
Langit tertoreh warna jingga nan indah, tanda swastamita telah menampakan rupanya nan elok.
Seharusnya swastamita menjadi pemandangan yang sangat romantis bagi sepasang kekasih, namun tidak bagi Mishel dan Adam yang kini tengah duduk di kafe milik Raikhan.
Sebelum menerima pinangan dari Farhan, seorang dokter sekaligus ustadz muda yang terkenal di kota ini, Mishel ingin berbicara dari hati ke hati terlebih dahulu dengan Adam. Besar harapan Mishel, cintanya mendapat sambutan dari Adam, meski serasa mustahil. Namun tidak salah kan bila Mishel mengutarakan rasa cintanya pada Adam, untuk yang kesekian kalinya? Bahkan ... mungkin untuk yang terakhir kali.
Mishel rela merendahkan dirinya hanya untuk seorang Adam. Pria yang tak sempurna namun mampu bertahta di hati seorang gadis yang cantik rupa dan akhlaknya.
Sebenarnya apa kekurangan Mishel di mata Adam? Jawabnya ... tidak ada. Bahkan Mishel adalah seorang wanita yang begitu sempurna. Adam hanya tidak ingin menyakiti Mishel, karena di dalam hati Adam masih terukir nama Shelly, wanita yang semasa hidupnya sering ia sia-siakan.
"Dam, aku ingin kita bicara dari hati ke hati. Kamu tentunya tau bahwa dari dulu perasaan cintaku ini tidak pernah pudar sedikitpun. Dam, lusa ... Farhan berniat meminangku. Sebenarnya aku ingin sekali menolak niat baik Farhan karena di hati ini hanya terukir namamu." Mishel berusaha memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya kepada Adam. Sebenarnya Mishel terlalu malu, namun ia berpikir, inilah kesempatan terakhir baginya untuk menentukan perjalanan hidup di kemudian hari.
"Dam, bisakah hatimu terbuka sedikit saja untuk aku?" tanya Mishel penuh harap.
Adam menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Ia nampak berpikir sebelum membalas ucapan Mishel.
"Mishel, kamu berhak mendapat kebahagiaan. Kamu sangat berhak bersanding dengan pria yang tulus mencintaimu, bukan dengan pria sepertiku. Mishel, apa kamu siap jika bersanding dengan pria yang tidak pernah memiliki perasaan terhadapmu? Apa hatimu tidak akan terluka jika pria itu enggan melakukan kewajibannya sebagai seorang suami karena masih mencintai wanita lain? Oleh karena itu, aku meminta berbahagialah dengan menerima pinangan dari Farhan, Mis!"
DEG
Ucapan Adam melebihi tajamnya sebilah pisau belati, bahkan mungkin setara dengan ribuan anak panah yang menghujam dada.
Sakit. Tentu saja hati Mishel teramat sakit. Andai ia tidak takut pada murka Robb sang pemilik nyawa, saat ini juga ... Mishel ingin menghujamkan pisau belati tepat ke jantungnya, hingga ia tidak akan lagi merasakan sakit karena patah hati untuk yang kesekian kalinya.
Mishel membuang nafas kasar. Netranya memanas. Ia tahan buliran kesedihan yang sudah menganak di kelopak mata.
"Baiklah Dam, sekarang sudah jelas. Kamu memang tidak pernah membalas perasaan cintaku. Aku akan pergi Dam. Mulai detik ini, aku tidak akan lagi menemui Tiara. Jaga Tiara, jangan pernah menyakiti hati putrimu, Dam!"
Mishel beranjak dari posisi duduknya. Ia berdiri dan bersiap untuk melangkah pergi. Namun Adam mencegahnya.
"Mishel, maaf! Sebaiknya kita berbuka puasa terlebih dahulu. Nanti, aku akan mengantarmu pulang."
Mishel berusaha mengulas senyum, meski serasa sulit. "Aku bisa pulang sendiri, Dam. Aku sudah memesan taxi online."
__ADS_1
"Tapi Mis ...." Sebelum Adam beranjak dari posisi duduknya, Mishel bergegas mengayunkan kaki. Pandangan netra Adam terpaku pada objek yang berjalan semakin menjauh. Kaki Adam serasa berat untuk berlari mengejar Mishel. Andai saja Adam mampu membuka sedikit saja hatinya untuk Mishel saat ini, mungkin kelak ia tidak akan diselimuti oleh rasa penyesalan karena telah menyia-nyiakan cinta dari seorang wanita yang salehah untuk kesekian kali.
.
.
Tiba-tiba, langit yang tadinya cerah, kini berubah mengabu, seolah ikut merasakan kesedihan Mishel.
Mishel keluar dari taxi online ketika tiba di taman yang dipenuhi oleh bunga bougenvil. Ia berjalan menuju sebuah bangku taman berwarna putih. Mishel pun duduk di bangku tersebut.
Di bawah guyuran air langit, Mishel meneriakan nama Adam sambil memegang dadanya yang serasa teramat sakit. "Adam......." Bulir kesedihan yang sedari tadi ia tahan, pada akhirnya lolos juga.
"Adam...." Lagi-lagi Mishel meneriakan nama pria yang masih sangat dicintainya. Tangis Mishel semakin menjadi tatkala mengingat ucapan Adam. Betapa hancurnya hati Mishel saat ini. Mungkin, butuh waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan luka karena cinta yang tak terbalaskan.
Mishel terus menangis. Beruntung tidak ada orang lain yang berada di taman, hanya gemericik air hujan yang mengiringi lengkingan tangis menyayat hati.
"Allah, salahkah perasaan cinta ini? Haramkah bila hamba masih mengharapkan cinta darinya? Ampuni hamba-Mu yang lemah iman ini, ya Robb." Tubuh Mishel bergetar. Ia memukul-mukul dadanya yang masih terasa sakit.
Mishel mencoba menenangkan diri dengan melantunkan istighfar berulang kali. Ia seka jejak air mata yang membasahi wajah cantiknya dengan jemari tangan.
"Ya Allah, mungkinkah Farhan pria terbaik yang Engkau pilihkan untuk hamba-Mu ini? Jika iya, bukalah pintu hati hamba untuk menerima Farhan..."
Setelah tangisnya mereda, Mishel beranjak dari posisi duduk. Ia melangkahkan kaki melewati jalanan menuju rumahnya.
Air langit yang masih turun dengan derasnya, bagai nyanyian alam pengiring kesedihan yang semakin meraja.
Walau aku senyum bukan berarti
Aku selalu bahagia dalam hari
Ada yang tak ada di hati ini
Di jiwa ini
__ADS_1
Hampa
Kubertemu Sang Adam di simpang hidupku Mungkin akan ada cerita cinta
Namun ada saja cobaan hidup
Seakan aku Hina
Tuhan, berikanlah aku cinta
Untuk temaniku dalam sepi
Tangkap aku dalam terang-Mu
Biarkanlah aku punya cinta
Tuhan, berikanlah aku cinta
Aku juga berhak bahagia
Berikan restu dan halal-Mu
Tuhan, beri aku cinta
(Ayu Shita)
🌹🌹🌹
Ehemmm, again nggak nich??? 😁😁😁
Jangan lupa tinggalkan jejak like, supaya othornya nggak mewek ya guys... 😅😅😅
Trimakasih dan happy reading 💓💓💓
__ADS_1