
Halimah meraih tubuh mungil Karan dari gendongan Alden. "Pak, biar saya yang menggendong Karan!" Meski dengan berat hati, Alden memberikan Karan kepada Halimah.
"Mah, saya titip Karan sebentar ya! Saya akan pergi ke rumah sakit untuk melihat jenazah Diana."
"Iya Pak," jawab Halimah singkat. Sebenarnya Halimah merasa teramat marah kepada Alden, namun ia berusaha meredam emosinya dengan membaca istighfar di dalam hati. Halimah berharap, bukan Alden yang merawat dan membesarkan Karan, melainkan Anggara ataupun Kirana. Halimah tidak yakin, Alden akan menjadi seorang ayah yang terbaik untuk Karan.
.
.
Sesampai di rumah sakit, Alden segera mencari jenazah Diana dan bertanya kepada salah seorang perawat yang berjaga.
"Maaf Sus, saya ingin bertanya, apa benar jenazah Diana Kharisma Putri berada di rumah sakit ini?"
"Iya benar Pak. Tapi baru saja dibawa pulang oleh papanya."
"Trimakasih Sus."
"Sama-sama Pak."
Alden berjalan keluar dari rumah sakit dengan langkah lunglai.
"Aku harus mendatangi rumah orang tua Diana yang berada di kota ini. Semoga Tuan Anggara belum membawa Diana ke Jakarta," monolog Alden.
.
.
Alden segera pergi ke rumah Anggara menggunakan sepeda motornya. Beruntung, Diana pernah memberitahu Alden alamat rumah Anggara yang terletak di Jalan Kaliurang, sehingga pria bertubuh gagah itu tidak kesulitan mencarinya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam, Alden sampai di depan rumah mewah milik Anggara.
Alden segera turun dari motornya dan bertanya kepada security yang berjaga di samping pintu gerbang. Kebetulan pintu gerbang rumah mewah tersebut nampak terbuka sedikit.
"Maaf Pak, apa benar di sini kediaman Tuan Anggara?"
"Iya benar Pak."
"Mmmm.... Apakah Tuan Anggara membawa jenazah putrinya ke rumah ini?" tanya Alden ragu.
"Benar Pak."
__ADS_1
"Saya ingin menemui beliau dan melihat Diana untuk yang terakhir kali."
"Kalau boleh tau, anda siapa?"
"Saya teman Diana, Pak."
"Ohhh, teman Non Diana? Mari silahkan masuk!"
Kusno, security yang bertugas menjaga pintu gerbang, segera membuka pintu tersebut lebih lebar.
"Trimakasih Pak," ucap Alden sambil menaiki sepeda motornya kembali. Alden memasuki rumah mewah milik Anggara, dengan berdecak kagum. "Andai dulu aku menikahi Diana, pasti rumah semewah ini akan menjadi miliku. Sayang, aku terlalu bodoh dan pengecut, dengan memilih cara yang salah. Aku meninggalkan seorang putri pewaris istana semegah ini. Hah, aku masih mempunyai kesempatan dengan menjadikan Karan sebagai alat untuk menikmati kekayaan Tuan Anggara," monolog Alden di dalam hati.
Halaman rumah Anggara dipenuhi oleh rangkaian bunga sebagai ucapan bela sungkawa atas meninggalnya Diana dari berbagai perusahaan, tak terkecuali perusahaan yang dipimpin oleh Abimana, Surya Group.
Alden menaruh sepeda motornya di tempat parkir yang telah disediakan. Terlihat mobil-mobil mewah berjajar.
Dengan sedikit ragu, Alden melangkahkan kaki memasuki rumah mewah milik Anggara.
Alden mendekat ke arah seorang pria paruh baya yang sedang duduk di samping jenazah Diana.
Alden duduk bersimpuh di sebelah pria tersebut.
"Om, saya turut berbelasungkawa atas meninggalnya Diana," ucap Alden dengan suaranya yang terdengar lembut.
"Om, perkenalkan, saya Alden. Teman Diana, ayah dari bayi yang telah dilahirkan oleh putri Om," ucap Alden dengan mencoba menghempaskan rasa takut.
Anggara terkesiap mendengar pengakuan Alden. Wajahnya menengadah perlahan. Kedua netranya menatap Alden dengan tatapan ingin membunuh. Tangannya mengepal.
