
Beginilah aku, dengan semangat yang kadang meredup. Bagai nyala api pada lilin, sekali tiup maka akan padam seketika. Lelehan air mata tak mampu menghapus sendu. Namun aku harus apa? Bagaimana menghadapi takdir yang kadang melemahkan keimanan? Kini, aku harus berdiri pada titian. Berusaha untuk tetap melangkah menuju titik kebahagiaan....
🌹🌹🌹
Dua bulan telah berlalu sejak meninggalnya Nita. Arif semakin dekat dengan Asti dan keluarganya. Begitu pula dengan Asti, gadis cantik itu kini semakin dekat dengan keluarga Arif. Kehadiran Asti, setidaknya mampu mengalihkan duka seorang pria tampan berhati mulia, Arif Rizal Syaputra.
Saat ini, Arif dan Asti tengah menikmati suasana malam di Alun-alun Selatan. Mereka meneguk kehangatan wedang ronde sembari bernostagia. Ya, dua tahun yang lalu Asti dan Arif pernah berada di tempat yang sama. Memandang rasi bintang, menghempaskan kedukaan.
Dua tahun yang lalu, kehadiran Asti mampu menghibur hati seorang tuan muda yang tengah patah hati karena pupusnya cinta pertama. Seolah masa lalu terulang kembali. Kini, kehadiran gadis cantik itu pun mampu mengubah lara menjadi bahagia.
"Mas Arif, dua tahun yang lalu kita pernah menikmati suasana malam seperti saat ini ya?"
"Iya, ternyata kamu masih mengingatnya As. Oya, bagaimana hubunganmu dengan Faudzan?"
Asti membuang nafas kasar, rasanya ia tidak ingin menjawab pertanyaan Arif yang seolah membuka luka lama.
"Hufttt, sebenarnya aku tidak ingin membahas soal Faudzan, Mas."
"Loh kenapa?" tanya Arif dengan mengernyitkan keningnya.
"Faudzan selingkuh, Mas. Gara-gara dia ingin mengecup ini." Asti menempelkan jari telunjuk pada bibir ranumnya. Seketika Arif pun tertawa.
"Pffffttt, hhhahahaha. Lalu, kamu memperbolehkan Faudzan untuk melakukannya?"
"Hah, ya jelas tidaklah Mas. Kesucian bibir ini, hanya untuk suamiku seorang. Bukan pacar ataupun TTM." Asti mengerucutkan bibirnya.
Arif mengacak rambut Asti dengan gemas.
"Bagus adik kecil, hahahaha...."
"Jangan panggil aku adik kecil Mas!!! Asti yang sekarang sudah gede."
"Berarti sudah siap untuk menikah dong," canda Arif disertai tawa renyah.
"Ya sudahlah. Memangnya Mas Arif mau menikahi Asti?" Asti mengerlingkan mata.
"Uhuk, uhuk...."
Arif tersedak mendengar ucapan gadis yang kini tengah duduk di hadapannya.
Asti menepuk-nepuk punggung Arif dengan pelan.
"Mas Arif tersedak apa?"
"Huffffftt, tersedak ucapanmu As."
"Pffftttt, hhhahaha. Ya Allah Mas, aku cuma bercanda. Tapi kalau dianggap serius juga Alhamdulillah." Asti menampakan wajah puppy eyes, hingga membuat Arif terpana melihat wajahnya yang menggemaskan.
"Hemmmzzz, aku menganggapnya serius As."
Arif menatap kedua manik hitam Asti lekat-lekat.
"Ehemmm, jangan membuatku grogi Mas! Mana mungkin seorang tuan muda bersedia menikahi gadis biasa." Asti mengalihkan pandangannya dengan menatap pohon beringin kembar dan berusaha menahan gejolak rasa. Asti merasakan debaran yang tak biasa ketika Arif menatapnya lekat.
"As, kalau aku serius ingin menikahimu bagaimana?"
"Mas Arif, jangan bercanda! Aku takut ini hanyalah mimpi seorang gadis sepertiku, Mas."
Arif meraih tangan Asti dan menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
"Asti Ananta Putri, bersediakah mendampingiku dikala senang maupun susah?"
Dada Asti berdegup kencang, lidahnya seakan kelu. Ia tak percaya seorang tuan muda mengucapkan kata-kata yang membuatnya melambung.
"Asti...."
"Emmmm, Ya Mas. A-aku bersedia Mas," jawab Asti dengan menundukan wajahnya yang sudah terhiasi emote love, echhh rona merah. 😍
"Alhamdulillah, trimakasih ya As."
"Iya Mas."
"Mungkin kamu akan berpikir, mengapa aku terlalu cepat melupakan Nita?"
Perlahan, Asti menengadahkan wajah dan menatap pantulan dirinya pada kaca mata yang bertengger di hidung mancung Arif.
"Tentu Mas.Tapi, Asti tidak peduli. Seandainya Mas Arif belum bisa melupakan Mbak Nita, itu bukan menjadi masalah Mas. Perlahan Mas Arif pasti bisa melupakannya."
