
Langit terlihat mendung tanpa senyuman sang bidadari malam dan taburan bintang. Angin bertiup sangat kencang, menerbangkan dedaunan.
Sepasang kekasih masih nampak bercengkrama, kedua netra mereka menatap keluar jendela.
"Bie, malam ini sepertinya akan turun hujan." Kirana menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, sedangkan tangan kekar Abimana melingkar di pinggang istrinya.
"Iya Yang. Dingin-dingin begini enaknya makan mie kuah." Abimana mengembangkan senyuman.
"Hubby ingin makan mie kuah?"
"Iya, mie kuah tapi nggak pakai mie."
Seketika mata Kirana membulat.
"Mie kuah tanpa mie? Maksudnya?" Kirana menengadahkan wajah, kemudian menggulirkan pandangannya menatap kedua manik hitam Abimana.
"Ya mie kuah, tapi nggak pakai mie. Terus dikasih taburan daun sledri tapi nggak pakai daunnya, Yang."
Kirana mencoba menelaah ucapan suaminya.
"Hemmm, aku mengerti maksudmu Bie. Sebentar, aku akan memasak mie kuah tanpa mie untukmu."
"Asikkkk, makasih cintaku..." Abimana melepaskan lingkaran tangannya dan memberikan kecupan pada pipi sang istri.
"Heem, Bie." Kirana mengulas senyum.
Kirana beranjak dari duduk, kemudian berjalan keluar kamar.
.
.
Kirana mulai memasak apa yang diinginkan oleh suaminya. Mie kuah tanpa mie.
Tanpa ia sadari, Abimana memeluk dari belakang dan menyandarkan dagunya di pundak.
"Bie lepaskan dulu pelukanmu! Bagaimana aku bisa memasak kalau Hubby seperti ini."
"Aroma tubuhmu sangat wangi Yang. Rasanya aku ingin menempel terus."
"Hubby." Kirana membalikan badan dan menatap wajah suaminya dengan intens.
"Bie, harusnya aku yang manja, kan aku yang sedang hamil." Bibir Kirana mengerucut.
"Iya, seharusnya. Aku juga bingung Yang. Kenapa malah aku yang ngidam? Hufttt." Abimana membuang nafas dengan kasar.
"Bie, mie nya hampir matang. Hubby nunggu sambil duduk dulu ya!"
"Baiklah Sayang." Abimana melerai pelukannya. Pria tampan itu pun meninggalkan istrinya dan duduk di depan meja makan.
Kirana menuangkan kuah mie ke mangkuk dengan menyaring mienya terlebih dahulu, kemudian ditaburkannya batang sledri dan bawang merah.
Setelah siap untuk disajikan, Kirana membawa semangkuk mie kuah tanpa mie ke hadapan suaminya.
"Taraaa... Sudah siap Bie, mie kuah tanpa mienya."
Mata Abimana membulat dengan sempurna, senyumnya merekah. "Wowwww, sudah nggak sabar menyantapnya, Yang."
Kirana menaruh semangkok mie kuah tanpa mie di atas meja makan.
Abimana mulai menyendok kuah mie kemudian memasukannya ke dalam mulut. Kedua matanya menyipit.
"Uhuk..."
"Kenapa Bie?" Kirana bertanya dengan heran.
"Kuahnya asinnnnn, Yang."
__ADS_1
Kirana memasukan satu sendok kuah mie ke dalam mulutnya.
"Apanya yang asin? Enak kog Bie."
"Tapi beneran asin, Yang."
"Hadechhhh Bie, beneran nggak asin kog."
"Huh, yasudah aku mau tidur saja." Abimana memasang raut wajah cemberut. Kemudian beranjak dari duduk dan berjalan menaiki tangga.
Kirana berdecak kesal dengan kelakuan sang suami yang berubah 180 derajad. Manja dan bertambah menggemaskan.
.
.
Kirana segera menyusul suaminya setelah mencuci peralatan masak dan mangkuk. Nampak Abimana sudah tertidur di atas ranjang dengan terlentang.
"Bie, kamu manja sekali sehingga membuatku teramat gemasssss." Kirana mengusap pipi Abimana kemudian menciumnya.
"Selamat malam Hubby." Kirana mulai merebahkan tubuhnya di samping sang suami.
.
.
Suara petir menggelegar di sela-sela derasnya air hujan yang seolah tak mau berhenti tertumpah. Bagaikan isyarat alam, suara binatang malam terdengar bagai rintihan.
"Jangan, jangan lakukan itu padaku!!!! Jangan!!! Pergilah, jangan usik kebahagiaanku!!" igau Kirana, entah apa yang sedang terjadi padanya di alam mimpi. Peluh Kirana bercucuran, tangannya memukul-mukul dada Abimana yang masih terlelap, meski kedua netranya masih terpejam.
Dug... dug...
Kirana semakin keras memukul-mukul dada sang suami, hingga membuat pria yang dipukulnya terbangun. Perlahan Abimana membuka kedua netranya.
