
Usai acara aqiqah, MC menyampaikan bahwa akan ada surprise teruntuk dokter cantik berhati mulia, Ayunda Kirana.
"Mohon para hadirin untuk tetap berada di tempat ini! Kita akan menyaksikan surprise yang telah lama dipersiapkan oleh seluruh warga desa W dan akan dipersembahkan teruntuk dokter cantik serta berhati mulia, yang telah memprakarsai pembangunan di desa kita tercinta, beliau adalah Dokter Ayunda Kirana."
PLOK ... PLOK .... PLOK ....
Terdengar tepuk tangan yang meriah dari para hadirin.
"Dokter Ayunda Kirana, silahkan maju ke depan!" pinta MC dengan memberikan senyuman.
Jantung Kirana berdegup kencang, ia merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh MC. "Surprise? Apa maksud ucapan MC itu? Aku merasa apa yang telah ku lakukan untuk desa ini, hanyalah bentuk rasa empati terhadap penduduk desa W," monolog Kirana di dalam hati.
Kirana masih terdiam. Abimana mencium pipi sang istri sehingga dokter cantik itu pun menoleh ke arahnya.
"Bie ...."
"Hehem, majulah ke depan Bunda!"
"Bie, apa maksud ucapan MC itu?" Kirana menatap wajah tampan suaminya.
"Sepertinya akan ada surprise yang luar biasa untuk Bunda," jawab Abimana disertai senyuman yang mengembang. Abimana mengganti sebutan Yang menjadi Bunda.
"Silahkan maju ke depan Dokter Ayunda Kirana!" sekali lagi MC meminta Kirana untuk maju ke depan.
Abimana dan Kirana berdiri, kemudian dengan perlahan berjalan menuju ke arah MC yang sudah menunggu di atas panggung.
"Mohon Bapak Kepala Desa untuk mewakili para warga memberikan surprise kepada Dokter Ayunda Kirana!" Kepala desa yang bernama Anto beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah panggung.
Seorang gadis muda membawa nampan berisi piagam penghargaan yang dibingkai di dalam figura.
Kedua netra Kirana membulat sempurna tatkala melihat piagam penghargaan yang dibawa oleh gadis itu. Kirana benar-benar tidak menyangka ternyata surprise yang diberikan oleh warga desa W berupa piagam penghargaan yang ditulis dengan tinta emas.
Abimana mengambil baby Keanu dari gendongan Kirana, agar istrinya bisa menerima penghargaan yang akan diberikan.
Anto mengambil piagam kemudian menyerahkannya kepada Kirana. Kedua tangan Kirana nampak gemetar menerima penghargaan tersebut. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang dilakukannya mendapatkan apresiasi.
"Tri-trimakasih." Suara Kirana tercekat. Hanya itu yang dapat Kirana ucapkan karena menahan rasa haru barcampur bahagia.
"Dokter, satu lagi penghargaan yang ingin kami persembahkan," ucap Anto disertai senyuman.
"Ma-maksud Pak Anto?"
__ADS_1
"Mohon Dokter Ayunda Kirana untuk melihat ke arah hamparan bunga amarillis yang berada di sebelah kanan!"
Kirana mengalihkan pandangan kedua netranya ke arah hamparan bunga amarillis yang dimaksud oleh Anto. Di samping gapura menuju kebun bunga amarillis terlihat batu besar yang tertutup kain.
Salah seorang pemuda desa yang bernama Awang membuka kain penutup dengan perlahan. Nampak batu besar yang terukir tulisan berwarna keemasan.
"Dokter, mari kita mendekat ke arah batu tersebut!" ajak Anto.
"I-iya Pak." Kirana, Anto dan Abimana berjalan beriringan.
Sampailah mereka di depan batu besar yang bertuliskan nama Dokter Ayunda Kirana beserta jasa-jasa yang telah ia berikan sehingga desa W kini menjadi salah satu desa wisata yang sangat terkenal dan setiap hari dikunjungi oleh para wisatawan dari dalam negeri maupun manca negara.
