
Kedua netra Abimana membulat sempurna tatkala mengetahui tamu yang mendatangi rumahnya. Yapz, dua orang pria berseragam polisi. Abimana terkesiap, jantungnya berdetak kencang. Abimana bertanya di dalam hati, kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga polisi mendatangi rumahnya.
"Selamat siang, mohon maaf, apa benar anda Pak Bima?" tanya salah seorang polisi yang bernama Bejo dengan nada tegas.
"Ya, saya Bima, Pak," jawab Abimana, mencoba untuk tetap tenang.
"Istri anda berprofesi sebagai seorang dokter obgyn?"
"Ya, benar Pak. Hanya saja, hampir satu tahun istri saya sudah tidak lagi bekerja sebagai seorang dokter obgyn. Maaf, sebenarnya ada keperluan apa, sehingga Bapak-Bapak mendatangi rumah kami?"
"Begini Pak, narapidana atas nama Diana Kharisma Putri akan segera melahirkan. Diana mengatakan bahwa ia hanya akan melahirkan bila Dokter Kiran yang membantunya bersalin."
Abimana kembali terkesiap mendengar ucapan Bejo. Di dalam hatinya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan. "Apa yang sedang direncanakan oleh Diana? Bagaimana mungkin Diana hamil saat berada di dalam penjara? Mengapa Kiran yang harus membantu kelahiran bayi wanita uler keket itu?"
"Pak, sebaiknya Dokter Kiran segera pergi ke lapas! Kasihan Diana sudah sejak semalam merintih kesakitan, namun bersikeras tidak bersedia kami bawa ke rumah sakit."
"Baiklah Pak, saya akan menyampaikannya kepada istri saya." Tanpa Abimana sadari, Kirana sudah berdiri di belakangnya dengan menggendong Keanu.
"Ada apa Bie?" tanya Kirana. Wanita cantik itu pun sangat terkejut melihat dua orang polisi yang berdiri di hadapan sang suami.
Sebelum Abimana sempat menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kirana, Bejo menyahutnya terlebih dulu, "Begini Bu, kedatangan kami ke rumah anda berdua, dengan maksud untuk memberitahu bahwa narapidana atas nama Diana Kharisma Putri sepertinya sedang mengalami kontraksi. Sejak semalam Diana merintih kesakitan. Kami sudah berniat membawanya ke rumah sakit, namun Diana bersikeras menolak. Diana hanya ingin melahirkan dengan bantuan Dokter Kiran."
Kirana mengerutkan sedikit keningnya. Ia mencoba menelaah apa yang telah disampaikan oleh Bejo.
"Diana akan melahirkan? Lantas, siapa ayah dari bayi yang dikandung oleh Diana?"
"Singkat cerita, selama tinggal di lapas, Diana telah beberapa kali berhubungan intim dengan Tukiyo alias Alden, hingga menyebabkan Diana hamil."
"Siapa Alden? Mengapa mereka bisa berhubungan intim? Apa tidak ada penjaga lapas yang mengawasi mereka?" Kirana kembali melontarkan beberapa pertanyaan, seolah ia belum yakin dengan kehamilan Diana. Bisa saja kan, Diana sedang merencanakan sesuatu meski tinggal di balik jeruji besi?
"Alden adalah mantan penjaga lapas. Namun semenjak mengetahui bahwa Diana hamil, Alden mengundurkan diri dari pekerjaannya dan pergi ke Kalimantan. Kami sudah berusaha menghubunginya, namun nomor Alden selalu saja tidak aktif."
Kirana membuang nafas kasar.
"Bagaimana keadaan Diana saat ini?"
"Diana terlihat lemah, rintihannya juga semakin sering terdengar."
"Baiklah, saya akan segera pergi ke lapas."
"Trimakasih Bu Dokter, kami tunggu kedatangan anda di lapas."
Kirana menganggukan kepalanya pelan.
__ADS_1
Setelah Bejo dan rekannya melangkah pergi, Kirana dan Abimana bergegas berjalan menuju kamar, mengambil peralatan medis yang akan digunakan untuk membantu proses kelahiran anak dari wanita yang sangat dibencinya.
Sesampainya di kamar, Kirana menyerahkan Keanu pada Abimana. Ia pun segera mengganti pakaiannya. Setelah berganti pakaian, Kirana menenteng koper yang sudah berisi peralatan medis.
"Ayo Bie, kita berangkat sekarang!" ajak Kirana.
Abimana menatap manik mata Kirana dengan intens. "Apa Bunda yakin akan membantu proses kelahiran anak dari wanita yang pernah berusaha menghancurkan rumah tangga kita?"
