
Abimana dan Kirana nampak berpikir sebelum mengabulkan permintaan putra mereka. Tidak mungkin mereka berdua mengijinkan Keanu tinggal di rumah Shela atau lebih tepatnya rumah keluarga Abraham, meski Keanu dan dua putri Raikhan masih kecil.
Senyum terbit di bibir Kirana saat menemukan cara agar Keanu membatalkan keinginannya untuk menginap di rumah Shela.
"Kean, ayah dan bunda tidak akan memberikan adik, jika Keanu menginap di rumah oma Shella. Lebih baik, Keanu menginap di rumah paman Ilham. Di rumah paman Ilham ada kak Nisa. Keanu bisa bermain dengan kak Nisa. Atau ... Keanu juga bisa menginap di rumah nenek Fatimah. Di rumah nenek Fatimah ada kak Dzaki."
Keanu membuang nafas kasar. "Huftt, tapi kesayangan Kean, kak Alyra dan Raina, Bund. Mereka teman istimewa Kean."
Kirana menyipitkan matanya. "Maksud Kean apa?"
Keanu menggigit bibir bawahnya. Seolah ia ragu untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang bunda.
"Mmm ... Keanu, kak Alyra dan Raina bersahabat, Bund. Kami bertiga saling menyayangi. Kata oma Shela ... kelak jika Keanu sudah besar, Keanu boleh memilih di antara mereka berdua. Oma Shela bilang, supaya mantan bisa jadi besan, Bunda."
Abimana terkekeh mendengar jawaban polos dari putranya. Sedangkan Kirana, memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja serasa pening. "Ya Allah, tante Shela ... selalu saja berpikiran konyol. Bagaimana ini, Yah? Keanu, Alyra dan Raina masih sangat kecil, bisa-bisanya tante Shela berbicara seperti itu kepada mereka."
"Sudahlah, Bund. Jangan di ambil hati ucapan tante Shela! Kita beri pengertian pada Keanu." Abimana mengusap-usap punggung Kirana seraya memberi ketenangan.
"Lebih baik, Kean, ayah dan bunda, tidak usah menginap di mana pun." Kirana sedikit meninggikan intonasi suaranya.
"Tapi Bund, kapan Kean bisa mempunyai adik, jika Keanu selalu bersama Ayah dan Bunda?" Wajah Keanu berubah sendu. Keanu merasa kecewa dengan ucapan sang bunda. Bagaimana pun juga, Keanu sangat menginginkan kehadiran adik untuk menemaninya bermain. Seperti Alyra yang sudah mempunyai seorang adik, Raina.
Abimana meraih tubuh putranya dan mendudukan Keanu di pangkuan. "Kean sayang, meski kita selalu bersama, jika Allah sudah mengijinkan, pasti Keanu akan segera diberi seorang adik. Asal ...."
"Asal apa, Yah?" tanya Keanu dipenuhi rasa ingin tahu.
"Asalkan setiap malam, Keanu mau tidur sendiri, tidak minta ditemani ayah atau bunda. Keanu juga tidak boleh mengganggu waktu istirahat ayah dan bunda di malam hari." Abimana berusaha memberikan pengertian kepada putranya. Abimana memang lebih sabar menghadapi sang putra dari pada Kirana.
__ADS_1
Keanu menganggukan kepalanya pelan. "Mmm ... baiklah kalau begitu, Yah. Tapi, segera berikan Kean adik ya, Yah, Bunda!" pinta Keanu dengan menatap wajah ayah dan bundanya secara bergantian.
Senyum penuh makna terlukis di bibir Abimana dan Kirana. Mereka mencium pipi sang putra, menumpahkan rasa cinta dan kasih sayang yang teramat besar.
"Ayah dan bunda akan berikhtiyar memberikan Keanu, adik. Keanu yang sabar ya!" pinta Kirana sembari membelai rambut putranya.
"Iya Bunda. Keanu akan bersabar. Trimakasih Ayah, Bunda."
"Iya, kesayangan ayah, bunda," balas Kirana dan Abimana bersamaan. Ketiganya pun saling berpeluk.