Kirana merasa terharu. Ia benar-benar tidak menyangka, para warga desa W memberikan apresiasi yang sangat luar biasa terhadap pemikiran dan sumbangsihnya demi kemajuan desa W.
Lolos sudah buliran bening dari kedua sudut netra Kirana. "Masya Allah." hanya itu yang mampu terucap dari bibir Kirana
"Bunda, selamat ya." Abimana mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh rasa cinta.
"Bie .... Apa aku sedang bermimpi?"
"Tentu tidak, Bunda."
"Dek, kamu hebat. Abang tidak pernah menyangka, si comel tumbuh menjadi seorang wanita yang sangat mengagumkan." Ilham memeluk Kirana dengan erat, mengungkapkan rasa bangga terhadap adik semata wayangnya meski berbeda ibu. Kirana membalas pelukan Ilham dengan tak kalah eratnya.
"Ini semua juga berkat Bang Ilham yang selalu mengajari Kiran untuk selalu berbuat kebaikan."
Perlahan keduanya mengurai pelukan. Ilham mengusap buliran bening yang membasahi wajah cantik adiknya.
Ratri mendekat ke arah putri tercinta dan memberikan pelukan, seketika Kirana membalas pelukan ibundanya.
"Selamat ya Sayang. Ibu sangat bangga padamu. Jangan pernah berhenti untuk selalu berbuat kebaikan! Ayah, ibu dan Bang Ilham akan selalu mendukungmu."
"Trimakasih Ibu. Semua yang Kiran lakukan, karena didikan dari seorang ibu yang berhati mulia. Kiran teramat bersyukur, dari kecil dirawat dan dibesarkan oleh ibu."
"Sama-sama anakku. Apa yang ibu lakukan sudah menjadi tugas seorang ibu."
Ratri dan Kirana perlahan mengurai pelukan.
Semua orang yang berada di sekeliling Kirana ikut merasakan kebahagiaan yang tak terkira.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Tanpa terasa, waktu bergulir begitu cepat. Sang mentari mulai berpamitan. Langit terlukis warna jingga, tanda senja telah menyapa.
Kirana nampak duduk-duduk di teras rumah ditemani oleh Abimana. Sedangkan baby Keanu sedang berada dalam gendongan Sindy.
"Bie, hari ini aku teramat bahagia. Allah memberikan kenikmatan dan kebahagiaan yang luar biasa." Kirana menatap langit yang terlukis keindahan warna jingga, bibirnya terhias oleh senyuman.
"Iya Bunda. Aku juga teramat bahagia dan bersyukur." Abimana merangkul pundak Kirana, tatapan kedua netranya juga tertuju pada langit.
"Bie ...."
"Ya."
Kirana mengalihkan pandangannya menatap wajah tampan sang suami. Begitu juga Abimana. Pria tampan bermata teduh mengalihkan pandangannya, menatap wajah cantik istri tercinta.
"Bie, kebahagiaanku bertambah, saat Hubby memanggilku Bunda." Kirana mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Seketika Abimana melingkarkan tangannya di pinggang Kirana.
Wajah mereka semakin dekat, bahkan hidung mancung keduanya sudah saling menempel. Hampir saja Abimana dan Kirana akan menautkan bibir, terdengar suara Fabian. Ternyata dokter muda itu sudah berdiri di hadapan mereka.
"Ehemmmm, jangan di sini Bro! Ingat ada sepasang mata yang akan ternoda bila melihat kalian melakukan kiss."
Abimana dan Kirana terkesiap. Seketika keduanya saling menjauhkan wajah.
Fabian tersenyum nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Upssss...." 😁😁
🌹🌹🌹🌹
Maaf UP hari ini sangat terlambat 😊😊🙏🙏 Maaf juga kepada sobat-sobat author, author Abi dan Kiran mungkin akan terlambat mengunjungi karya kalian 😅😅🙏🙏
Jangan lupa untuk selalu memberikan semangat kepada author dengan memberikan jejak like 👍
Komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote atau hadiah jika berkenan
Klik emote ❤ untuk fav novel
Trimakasih dan happy reading ❤❤❤
__ADS_1