"Sayang, kamu mimpi apa?" tanya Abimana dengan suaranya yang terdengar lirih. Pria tampan itu meraih tangan sang istri.
"Sayang, bukalah matamu!!" Abimana menepuk-nepuk pipi Kirana dengan pelan.
Perlahan Kirana membuka kedua netranya.
Seketika Kirana memeluk Abimana dengan erat. Bibirnya gemetar, "By, aku takut."
Abimana membalas pelukan istrinya dan mengecup pucuk kepala Kirana seraya memberikan ketenangan.
"Sayang mimpi apa? Kenapa sampai membuat Sayang ketakutan?"
"Bie, ada seseorang yang ingin memisahkan kita. A-aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu Bie. Orang itu akan menodai kehormatanku sebagai seorang istri, Bie." Lolos sudah buliran bening yang keluar dari kedua sudut netra Kirana. Tubuh Kirana gemetar, seolah merasakan ketakutan yang amat sangat.
Abimana mengusap-usap punggung Kirana.
"Sssssttt, sudah jangan menangis lagi Yang! Ingat, Sayang harus bisa mengendalikan emosi! Kasihan si kecil yang ada di dalam perut." Abimana melerai pelukan dengan perlahan, lalu menggeser kepalanya tepat di depan perut sang istri yang masih terlihat datar.
CUP
Abimana mengecup kemudian mengusap perut Kirana.
"Sayang, sehat terus ya Nak! Hiburlah Bunda, agar tidak bersedih! Ayah dan Bunda, menanti kehadiranmu di dunia."
Kembali Abimana memberikan kecupan-kecupan di perut Kirana.
"Bie."
"Iya, Sayang."
"Bie, apapun yang terjadi, sudikah kamu untuk selalu mencintaiku?" Kirana menampakan raut wajah sendu.
Abimana kembali menggeser kepalanya tepat di hadapan sang istri. Kini mereka berdua saling berhadapan. Disekanya jejak air mata dari wajah cantik Kirana.
__ADS_1
"Untuk apa Sayang bertanya seperti itu, hemmm?? Cintaku tidak akan pernah pudar sedikitpun, Yang."
Abimana mencium bibir Kirana yang masih nampak gemetar dengan lembut. Hangat, Kirana merasakan kehangatan dan rasa cinta yang begitu dalam ketika bibir mereka saling bertaut.
Perlahan keduanya saling melepas tautan bibir setelah nafas mereka semakin tidak beraturan.
"Bie, aku sangat mencintaimu." Kirana menatap kedua manik hitam suaminya.
"Aku pun sangat sangat sangat mencintaimu istriku. Sudah terdengar adzan subuh, yuk kita berwudhu!"
"Iya Bie."
🌹🌹🌹
Adzan subuh berkumandang, membangunkan setiap insan dari tidur mereka yang lelap, seraya mengajak untuk bergegas menghadap Robb seluruh alam. Ilham mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Astaghfirullah, kenapa mimpiku semalam sangat buruk??"
Ilham menengadahkan kedua telapak tangannya seraya memohon perlindungan kepada pemilik alam semesta.
"Allahumma innii 'audzubika min 'amalais syaythooni wa sayyiatil akhlaami."
"Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan setan dan dari mimpi-mimpi yang buruk".
Setelah memanjatkan doa, Ilham mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Pandangannya beralih pada sang istri yang masih terlelap. Ilham mencium pipi Suci dengan lembut.
"Sayang, bangunlah! Sudah waktunya kita menjalankan ibadah sholat subuh."
Kedua kelopak mata Suci mulai bergerak-gerak. Perlahan kedua netra wanita berlesung pipi itu membuka dengan sempurna.
"Sudah adzan subuh, Mas?"
"Sudah Sayang. Ayo kita bersujud kepadaNya!"
"Huum Mas."
Tatapan mata Ilham tertuju pada perut istrinya yang sudah membesar. Kemudian diusapnya perut sang istri dengan pelan.
"Asalamu'alaikum buah hati abi dan umi." Ilham mengembangkan senyuman.
"Wa'alaikumsalam Abi." Suci menirukan suara anak kecil disertai senyuman yang menampakan kedua lesung pipinya.
"Yuk kita sembahyang! Kelak, jadilah seorang anak yang berbakti kepada Allah serta abi dan umi ya Nak!"
"Iya Bi, Insyaallah dedek akan menjadi seorang anak yang berbakti."
Perlahan Ilham beranjak dari ranjang diikuti oleh Suci. Mereka berdua mengambil air wudhu kemudian mulai bersiap menjalankan ibadah sholat subuh.
🌹🌹🌹🌹
Readerssss jangan lupa untuk meng-update aplikasi Mangatoon ataw Noveltoon, yakk!! Supaya tetap bisa mendukung karya para author.
So, jangan lupa tinggalkan jejak like 👍
Komentar
Vote jika berkenan
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Klik emote ❤ untuk favoritkan novel
Trimakasih dan happy reading ❤❤❤
__ADS_1