BUG
Anggara melayangkan tinju tepat mengenai pipi kiri Alden. Amarah Anggara memuncak.
Ditariknya kerah baju Alden dengan sangat kuat.
"Saya mohon maaf, Om! Saya ingin menebus kesalahan saya." Anggara tidak menggubris ucapan Alden.
BUG
Kembali Anggara melayangkan tinju ke wajah Alden. Keluar darah segar dari hidung dan bibir Alden.
"Dasar pria brengse*, enyah Kau!"
__ADS_1
BUG
Anggara semakin membabi buta. Ia layangkan tinju ke seluruh wajah pria brengse* di hadapannya. Alden tidak berusaha menepis ataupun membalas.
Semua tamu yang berada di ruangan itu nampak terkejut melihat kemarahan Anggara. Dua orang pria berusaha menahan tangan Anggara yang sudah terangkat. Mereka adalah Arif dan Adam.
"Istighfar Om! Kasihan Diana. Dia pasti akan teramat sedih melihat papanya seperti ini," pinta Arif berusaha meredam amarah Anggara.
"Tapi Rif, papa mana yang tidak teramat marah bila putrinya dihamili oleh pria brengse* ini? Bukannya bertanggung jawab, dia malah pergi meninggalkan Diana dalam keadaan hamil. Dan ketika melahirkan anaknya, nyawa Diana tidak tertolong." Lolos sudah air bening yang keluar dari kedua sudut netra Anggara.
Adam mengusap-usap punggung Anggara seraya memberi ketenangan.
"Biarkan Adam yang mengurus pria brengse* ini, Om,!" pinta Adam dengan menatap Alden dengan tatapan tajam.
"Saya benar-benar minta maaf! Saya akan merawat dan membesarkan putra kami." Suara Alden terdengar lirih.
"Sampai mati pun, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Aku juga tidak sudi jika bayi yang telah dilahirkan oleh Diana, tersentuh oleh tangan kotormu. Memang, sebelumnya aku tidak sudi menganggap bayi hasil zina kalian sebagai cucuku. Namun demi Diana, aku akan merawat dan membesarkan anak itu atau menitipkannya kepada orang yang tepat. Aku tidak ingin, putra Diana tumbuh menjadi seorang pria brengse* sepertimu," tegas Anggara.
"Ta-tapi, bayi yang dilahirkan oleh Diana adalah putra saya juga, Om."
"Sejak kapan engkau menganggap putra Diana adalah putramu juga, hah? Bukankah engkau sudah meninggalkan mereka dan memilih kembali kepada istri pertamamu?"
"Ti-tidak Om. Saya tidak jadi rujuk dengan istri pertama, setelah sadar bahwa Diana-lah wanita yang sangat saya cintai. Saya juga teramat menyesal telah meninggalkan Diana." Alden menundukan wajahnya. Pria itu berharap, hati Anggara akan melunak.
"Cih, pandai sekali engkau berdusta. Aku akan memasukanmu ke dalam penjara dengan tuduhan pelecehan sek****. Aku yakin bukan hanya Diana saja yang menjadi korban pelampiasan nafsumu. Aku akan memerintahkan orang kepercayaanku, mendata semua wanita yang pernah kau setubuhi," ancam Anggara dengan meninggikan intonasi suaranya.
"Ingat, jangan pernah berusaha mengambil putra Diana, atau engkau akan habis!" Kembali Anggara memberikan ancaman kepada Alden.
"Pergi!" titah Adam dengan suaranya yang terdengar lantang dan tatapan kedua netranya penuh ancaman.
Perlahan Alden berdiri, kemudian berjalan keluar dengan langkah lunglai.
Anggara segera menghubungi polisi untuk menangkap Alden.
🌹🌹🌹🌹
Ehem, kira-kira siapa ya yang akan merawat Karan? Masih menjadi teka-teki. 😅😅
Mohon maaf jika ada typo, so jangan lupa untuk meninggalkan jejak like. Syukur-syukur ada yang bersedia membagi votenya untuk mendukung karya author remahan kuaci ini... heheheheh.
Trimakasih bagi readers dan sobat author yang masih setia mengikuti ICPA. Selamat membaca 😘😘😘
__ADS_1