🌹🌹🌹
Fadhil sudah bersiap untuk pergi ke kantor, namun Hana seolah tidak rela jika berpisah sedetik pun dengan suami yang kini sangat dicintainya. Semenjak hamil, Hana ingin selalu bersama Fadhil. Entah mengapa, aroma tubuh Fadhil mampu membuatnya nyaman sehingga Hana tidak merasa mual dan muntah bila berdekatan dengan sang suami.
Dengan memasang wajah memelas sembari mengusap perutnya yang belum terlihat buncit, Hana meminta agar suaminya tidak pergi ke kantor. "Mas Fadhil, jangan pergi ke kantor! Dedek yang ada di perut, selalu ingin bersama abinya."
"Tapi ...." Lolos sudah buliran bening yang sedari tadi sudah menganak di pelupuk mata Hana. Fadhil mendekap tubuh istrinya. Ia kecup puncak kepala Hana seraya mencurahkan perasaan cinta yang mendalam.
"Hana tidak ingin berpisah dengan Mas Fadhil meskipun hanya sebentar saja. Hana ingin selalu berada di sisimu, Mas."
Senyum terlukis indah di bibir Fadhil. Ucapan Hana membuat Fadhil tersentuh dan memberi kebahagiaan yang teramat sangat. Betapa ia sangat bersyukur, kini cinta Hana teramat besar untuknya. Ruang hampa yang dulu terukir nama Adam, sudah terhapus dan hanya terukir nama Fadhil Siddiq Syam.
Perlahan Fadhil mengurai dekapannya. Ia usap jejak air mata yang membasahi wajah cantik wanita yang sedari dulu sangat ia cintai. "Humaira, jangan menangis lagi ya! Mas Fadhil akan membawa Humaira ke kantor. Bersiaplah, kenakan gamis yang bagus, supaya istri Mas Fadhil terlihat tambah cantik!" titah Fadhil dengan menatap wajah istrinya lekat-lekat.
Senyum manis terukir di bibir Hana. Binar kebahagiaan pun nampak jelas menghiasi wajah cantiknya. "Baiklah, Hana akan bersiap-siap terlebih dahulu, Mas. Mmm ... mengapa Hana harus terlihat lebih cantik?"
"Supaya tidak ada yang berani melirik suami Humaira yang berwajah handsome ini," jawab Fadhil sembari mengembangkan senyuman.
__ADS_1
Pipi Hana bersemu merah mendengar jawaban Fadhil. Yapss ... Hana mengakui bahwa Fadhil Siddiq Syam berwajah tampan dan selalu terlihat berseri. Seolah sebagai penanda bahwa sang suami adalah seorang hamba Allah yang senantiasa menjaga wudhunya.
Hana bergegas mengganti pakaian yang dikenakannya dengan gamis pilihan Fadhil.
Hana memutar tubuhnya di hadapan sang suami. "Bagaimana Mas, cantik tidak?"
Netra Fadhil tidak berkedip tatkala melihat penampilan istrinya yang memukau. "Masya Allah, cantik sekali Humaira."
"Yuk Mas, kita berangkat!" Hana mengalungkan tangannya pada lengan terbuka Fadhil.
"Mmm ... Bu Dokter tidak kangen dengan para pasiennya?" goda Fadhil dengan menoel hidung mancung sang istri.
Hana mengulas senyum. "Hana kangennya sama Mas Fadhil seorang. Setelah dedek bayi lahir, Hana akan resign dari rumah sakit, Mas."
Senyum terbit menghiasi bibir Fadhil. "Mas Fadhil sangat bahagia mendengar ucapan Humaira."
Fadhil menggenggam tangan Hana dengan erat. Sepasang kekasih yang saling mencinta karena Allah itu pun melangkah ke luar dari kamar, disertai senyum kebahagiaan yang masih terlukis jelas di bibir mereka.
🌹🌹🌹🌹
Masih bersambung guys.... 😁😁😁
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan klik hadiah atau vote untuk memberi semangat dan dukungan untuk ICPA. 💓💓💓
Trimakasih dan selamat membaca 💓💓💓
__ADS_1