"Iya As. Jujur, saat ini aku belum mampu melupakan Nita. Namun, kehadiranmu mampu membuat hariku seolah berwarna. Aku merasa nyaman bila berada di dekatmu As." Arif melepaskan genggaman tangannya dengan perlahan.
"Aku juga Mas. Betapa nyamannya bila selalu berada di dekat Mas Arif."
"Jika kamu tidak keberatan, Insya Allah seminggu lagi aku akan datang bersama papa dan mama untuk melamarmu, As."
Hati Asti semakin berbunga-bunga. Wajah cantiknya dipenuhi rona merah.
"Achhh Mas Arif, so sweet banget. Tentu saja aku bersedia Mas." Asti menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
visual Arif dan Asti
🌹🌹🌹
Malam ini, Abimana nampak serius menatap layar datar yang berada di hadapannya. Jari-jari tangannya seakan tak mau berhenti menari di atas keyboard.
Sedangkan Kirana, ia tengah asik bermain game cacing.
Tiba-tiba wanita cantik itu terperanjat saat seekor cicak jatuh tepat di lengannya.
"Arghhhhhh...." Kirana beranjak dari duduknya sambil menyentil si cicak.
Abimana yang terkejut mendengar teriakan Kirana, segera menyudahi akfivitasnya dan menaruh laptop di atas nakas. Kemudian ia berjalan mendekati sang istri.
"Ada apa Sayang?"
"By, ada cicak." Kirana bergidik ngeri.
"Mana cicaknya?"
"Sudah pergi. By, masih lama?"
"Hemzz, sebenarya masih banyak yang harus dikerjakan, tapi ...."
Kirana sedikit mengernyitkan keningnya.
"Tapi apa By?"
"Tapi, sepertinya Sayang sudah merindukan suamimu yang mirip dengan Caesar Hito ini. Iya kan?" Abimana mengusap pipi istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Tuch tau. Aku bosen By, ayo kita keluar jalan-jalan!"
"Sudah malam Yank. Besok saja ya?"
"Aku maunya sekarang By. Kalau Hubby nggak mau, aku jalan-jalan sendiri saja." Kirana menghentakan kakinya. Ia pun berjalan keluar kamar dengan mulut komat-kamit.
"Suami nggak ngertiin istri, maunya di dalam kamar terus. Ngertiin aja tuch si Shelly sampai jarinya pegel."
Abimana tersenyum geli melihat tingkah istri comelnya. "Hadech, laptop juga kamu beri nama Shelly, Yang."
Abimana segera menyambar jaket denimnya dan mengambil jaket Kirana. Ia pun berjalan dengan langkah panjang menyusul sang istri.
"Sayang, tunggu sebentar!"
Kirana tetap tidak menoleh dan terus melangkahkan kakinya.
Abimana dengan sigap menarik tangan Kirana.
"Sayang, pakai jaketmu dulu ya! Di luar dingin. Jangan marah, kasihan dedek bayinya yang ada di dalam perut." Abimana mengelus perut Kirana yang datar disertai seulas senyum.
"What? Dedek bayi? Aku kan belum hamil By."
"Makanya jangan kendor berikhtiyar, Sayang! Suci sudah hamil dua bulan, Sayang kapan?" Abimana tersenyum lebar.
"Hishhhh, nggak usah membahas soal hamil! Ya kalau aku bisa hamil, kalau tidak apakah Hubby akan meninggalkanku, seperti si Adam yang pada akhirnya selingkuh dengan Arumi?" Tiba-tiba saja wajah Kirana berubah sendu.
Abimana mendekap istrinya ke dalam pelukan.
"Sayang jangan bicara seperti itu! Aku yakin Insya Allah kita akan dianugerahi keturunan. Andaikata tidak pun, tetaplah berada di sisiku! Karena pria ini tidak akan sanggup hidup sendiri tanpamu. Ingat Yang, aku bukan tipe pria yang mudah membagi hati!"
Kirana merasa tersentuh dengan ucapan suaminya. Ia pun membalas pelukan Abimana dengan erat.
"Sayang, kita jadi jalan-jalan?" tanya Abimana seraya berbisik dengan suaranya yang terdengar menggoda.
"Tidak By, malam ini kita ikhtiyar lagi."
"Yessss," batin Abimana. 😌😌
"Hemmmm, baiklah Sayangku." Abimana perlahan melerai pelukan mereka. Tangan kekarnya mengangkat tubuh sang istri dan ia pun segera berjalan menuju kamar dengan membopong Kekasih halalnya.
Kirana mengalungkan tangannya di leher Abimana. Tatapan kedua netranya tidak berpaling dari paras rupawan sang suami.
Malam ini tercipta kemesraan diselipi untaian harapan, agar benih yang ditanam segera menjelma menjadi seorang malaikat kecil di dalam rahim.
🌹🌹🌹🌹
Readersss dan sobat author, trimakasih karena telah berkenan membaca kisah Abi dan Kiran. 😇🙏
Jangan lupa tinggalkan like 👍
Beri komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote jika berkenan
Klik emote ❤ untuk fav. novel
Trimakasih dan happy reading 😘😘😘
__ADS_1