkan oleh mereka jika sang penulis skenario kehidupan menautkan hati keduanya dalam cinta yang indah, meski berawal dengan derai tangis kesedihan.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung....
Kapan ICPA end thor? π¬
Sabar yakkkk... semoga sebentar lagi πππ
Hhhehee... Maaf jika ada typo ππ
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan berikan sekuntum bunga πΉ atau vote jika berkenan memberikan semangat kepada author.
__ADS_1
Trimakasih dan selamat membaca πππ