
Seorang wanita muda mengenakan jas putih dengan balutan jilbab yang menutupi rikmanya tengah berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Ia adalah Hana Maulida Putri, wanita berparas cantik nan anggun serta salehah.
Pandangan netra Hana tertuju pada seorang wanita berjilbab yang tengah duduk di bangku taman. Hana berjalan mendekat ke arah wanita itu.
.
"Assalamu'alaikum, Mbak Shelly," sapa Hana. Ia mendaratkan pantatnya di bangku bersebelahan dengan Shelly.
Shelly terkesiap tatkala menyadari kehadiran Hana. Ia usap jejak air mata di wajahnya dengan jemari tangan sebelum membalas salam yang diucapkan oleh Hana.
"Wa'alaikumsalam, Dek Hana."
Hana menatap wajah Shelly yang nampak pias dengan tatapan penuh tanya. "Mbak, mengapa Mbak Shelly berada di tempat ini sendiri? Wajah Mbak Shelly juga nampak pucat."
Shelly menghela nafas dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Dek, Mbak Shelly ... menderita penyakit yang sukar disembuhkan."
Hening...
Hana berusaha menelaah ucapan Shelly. "Mbak, sebenarnya Mbak Shelly sakit apa? Mengapa Mas Adam tidak mengantar Mbak Shelly?"
Shelly tersenyum getir. Ia genggam tangan Hana dengan erat. "Dek, Adam dan Tiara belum tau bahwa Mbak Shelly sedang mengidap penyakit leukemia."
DEG
Tiba-tiba dada Hana terasa sesak. Netranya serasa panas. Bulir kesedihan mulai menganak di pelupuk mata.
"M-mbak Shelly sedang bercanda kan?" tanya Hana tidak percaya.
Shelly menatap manik mata Hana. Raut wajahnya nampak sendu. "Mbak Shelly sedang tidak bercanda. Mbak mohon, jangan sampai Adam dan Tiara mengetahui penyakit yang Mbak Shelly derita!"
"Mbak, Mas Adam berhak tau mengenai kondisi kesehatan Mbak Shelly. Hana yakin, Mas Adam akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Mbak Shelly," balas Hana yang juga menatap manik mata Shelly.
Shelly menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sudah terlambat Dek."
"Mbak, tidak ada kata terlambat. Ada berbagai cara untuk menyembuhkan penyakit Mbak Shelly. Hana akan memberitahukan penyakit yang Mbak Shelly derita pada Mas Adam."
Tetiba Shelly beranjak dari posisi duduk dan melepaskan genggaman tangannya. Ia bersimpuh di hadapan Hana.
"Dek, Mbak Shelly mohon, jangan beritahu Adam!" Lolos sudah buliran bening dari sudut netra Shelly.
"Mbak, berdirilah! Hana tetap harus memberitahukannya pada Mas Adam. Apa Mbak Shelly tidak merasa kasihan pada Tiara, jika penyakit mamanya semakin parah dan ...," Hana tidak kuasa melanjutkan ucapannya. Bulir kesedihan yang sedari tadi menganak di pelupuk mata, kini tertumpah.
"Dek, Mbak Shelly sudah tidak yakin akan sembuh. Untuk itu, Mbak Shelly minta ... jaga Tiara! Mbak Shelly titip Tiara! Jika kelak Mbak Shelly pergi, sayangi Tiara seperti putrimu sendiri!"
__ADS_1
Hana dan Shelly pun saling berpeluk. Tangisan mereka semakin pecah.
"Mbak, jangan ucapkan lagi kata-kata itu! Yakinlah bahwa penyakit Mbak Shelly akan sembuh! Ada berbagai cara untuk menyembuhkannya, asal Mbak Shelly yakin."
Langit menjadi muram, seolah ikut merasakan duka kedua wanita yang kini masih berpeluk.
.
.
Drttt ... drttt ...
Suara getaran benda pipih yang ada di dalam saku Hana. Perlahan Shelly dan Hana mengurai pelukan mereka.
Hana segera mengambil ponsel dari dalam sakunya. Ternyata ada vidio call dari Fadhil.
"Mbak, sebentar ya! Ada vidio call dari Mas Fadhil."
"Iya Dek." Shelly beranjak dari posisi duduk bersimpuhnya. Ia mendaratkan lagi pantatnya di bangku, bersebelahan dengan Hana.
Hana menyeka jejak air mata di wajah cantiknya dengan jemari tangan, begitu pula dengan Shelly.
