
Desahan sang bayu, mengiringi lantunan kalam cinta yang terdengar sangat indah. Semua mata tertuju pada pemilik suara, seorang dokter muda yang memiliki paras cantik, berkepribadian unik, Ayunda Kirana.
"Maha benar Allah atas segala firman-Nya." Kirana menutup mushaf dan menciumnya.
"Masya Allah," ucap Abimana, mengagumi Kirana, sahabat sekaligus calon istrinya.
Usai terlantun kalam cinta, acara selanjutnya adalah kata sambutan, yang diwakili oleh Tama. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian maksud dan tujuan kedatangan Ilham beserta rombongan, yang disampaikan oleh Ridwan.
Arya, memberikan jawaban atas apa yang telah disampaikan oleh Ridwan. Kedua keluarga pun menetapkan tanggal pernikahan Ilham dan Suci, yang akan dilaksanakan dua minggu setelah acara lamaran.
Acara pun berlanjut, dengan penyerahan seserahan.
Tibalah acara yang dinantikan, yaitu penyematan cincin.
Kirana memberikan kotak cincin kepada ibundanya. Ratri menerima kotak itu disertai seulas senyum.
Meski heran dengan bentuk kotak yang berukuran agak besar, Ratri tetap membuka kotak tersebut.
"Hah ...." Ratri terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Kirannnnn, ya Allah. Kenapa cincinnya ada lima?" tanya Ratri dengan berbisik.
"Bu, Kirana sengaja menyiapkan cincin itu semua, agar ikatan cinta mereka semakin kuat. Kalau hanya satu cincin, Kiran rasa kurang mengeratkan ikatan Mbak Suci dan Bang Ilham. Nah, dihari pernikahan mereka, Kiran akan menyiapkan cincin lima lagi, jadi genap sepuluh cincin yang akan menghiasi jari Mbak Suci. Lagi pula jari Mbak Suci kan masih polos, belum terhiasi apapun Bu," jawab Kirana, disambut gelak tawa para hadirin yang mendengarnya.
"Astaghfirullah ...." Ratri memijat keningnya yang serasa pusing karena ulah si comel Kirana.
Ilham mengelus dada, dalam hatinya berucap, "Ya Allah, ternyata cincin yang dibeli Kiran berjumlah lima. Pantas saja, Kiran meminta uang lima puluh juta untuk membeli cincin."
Abimana menahan tawa, ingin rasanya pria tampan itu menyentil kening Kirana.
__ADS_1
"Ya Allah, Kiran. Sungguh ulahmu selalu membuatku gemas," bisik Abimana dalam hati.
Ratri menghela nafas, kemudian ia pun mengambil satu buah cincin, dan disematkan pada jari manis sebelah kiri calon menantunya.
Meski diiringi dengan gelak tawa, namun prosesi lamaran terkesan penuh khidmad.
Setelah penyematan cincin, semua hadirin dipersilahkan untuk menikmati hidangan sederhana yang telah disediakan.
Sebagai acara penutup, Soleh memimpin doa untuk kedua insan yang sebentar lagi akan mengikat janji suci, pernikahan.
🌹🌹🌹
Setelah acara lamaran usai, Ilham mengutarakan keinginannya kepada Abimana, Hasan, dan Arini. Sedangkan Kirana, Ridwan dan Ratri, mereka berbincang dengan Arya beserta putrinya, di tempat duduk yang berbeda.
"Mohon maaf sebelumnya, jika saya lancang menyampaikan keinginan seorang kakak untuk kebaikan dan kebahagiaan sang adik. Saya berkeinginan agar Bima segera melamar Kirana secara resmi. Kemudian menikahi Kirana, bersamaan dengan dilangsungkannya pernikahan saya dan Suci," ucap Ilham.
Hasan, Abimana, dan Arini terdiam, mereka berpikir sejenak.
"Saya bersedia melamar Kirana dengan segera, Yah. Saya juga sependapat dengan Bang Ilham, untuk menyegerakan pernikahan, agar tidak timbul fitnah," jawab Abimana tanpa ragu.
Hasan mengambil nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan.
"Sebenarnya, Ayah juga sangat bahagia jika kamu segera menikah Bim. Namun, menurut adat Jawa, pernikahan adik dan kakak, tidak boleh dilaksanakan di tahun yang sama," ucap Hasan memberi pengertian.
"Maaf Pakdhe, menurut saya, kita jangan terlalu takut dengan cerita mitos. Semua yang terjadi adalah kehendak-Nya. Jadi, jangan menghubungkan apapun dengan mitos!" balas Ilham.
"Baiklah kalau begitu, besok kami akan melamar Kirana untuk menjadi istri Abimana. Dan saya juga menyetujui, bila pernikahan kalian dilaksanakan secara bersamaan."
"Alhamdulilah," ucap Ilham dan Abimana hampir bersamaan. Nampak raut wajah penuh kebahagiaan yang menyelimuti mereka berdua.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
Tiba saatnya Ilham beserta rombongan berpamitan.
"Suci, Mas pamit dulu. Jangan lupa bangun di sepertiga malam, untuk merayu pada-Nya!" ucap Ilham disertai senyuman yang menawan.
"Iya Mas, Suci akan bangun disepertiga malam. Semoga apa yang kita pinta, dikabulkan oleh Sang Maha Cinta. Mas, hati-hati ya!" ucap Suci, kedua netranya berkaca-kaca. Seolah gadis manis berlesung pipi tidak rela berpisah dengan calon suaminya.
"Iya Suci, Mas akan berhati-hati. Asalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Mas," balas Suci disertai senyuman yang sangat manis menghiasi bibirnya.
Para pria saling berjabat tangan, sedangkan Arini, Ratri, dan Kirana memeluk erat tubuh Suci.
Ilham beserta rombongan, melangkahkan kaki, meninggalkan rumah Arya.
Arya dan Suci menatap mereka hingga menghilang dari pandangan.
🌹🌹🌹🌹
Readerssss maafkan akuhhh yang up.nya sehari hanya satu kali 😩😩🙏🙏🙏
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like 👍
Komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote untuk mendukung author
__ADS_1
Happy reading dan trimakasih 😘😘😘