
Sehari setelah melamar Suci secara resmi, Ilham beserta keluarga, mempersiapkan penyambutan Abimana dan keluarganya yang akan datang untuk melamar adik tercinta.
Ilham dan Ridwan menata halaman rumah, dan menyulapnya bagai kebun bunga yang dikelilingi rangkaian bunga mawar putih.
Sedangkan Kirana, Ratri, dan Ratmi, memasak menu special untuk para tamu. Mereka dibantu oleh chef yang bekerja di restoran fast food milik Raikhan.
Jarum jam di dinding seolah berputar begitu cepat. Selepas isya', Abimana beserta keluarga tiba di rumah Ridwan.
Mereka disambut hangat oleh keluarga Ridwan, bapak dukuh, dan salah seorang tokoh agama yang cukup terkenal di kota Jogja. Beliau bernama, Wijaya.
Ratri duduk di samping putri tercinta. Kirana menunduk malu saat Abimana menatapnya lekat.
Kirana mengenakan gaun panjang berbahan brukat, serta dilengkapi dengan balutan jilbab, sehingga kecantikan calon istri Abimana semakin bertambah.
Acara dimulai dengan lantunan kalam cinta. Ilham mengucap salam, kemudian membuka mushaf Al Qur'an. Ia pun mulai membacanya.
Suara ustadz muda itu, terdengar sangat merdu. Hingga semua yang mendengarnya, merasa tergetar dan tersentuh.
"Maha benar Allah, atas segala firman-Nya." Ilham menutup mushaf, kemudian mengucapkan salam.
Serangkaian acara pun berlanjut. Jantung kirana berdetak lebih kencang, ketika Arini menyematkan cincin di jari manisnya. Kedua netra si gadis cantik berkaca-kaca. Meski hubungan Kirana dan Abimana belum didasari oleh rasa cinta, namun kasih sayang diantara mereka, mampu menumbuhkan perasaan yang melebihi kata cinta.
Tatapan netra Abimana tidak terlepas dari wajah cantik calon istrinya. Namun wajah pria tampan bermata teduh, tiba-tiba berubah sendu, saat teringat kenangan di masa lalu. Kenangan indah yang masih lekat dalam ingatan, ketika ia melamar Alya. Gadis anggun, yang menjadi cinta pertama Abimana.
Pria tampan itu berusaha mengatur nafas, karena rasa sesak yang kembali terasa.
"Allah, hapuskan semua kenangan tentang Alya. Bukakanlah hati ini, sepenuhnya untuk Kirana. Mampukan hamba, menjadi calon imam yang terbaik bagi Kirana," pinta Abimana di dalam hati.
Setelah Arini menyematkan cincin di jari manis calon menantunya, acara dilanjutkan dengan penyerahan seserahan.
__ADS_1
Seserahan yang diberikan untuk calon istri Abimana, berupa Alquran dilengkapi seperangkat alat salat, set perhiasan, setelan pakaian, makeup dan skincare, alas kaki, tas, serta makanan tradisional.
Usai acara tersebut, Ridwan mempersilahkan para tamu untuk menikmati semua hidangan yang telah tertata di atas meja.
Ilham mendekati Abimana, seraya berucap, "Bim, jaga adikku tercinta! Jangan pernah membuatnya terluka, bahkan menangis! Bahagiakan Kiran!"
"Iya Bang. Insya Allah, Bima akan membuat Kirana bahagia, dan menjaganya hingga maut menjemput. Bismillah, semoga Allah meridhoi kami untuk bersatu dalam ikatan yang halal," balas Abimana.
"Aamiin yaa Allah. Bersabarlah dengan kebiasaannya yang sering usil, Bim!" Ilham tersenyum lebar.
"Iya Bang. Bima akan selalu bersabar menghadapi si gadis comel," balas Abimana disertai tawa renyah.
Kirana yang merasa kepo dengan perbincangan mereka berdua, berjalan mendekat.
"Ehemmm, Abang dan si calon adik ipar sedang gibah ya? Yang digibah siapa?" tanya Kirana seolah ingin tau.
"Owhhh, yang kami gibah si gadis comel, Ran. Kamu kenal nggak siapa dia?" Abimana menggoda calon istri comelnya.
"Ya Allah, jangan membuat aku semakin gemas Markonah!"
"Ehemmm, kalian makan dulu! Jangan bercanda di hadapan Abang! Jiwa Abang meronta-ronta jika melihat kalian seperti ini."
"Pfftttttt ... hahhaha, achh Abang pasti teringat Mbak Suci kan, kan ...? Sabar Bang, tinggal dua minggu lagi! Insya Allah Mbak Suci akan menjadi milik Abang sepenuhnya," canda Kirana dengan mengerlingkan mata. Abimana terkekeh mendengar ucapan calon istrinya.
"Apaan sich dek, dasar gadis comel sok tahu." Ilham mencubit hidung adiknya dengan gemas.
"Awww, sakit Abang." Kirana mengusap hidungnya yang memerah karena cubitan Ilham.
"Makanya, jangan membuat Abang gemas!" Ilham mengusap lembut jilbab sang adik.
"Bang, meski kelak kita sudah berumah tangga, kasih sayang Bang Ilham terhadap Kiran jangan pernah berubah ya!" pinta Kirana, kedua netranya nampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Pasti adikku tercinta, kasih sayang Abang tidak akan berubah," balas Ilham dengan menatap manik hitam adiknya lekat-lekat.
"Bang ...." Kirana memeluk tubuh abangnya yang sangat ia sayangi.
Ilham mengusap punggung sang adik dengan penuh kasih sayang.
Abimana larut dalam keharuan, ketika melihat adegan kakak beradik yang saling berpeluk, mencurahkan kasih sayang.
Perlahan Kirana melepas pelukannya.
Mereka bertiga duduk berdampingan, dan mulai menikmati makanan yang tersaji.
🌹🌹🌹🌹
Alhamdulillah, bisa UP lagi. Mumpung si othor ada waktu senggang. 😅
Readerssss
Semoga nggak bosan yakk dengan kisah Abimana.
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak like 👍
Beri komentar agar si othor tambah bersemangat 😘
Klik emote ❤ untuk favoritkan novel
Beri rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Klik Vote jika berkenan mendukung karya author
Happy reading dan trimakasih 😘😘😘
__ADS_1