"Assalamu'alaikum, Mas Fadhil." Hana berusaha mengulas senyum.
"Ada apa Mas?"
"Humaira, kenapa mata indahmu sembab? Humaira menangis."
"I-iya Mas. Hana bertemu dengan Mbak Shelly. Hana merasa terharu sehingga air mata lolos begitu saja."
"Syukurlah jika benar demikian. Mas Fadhil akan ke luar kota beberapa hari, untuk mengurus cabang perusahaan abi di Bandung. Humaira tidak keberatan kan?"
Hana mengulas senyum. Sebenarnya ia merasa kesepian jika ditinggal oleh Fadhil ke luar kota, meski di rumah ada Abdullah dan Aisyah.
"Iya Mas. Yang terpenting Mas Fadhil segera kembali dengan selamat. Jaga hati Mas Fadhil untuk Hana, ya!"
Senyum terlukis indah di bibir Fadhil. "Iya Humaira. Insya Allah, Mas Fadhil akan kembali dengan selamat. Yakinlah, hati Mas Fadhil hanya untuk Humaira!"
"Mas, kapan Mas Fadhil akan berangkat?"
"Insya Allah besok pagi. Jadi ... nanti malam kita masih bisa mereguk kenikmatan surga dunia, Humaira." Rona merah tercetak jelas di wajah Hana tatkala mendengar ucapan suaminya. Seketika Fadhil tersenyum lebar melihat raut wajah sang istri yang nampak menggemaskan jika sedang tersipu malu.
Bibir Hana mencebik. "Ishhhhh, Mas Fadhil mulai lagi nakalnya."
"Meski nakal, Humaira semakin cinta kan?"
__ADS_1
"Iya Mas, Hana semakin mencintai Mas Fadhil. Anna Uhibbuka Fillah."
Senyum terbit di bibir Fadhil tatkala mendengar ungkapan cinta dari istrinya. “Ahabbakalladzi ahbabtani lahu. Semoga Allah mencintaimu yang telah mencintaiku karena-Nya“.
"Mas..."
"Hehem..."
"Hana selalu merindukanmu."
"Mas Fadhil juga selalu merindukan Humaira. Sampai bertemu nanti sore, Hana Maulida Putri. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Setelah Fadhil mengakhiri panggilan vidio call, pandangan netra Hana beralih kembali pada Shelly yang saat ini nampak senyum-senyum.
Hana menautkan alisnya. "Mbak Shelly kenapa kog senyum-senyum?"
"Mbak Shelly senyum-senyum karena mendengar percakapan kalian yang sangat romantis."
Pipi Hana bersemu merah. Ia nampak malu percakapannya dengan Fadhil di dengar oleh Shelly. "Ihhh Mbak Shelly. Wajar kan suami istri romantis? Mas Adam pasti juga sangat so sweet memperlakukan Mbak Shelly."
Senyum indah terlukis di bibir Shelly kala membayangkan perlakuan Adam di atas ranjang. Sudah beberapa tahun ini, Adam selalu bersikap romantis terhadapnya. Bahkan Shelly menyangka, jika Adam sudah tidak memiliki perasaan lagi terhadap Hana.
"Iya Dek. Adam sangat romantis. Tapi ... kami belum juga diberikan momongan lagi."
"Yang sabar Mbak! Mbak Shelly dan Mas Adam sudah mempunyai Tiara, sedangkan Hana dan Mas Fadhil ... sampai saat ini belum juga diberikan keturunan, meski kami sudah berikhtiyar dengan berbagai macam cara. Kami tidak tau apa yang sedang direncanakan oleh sang penulis skenario, Mbak." Raut wajah Hana berubah sendu kala membicarakan momongan (anak).
Shelly mengusap punggung Hana dengan penuh kelembutan. "Yakinlah Dek, belum bukan berarti tidak! Insya Allah, Dia akan memberikan malaikat kecil di waktu yang tepat."
"Iya Mbak. Semoga Allah segera menghadirkan malaikat kecil sebagai penguat ikatan cinta kami."
"Aamiin yaa Robb..."
Terdengar suara kerinduan dari Illahi. Hana dan Shelly beranjak dari posisi duduk dan berjalan menuju mushola.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung....
Trimakasih kepada readers dan sobat author yang masih setia mengikuti kisah ICPA.
Jangan lupa tinggalkan jejak like, klik hadiah atau vote jika berkenan mendukung karya author "ICPA"
Trimakasih dan selamat membaca. 💓💓💓
__ADS_1