
Deburan ombak terdengar bergemuruh, pasir hitam terhampar luas, semilir angin hingga garis bibir pantai yang nampak tak berujung, memanjakan kedua netra sepasang kekasih yang sedang berjalan dengan bergandengan tangan, menanti hadirnya senja.
Sebelum menyaksikan teatrikal alam senja Parangtritis, Abimana dan Kirana berfoto dengan latar belakang bukit yang menjorok ke pantai dan deburan ombak khas pantai selatan. Keduanya terlihat sangat serasi, hingga berpasang-pasang mata tertuju pada mereka.
"Bie, Yuk kita duduk di sana!" Kirana menunjuk tikar yang sudah dipersiapkan oleh seorang penjual jagung bakar.
"Sekalian makan jagung bakar, Yang?" Abimana tersenyum disertai kerlingan mata.
"Iya Bie." Kirana tersenyum nyengir. Kedua insan itu pun kembali melangkahkan kaki menapaki pasir pantai.
"Pak, jagung bakar dua ya! Rasa pedas asin."
"Njih Mas. Silahkan duduk dulu!" Penjual jagung bakar tersenyum ramah.
"Njih Pak." Abimana dan Kirana duduk lesehan di tikar sembari menatap laut lepas.
"Bie, ada gitar. Aku mau pinjem akh." Kirana meraih gitar yang tergeletak di sampingnya dan meminta ijin kepada penjual jagung bakar.
"Pak, saya pinjam gitarnya ya?"
"Monggo, silahkan Mbak! Kebetulan yang punya gitar, anak saya."
"Owh, trimakasih Pak." Kirana menyunggingkan senyum.
"Sami-sami Mbak," balas penjual jagung bakar disertai senyuman.
"Sayang bisa memainkan gitar?" Abimana sedikit mengernyitkan keningnya.
"Kamu lupa ya Bie? Di sekolah, aku sering memainkan gitar pada saat jam istirahat." Bibir Kirana mengerucut.
"Owh, iyaya." Abimana terkekeh.
"Hah, dulu kan kamu nggak pernah memperhatikanku Bie. So, kamu lupa kalau istrimu ini pintar bermain gitar."
Abimana mengacak jilbab istrinya dan tersenyum lebar. "Maaf, kalau dulu aku terlalu memperhatikan Sayang, takutnya langsung jatuh cinta."
"Hishhh, alasan yang nggak tepat Bie," cebik Kirana.
Kirana mulai memetik dawai gitar dan melantunkan lagu yang tengah digandrungi oleh kawula muda. Suaranya begitu merdu hingga Abimana terkesima. Bahkan bukan hanya Abimana saja yang terkesima, namun penjual jagung bakar dan beberapa wisatawan pun juga terkesima mendengar kemerduan suara Kirana serta kemahirannya memainkan gitar.
Aku mengerti
Perjalanan hidup yang kini kau lalui
Ku berharap
Meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang
Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah
Biar ku menemanimu
Membasuh lelahmu
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
Aku di sini
Walau letih, coba lagi, jangan berhenti
Ku berharap
__ADS_1
Meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang
Menaklukkan hari-harimu yang tak indah
Biar ku menemanimu
Membasuh lelahmu
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
*Biar kulukis mal**am*
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
Suara tepuk tangan meriah mengiringi berakhirnya lagu yang dinyanyikan oleh Kirana. Abimana meraih tubuh Kirana dan menghujani wajah istrinya dengan kecupan.
"Sayang, I will always love you," ucap Abimana dengan menatap sepasang manik hitam Kirana. Kedua netra Abimana memancarkan binar bahagia dan cinta yang mendalam.
"I will always love you to Abimana Surya Saputra." Kirana membalas ucapan dan tatapan Abimana disertai senyuman yang mengembang.
"So sweetttttt," teriakan para pengunjung pantai yang melihat keromantisan kedua insan.
Pipi Kirana merona tatkala menyadari keromantisannya bersama sang suami menjadi pusat perhatian para pengunjung pantai.
"Ehem, Mas, Mbak, jagung bakarnya sudah siap dinikmati." Penjual jagung bakar menyerahkan pesanan Abimana disertai senyuman ala-ala pepsodin, hingga nampaklah deretan gigi putihnya.
"Oh, ya Pak. Trimakasih," ucap Abimana sembari menerima jagung bakar pesanannya.
