Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Diana Dan Tukiyo


__ADS_3

Malam semakin larut, para narapidana wanita sudah lelap dalam tidurnya, terkecuali Diana. Ia merebahkan diri dengan menatap langit-langit sel tahanan.


Tukiyo tersenyum penuh makna ketika melihat Diana yang masih terjaga.


Pria berbadan tinggi besar dan berkumis tipis itu membuka sel tahanan dengan perlahan.


"Stttt, Di ayo keluar!"


Diana terperangah mendengar suara Tukiyo. Dengan perlahan, Diana berdiri kemudian berjalan ke arah Tukiyo.


"Ayo, ikuti aku!" Diana mengangguk dan mengulas senyum. Diana berpikir, Tukiyo akan membantunya keluar dari penjara.


Mereka berjalan dengan hati-hati agar penghuni lapas yang lain tidak terbangun. Tukiyo mengajak Diana ke ruangan kosong.


"Masuklah Di!" Diana menuruti perintah Tukiyo karena belum menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tukiyo segera mengunci ruangan dari dalam. Sudut bibirnya terangkat, tatapan kedua netra pria berkumis tipis itu sudah dipenuhi oleh gairah.


"A-apa yang ingin kamu lakukan?" Bibir Diana gemetar saat Tukiyo mulai melepaskan pakaiannya.


"Bukannya kamu yang ingin memberikanku kesenangan di malam ini. Kebetulan aku sudah dua tahun menduda dan begitu merindukan indahnya surga dunia." Tukiyo meraih tangan Diana dan menariknya ke dalam pelukan.


"A-aku tidak merasa ingin memberikanmu kesenangan." Diana mencoba melepaskan diri dari pelukan Tukiyo namun tidak bisa. Pelukan Tukiyo terlalu erat.


"Ayolah Sayang, jangan malu-malu! Kita akan menghabiskan malam panjang bersama."

__ADS_1


Tukiyo mulai melancarkan aksinya. Diana mencoba untuk berteriak namun suaranya tercekat karena serangan bibir Tukiyo.


Meski awalnya meronta dan menolak, Diana tidak kuasa untuk mencegah Tukiyo. Wanita itu malah semakin menikmati permainan Tukiyo, karena sudah lama ia tidak berhubungan badan dengan Adam, seperti yang sering mereka lakukan sebelum putus.


Peluh kedua insan itu pun bercucuran. Tukiyo menghujani wajah Diana dengan kecupan.


"Trimakasih Sayang." Tukiyo tersenyum puas. Pria itu segera mengenakan pakaiannya kemudian membantu Diana duduk.


Diana mengulas senyum, tidak dapat dipungkiri bahwa ia juga merasa teramat puas dengan apa yang telah dilakukan oleh Tukiyo.


Sebelum memakai pakaiannya, Diana mengecup bibir Tukiyo yang kini bagaikan candu.


"Kita akan melakukan ini setiap malam." Diana berbisik di telinga Tukiyo.


"Pasti Sayang, dengan senang hati." Mereka berdua saling berpeluk sebelum keluar dari ruangan yang menjadi saksi bisu perbuatan zina itu dilakukan.


Kisah cinta Tukiyo dan Diana terajut tanpa sengaja berkat surat iseng Ponirah. 😌😌😌


🌹🌹🌹


Setelah berpindah sel tahanan, kini Vano berteman dengan seorang pemuda yang alim. Pemuda itu masuk penjara karena berusaha menahan godaan dari seorang wanita pelacur. Ia difitnah telah melecehkan si wanita. Dengan kesabaran dan keikhlasan, pemuda itu menerima hukuman yang dijatuhkan padanya.


Pemuda berakhlak mulia itu bernama Hasan. Vano banyak belajar tentang ilmu agama pada Hasan. Kini Vano menghiasi hari-harinya dengan selalu berdzikir dan bersholawat. Ia juga tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu. Bahkan di sepertiga malam, Vano selalu terbangun untuk bersujud dan merayu kepada-Nya. Vano sangat menyesali segala perbuatannya di masa lalu.


"Van, apa yang akan kamu lakukan setelah keluar dari penjara?"

__ADS_1


"Aku akan segera menemui wanita yang pernah ku lecehkan, San. Aku selalu diliputi rasa bersalah terhadapnya. Dia wanita tercantik dan terhebat yang pernah aku temui."


"Kamu mencintainya Van?"


"Iya San. Aku sangat mencintainya, bahkan hingga detik ini. Tapi, sekarang aku sadar bahwa cinta tidak harus memiliki. Hanya melihat wanita itu tersenyum, sudah membuatku bahagia."


"Cintamu sangat tulus, Van."


"Aku rasa, iya San. Tapi sudah tidak ada gunanya lagi, karena wanita itu sudah dimiliki oleh pria yang teramat perfect."


"Ikhlaskan wanita itu, Van! Percayalah, kelak akan datang seorang bidadari yang akan menggantikan posisinya di hatimu!"


"Iya San, semoga Allah mengirimkan bidadari seperti Kiran." Vano tersenyum tatkala terbayang wajah cantik Kirana.


"Aamiin, pantaskanlah dirimu terlebih dahulu, Van! Orang tuaku pernah berkata, jodoh kita adalah cerminan dari diri kita sendiri." Hasan menepuk pundak Vano dan mengembangkan senyuman.


"Kamu benar San. Aku akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik."


🌹🌹🌹🌹


UP yang kedua di hari ini ya readersss, mohon maaf jika ada typo 😅😅🙏🙏🙏


Jangan lupa like, komen, rate 5, vote atw hadiah jika berkenan menyemangati author, klik emote ❤ untuk favoritkan novel ❤❤❤


Trimakasih dan happy reading ❤❤❤

__ADS_1



__ADS_2