Kiran membalas tatapan suaminya. "Iya Bie. Insya Allah."
"Baiklah, kita akan segera pergi ke lapas. Bismillah, semoga tidak akan terjadi sesuatu yang buruk."
"Semoga Bie, kita titipkan Keanu pada ibu ya?"
"Iya Bunda. Sebelum ke lapas, kita mampir terlebih dahulu ke rumah ibu dan menitipkan Keanu kepada beliau."
"Hehem."
🌹🌹🌹
Setelah menitipkan Keanu kepada Ratri, Abimana dan Kirana melanjutkan perjalanan mereka menuju lapas.
Usai menempuh perjalanan hampir setengah jam, mereka pun sampai di parkiran lapas. Abimana dan Kirana segera keluar dari dalam mobil. Mereka disambut oleh dua orang polisi yang bernama Bejo dan Gepeng.
Mereka berdua memasuki lapas dengan mengeratkan gandengan tangan, seolah saling menguatkan. Jujur saja, bila membayangkan wajah Diana, Kirana merasa sangat muak. Apa yang pernah Diana perbuat, meninggalkan luka yang teramat dalam.
.
.
Sesampainya di salah satu sel tahanan, polisi membuka pintu sel. Nampak Diana sedang terbaring di ranjang yang telah disediakan oleh penjaga lapas.
Kirana terkesiap saat mengetahui keadaan Diana, begitu juga dengan Abimana. Mereka tidak percaya seorang Diana terbaring dengan kondisi tubuhnya yang sangat memprihatikan. Wanita cantik itu kini berubah bagai bunga yang layu.
"Kiran, Pak Bima...." Suara Diana terdengar lirih. Kedua netranya nampak berbinar melihat kedatangan Abimana dan Kirana.
"Di, aku akan menghubungi rumah sakit terdekat agar segera mengirimkan mobil ambulance."
"Tidak usah Kiran! Aku hanya ingin kamu yang membantu proses kelahiran bayiku dan Pak Bima bersedia mendampingi."
Kirana membuang nafas kasar. "Hufttt, jangan membantah, Di!"
"Ukhmmmm....." Diana merintih sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Segera lakukan sesuatu untukku Kiran!"
Kirana segera memeriksa Diana terutama pada bagian servisk.
"Di, dengan melihat fisikmu seperti ini, aku berharap kamu bersedia kami bawa ke rumah sakit. Sebentar lagi sudah waktunya bayimu akan lahir."
"Tidak Kiran. Aku ingin melahirkan di tempat ini dan dengan bantuanmu."
"Bie, segera hubungi Om Anggara! Beritahu beliau bahwa putrinya akan segera melahirkan!" titah Kirana kepada suaminya.
"Baiklah Bund." Abimana segera menghubungi Anggara. Dengan sekali panggilan, Anggara menerima telepon dari Abimana.
📞 "Asalamu'alaikum, Om Anggara."
📞 "Wa'alaikumsalam. Ya, ada apa Bima?"
📞 "Om, Diana akan segera melahirkan di lapas."
📞 "Biarkan saja Bim! Aku sudah tidak menganggap Diana sebagai putriku. Aku juga tidak sudi menerima anak yang akan dilahirkan oleh wanita itu sebagai cucuku."
📞 "Tapi Om ...."
Tut ... tut .. tut ....
Anggara memutus sambungan telepon.
"Bagaimana Bie?" tanya Kirana. Kedua netranya menatap intens wajah Abimana.
Abimana menggelengkan kepalanya pelan. "Om Anggara sudah tidak memperdulikan Diana. Beliau sudah tidak menganggap Diana sebagai putrinya dan tidak mau mengakui anak yang akan dilahirkan oleh Diana sebagai cucunya."
Kirana membuang nafas kasar. "Huftt, yasudah Bie. Aku akan berusaha membantu Diana untuk melahirkan bayinya."
Kirana bersiap-siap membantu proses kelahiran bayi Diana.
🌹🌹🌹🌹
Apa yang akan terjadi pada Diana? Mungkinkah Kirana berhasil membantu proses kelahiran bayi Diana? Jika bayi itu terlahir dengan selamat, bagaimana nasibnya nanti?
Yupssss tetap ikuti ICPA ya sobat readers dan sobat author.... 😘😘😘
Jangan lupa lho, untuk meninggalkan jejak like dan bersedia memberikan vote supaya author yang tak kece ini tetap semangat melanjutkan ICPA. 😁😁😁
Trimakasih and happy reading ❤❤❤
__ADS_1