
Meski Abimana diserang rasa kantuk yang teramat sangat, namun ia tidak rela jika memejamkan kedua netranya.
Abimana terus saja menatap wajah istrinya yang masih pucat, tanpa berpaling sedikitpun.
"Bie, aku tidak percaya masih diberikan kesempatan untuk hidup, meski ...." Tiba-tiba buliran bening mulai menetes dari kedua sudut netra Kirana, setelah ia memegang kepalanya yang dibalut perban.
Abimana mengusap pipi istrinya yang basah oleh air mata sembari melontarkan pertanyaan, "Kenapa Sayang menangis hemmm?"
"Bie, kini aku bukanlah seorang wanita yang sempurna. A-aku sudah tidak mempunyai rambut yang seharusnya menghiasi kepalaku, hiks ... hiks," jawab Kirana dengan terisak, bahkan badannya pun bergetar. Ia berusaha menahan kesedihan yang teramat sangat.
Kirana menyadari bahwa tidak ada sehelai rambut pun yang tersisa di kepalanya, sehingga ia merasa teramat terpukul dan gagal menjadi seorang wanita yang sempurna bagi suaminya.
Bagi Kirana, rambut panjangnya adalah suatu kebanggaan, karena sejak kecil hingga SMA, ia tidak pernah membiarkan rambutnya panjang. Dulu, Kirana remaja adalah si gadis tomboy yang sangat risih bila rambutnya panjang melebihi leher. Namun setelah mengenal cinta, ia berkeinginan merubah penampilan dengan membiarkan rambut hitamnya memanjang hingga sepantat, dibalut dengan jilbab yang selalu ia kenakan.
Dengan memanjangkan rambut, Kirana berharap bisa menyenangkan hati pria yang menjadi kekasih halalnya.
"Sudahlah jangan bersedih lagi Istriku yang teramat cantik! Meski kepala Sayang tidak lagi dihiasi rambut panjang nan hitam, namun kecantikan istriku ini tidaklah memudar. Yang terpenting Sayang bisa selamat dari maut, itu sudah membuat suamimu ini teramat bersyukur. Aku takut kehilanganmu, Yang." Kedua netra Abimana nampak berkaca-kaca. Ia teramat berduka melihat istrinya menangis karena tak lagi memiliki rambut panjang nan hitam.
"Bie, carilah wanita yang sempurna! A-aku akan berusaha ikhlas, hiks ... hiks," pinta Kirana yang masih saja terisak.
"Sttttt, Sayang tidak boleh berkata seperti itu. Tidak ada wanita yang sempurna melainkan istri comelku." Abimana mengusap bibir istrinya yang masih terlihat pucat.
"Tapi Bie ...."
Abimana membungkukan sedikit badan dan mengarahkan wajahnya tepat di atas wajah sang istri.
CUP
__ADS_1
Abimana mengecup bibir istrinya.
"Dengar!! Sayang tidak akan pernah tergantikan. Sampai kapanpun, istri seorang Abimana Surya Saputra hanyalah Ayunda Kirana, tidak akan ada nama yang lain."
Ucapan Abimana bagaikan oase yang menyejukan hati Kirana. Wanita cantik nan malang, menatap manik hitam suaminya lekat-lekat. Tidak ada kebohongan yang tersirat, hanya ketulusan seorang pria yang mencintai wanitanya.
Betapa bersyukurnya Kirana memiliki kekasih seorang pria yang teramat tulus, bahkan berparas rupawan.
"Bie trimakasih." Kirana meraih tangan Abimana dan menciumi buku-buku jari suaminya.
Abimana sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan istrinya, hingga ia pun tak mampu lagi menahan buliran bening yang mulai menetes tanpa permisi.
"Sayang, aku juga teramat berterimakasih, karena istri comelku ini masih berada di sisi." Abimana mengecup kening istrinya dengan penuh perasaan.
Tanpa keduanya sadari, sepasang mata tengah memperhatikan kemesraan mereka, dadanya serasa menyesak, karena perasaan cinta yang tak mungkin terbalaskan.
🌹🌹🌹
Setelah lama berbincang dengan sang istri, Abimana merasa sudah tidak mampu lagi menahan kantuknya.
"Huammmm...." Abimana menguap beberapa kali. Bahkan kedua netranya sudah terlihat menyipit.
Kirana terkekeh melihat wajah suaminya yang nampak menggemaskan.
"Bie, tidurlah sana! Di kamar khusus untuk keluarga yang menunggu pasien. Semoga besok pagi aku sudah dipindahkan ke ruang perawatan."
"Hemmm, aku tidak ingin jauh darimu Yang. Jadi, biarkanlah aku berada di sampingmu, Cintaku," balas Abimana dengan menahan kantuk.
__ADS_1
"Iya Bie. Aku juga tidak ingin jauh darimu."
Kirana tersenyum melihat Abimana ternyata sudah memejamkan mata dengan menenggelamkan kepalanya di ranjang. Pria tampan bermata teduh tertidur dengan masih menggenggam tangan sang istri, seolah tidak ingin terpisahkan.
"Bie trimakasih untuk ketulusanmu, meski dulu hubungan kita tidak diawali dengan rasa cinta," ucap Kirana sembari mengusap rambut suaminya, sebelum memejamkan kedua netra.
Fabian mulai mengalihkan tatapannya ketika melihat Abimana dan Kirana sudah memejamkan mata. Dokter muda itu melangkahkan kaki keluar dari ruangan untuk menikmati suasana malam dan berusaha menghempaskan rasa sakit karena patah hati.
🌹🌹🌹🌹
Readerss
Semoga masih setia mengikuti kisah Abi dan Kiran ya ❤❤❤
Jangan lupa tinggalkan like 👍
Komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote jika berkenan mendukung karya author
Klik emote ❤ untuk fav. novel
Trimakasih dan happy reading 😘
__ADS_1