"Sami-sami Mas."
"Yang, dimakan dulu jagung bakarnya!" Kirana meletakan gitar kemudian menerima jagung bakar dari tangan suaminya.
"Makasih, Bie."
"Sama-sama Sayang." Abimana mengulas senyuman yang menawan.
Abimana dan Kirana menikmati jagung bakar sembari melihat senja yang sudah mulai menyapa.
Ketika matahari tenggelam, terlihat pancaran golden sunset kekuningan dengan bulat sempurna di ujung ufuk.
Di sepanjang garis pantai, beberapa wisatawan tampak ceria menaiki andong yang telah disewa oleh mereka.
"Yang, malam ini kita menginap di hotel ya."
"Tapi, kita tidak membawa pakaian ganti lho, Bie."
__ADS_1
"Tenang, kita bisa membeli pakaian di kios yang berjajar dekat parkiran, Yang."
"Heem, terserah Hubby saja."
"Siapa tau, dengan menginap semalam di hotel, ikhtiyar kita segera terkabul." Abimana mengerlingkan mata.
"Dasar modus." Kirana menjulurkan lidahnya. Abimana terkekeh melihat wajah istrinya yang nampak semakin menggemaskan.
Setelah membayar jagung bakar, Abimana mengajak Kirana untuk membeli kelapa muda dan pakaian ganti.
Keduanya pun mulai melangkahkan kaki di atas hamparan pasir pantai, menuju kios yang menjual kelapa muda dan pakaian.
Abimana memilih kaos khas pantai dan celana pendek. Sedangkan Kirana memilih daster tanpa lengan dan cardigan serta pakaian dalam.
🌹🌹🌹
Abimana memilih hotel yang terletak langsung di bibir pantai, untuk menginap bersama istri tercinta. Hotel tempat Abimana dan Kirana menginap memiliki fasilitas terbaik berupa kolam renang yang didesain menghadap langsung ke luasnya pantai.
Usai menjalankan sholat isya dan sholat sunah dua rokaat, Abimana menuntun istrinya menuju ranjang yang sangat empuk dengan taburan kelopak bunga mawar putih di atasnya.
Perlahan, Abimana merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang.
Jantung Kirana berdegup sangat kencang tatkala Abimana menyapu bibir ranumnya dengan jemari tangan. Terbayang apa yang akan terjadi setelahnya. Sentuhan Abimana bagai candu bagi Kirana, yang seolah membawanya terbang ke nirwana.
Abimana mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh perasaan. Kemudian ia membaca doa sebelum bersenggama.
"Bismillah, semoga ikhtiyar kita di malam ini mendapat ridho dari-Nya."
"Aamiin, Bie." Suara Kirana terdengar serak karena menahan gejolak rasa yang semakin menggebu.
Abimana menghujani wajah istrinya dengan kecupan-kecupan mesra. Jemari tangannya mulai memberikan sentuhan yang menggetarkan di seluruh tubuh Kirana.
Suara deburan ombak disertai gemerisik dedaunan, mengiringi senandung cinta yang terdengar sangat merdu.
Mangata menjadi saksi penyatuan raga kedua insan yang bernilai ibadah.
Abimana dan Kirana menyudahi penyatuan raga, sebelum adzan subuh berkumandang. Meski serasa letih, keduanya segera membersihkan diri dan bersiap menjalankan ibadah sholat subuh.
.
.
Usai menjalankan sholat subuh, Abimana dan Kirana melantunkan kalam cinta.
"Maha benar Allah, atas segala firmanNya."
Abimana dan Kirana menutup mushaf kemudian menciumnya.
"Yang."
"Ya, Hubby."
"Yuk kita lanjutkan lagi ikhtiyarnya!"
Kedua netra Kirana seketika membelalak.
"Apa?????"
Abimana tergelak melihat mimik wajah istrinya.
🌹🌹🌹🌹
Yupsss, jangan lupa update aplikasi Mangatoon dan Noveltoon, ya readers!! Supaya tetap bisa mendukung karya para author favorit kalian. 😍😍
Tetap tinggalkan jejak like 👍
Beri Komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote atau hadiah
Klik emote ❤ untuk favoritkan novel ini
Jika dirasa kisah ini menarik untuk dibagikan, bisa share 😁😁
Trimakasih dan happy reading 😘😘😘
__ADS_1