
Hari ini, Abimana beserta keluarga kecilnya dan para sahabat berkumpul di Masjid Jogokariyan. Salah satu masjid yang berada di kota Jogja. Masjid Jogokariyan terkenal bukan hanya di dalam negeri, akan tetapi masjid tersebut juga sudah mendunia. Meski bukan masjid yang teramat megah, Masjid Jogokariyan seolah memiliki magnet atau daya tarik yang begitu kuat. Selain saldo infaknya yang selalu nol rupiah, di Masjid Jogokariyan juga selalu menyediakan takjil untuk berbuka puasa dalam jumlah yang tidak sedikit (ribuan).
Masjid Jogokariyan tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai tempat kesenian, sosial, dan penggerak perekonomian.
Seusai berbuka puasa dan menjalankan ibadah sholat maghrib, Abimana beserta keluarga kecilnya dan para sahabat berpamitan pada pengurus masjid.
Setelah keluar dari masjid, mereka berjalan-jalan menikmati suasana yang begitu ramai di kampung ramadhan Jogokariyan.
Banyak para pedagang yang menjajakan makanan. Ada cilok, tempe mendoan, sayur pecel, aneka jenang, dan berbagai macam minuman.
Hana dan Fadhil berjalan dengan bergandengan tangan, begitu juga Abimana dan Kirana. Seolah tak mau kalah, Raikhan berjalan dengan merangkul pundak istrinya. Sedangkan Keanu, Alyra, Raina, dan Tiara berjalan di barisan paling depan sembari bersenda gurau.
Adam dan Zain berjalan tanpa pasangan. Kebetulah Jihan tidak bisa menemani Zain karena sedang berada di luar kota.
Ilham beserta keluarga kecilnya sedang berada di Solo menghadiri undangan buka bersama dari Kyai Rahman. Sedangkan Fabian, Sindy dan anak-anak mereka berada di Jakarta, dua hari ini.
Pandangan netra Adam tertuju pada Hana yang tengah berbincang dengan Fadhil. Suara dan tingkah Hana yang begitu manja, membuat Adam menyunggingkan seulas senyum.
Tetiba Adam tersentak saat Zain menyikut pinggangnya. "Hehh, apa yang kamu lakukan, Zain? Sakit tau," ucap Adam setengah berbisik.
Zain tersenyum simpul. "Dam, jaga pandanganmu! Hana sudah menjadi istri Fadhil."
"Iya, aku tau itu. Aku hanya sedang geli saja melihat tingkah Hana yang sangat manja pada Fadhil. Hana mengingatkanku pada Shelly saat hamil muda. Aku merasa teramat bersalah tidak bisa menjaga dan menemani Shelly sampai putri kami terlahir."
Zain menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. "Dam, seberapa besar cintamu pada Shelly?"
Adam mengalihkan pandangannya ke arah langit yang sudah mulai bertabur bintang. Dadanya serasa kembali sesak kala mengingat almarhumah sang istri. "Sangat besar, Zain. Sayang, aku baru menyadarinya saat Shelly sudah pergi. Maafkan aku Zain! Aku tidak bisa menjadi seorang suami yang baik untuk adikmu."
Zain merangkul pundak Adam sembari membalas ucapan sahabatnya. "Sudahlah Dam. Yang telah berlalu jangan terlalu kamu sesali! Saat ini tugasmu adalah menjaga dan menjadi seorang ayah yang baik untuk Tiara."
"Iya Zain, aku akan berusaha menjadi ayah yang terbaik untuk Tiara."
"Dam, bagaimana hubunganmu dengan Mishel? Bukankah dia sangat dekat dengan Tiara dan kedua orang tuamu?"
__ADS_1
Adam menghembuskan nafas kasar. "Mishel sudah dipinang oleh Farhan, Zain."
Ucapan Adam membuat kedua netra Zain membulat sempurna. "Farhan?"
"Iya, Farhan. Kamu mengenalnya, Zain?"
"Tentu saja aku sangat mengenalnya. Kami satu profesi. Tapi ...."
"Tapi apa Zain?" tanya Adam dengan mengerutkan sedikit dahinya.
"Ahhh tidak apa-apa. Semoga Mishel tidak salah menentukan pilihan." Zain berusaha menyembunyikan kenyataan dari sahabatnya. Adam yang seolah tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Zain, terus saja mendesak agar pria bertubuh jangkung itu mengatakan hal yang sebenarnya mengenai calon suami Mishel.
"Zain, beri tau aku kebenaran mengenai Farhan!"
"Hemm, baiklah Dam. Farhan adalah seorang dokter sekaligus ustadz muda yang digandrungi oleh para gadis, terutama dokter Najwa. Aku tidak yakin jika Najwa akan melepas pria yang sangat dicintainya untuk Mishel. Apalagi ... Farhan pernah mengkhitbah Najwa. Namun saat hari akad nikah mereka, tiba-tiba Farhan tidak hadir. Entah apa alasannya, aku tidak tau."
Zain menjeda ucapannya sejenak. "Dam, sebelum janur kuning melengkung, belum ada kata terlambat untuk merebut kembali hati Mishel."
"Tapi Zain, aku masih ingin menjaga hati dan kesetiaanku untuk Shelly. Meski ... Tiara sangat mengharapkan Mishel menjadi mama sambungnya."
"Dam, aku yakin Shelly pasti akan ikut berbahagia jika kamu menjadikan Mishel sebagai mama sambung Tiara."
"Tidak ada kata tapi, Dam. Jadi pria harus gercep. Jika tidak segera gerak cepat, jangan salahkan bila nantinya kamu akan menyesal."
"Iya Zain, aku akan pikirkan lagi."
"Huffttt, berpikirlah hingga tua, Dam! Jika kamu terlalu lama berpikir, Mishel akan terlanjur menjadi milik pria lain."
Ucapan Zain berhasil mengusik pikiran Adam, hingga membuat pria berparas rupawan itu kembali galau.
.
.
Suara kerinduan Illahi terdengar begitu merdu. Memanggil para hamba untuk segera bersujud dan menyembah kepada Nya.
Abimana beserta rombongan kembali memasuki Masjid Jogokariyan untuk menunaikan sholat isya, dilanjutkan dengan sholat tarawih.
__ADS_1
Ratusan jamaah pun sudah bersiap dengan merapatkan shaf.
"Allahu Akbar." Terdengar suara takbiratul ihram yang dilantunkan oleh imam sholat, sebagai pertanda dimulainya ritual sholat isya.
🌹🌹🌹
Perkataan Zain sukses mempengaruhi pemikiran Adam.
Seusai menjalankan sholat tarawih, Adam bergegas keluar dari masjid. Dengan langkah kaki lebar, Adam berjalan menuju parkiran.
.
.
Adam melajukan mobilnya ke arah rumah Mishel. Adam ingin menemui Mishel untuk kembali bicara dari hati ke hati. Adam sengaja menitipkan Tiara pada Zain, agar ia lebih leluasa untuk berbincang dengan Mishel.
Kali ini, Adam tidak ingin salah langkah dan terlambat merengkuh cinta sejati.
Adam segera melajukan mobilnya memasuki halaman rumah Mishel setelah security membuka pintu gerbang.
Jantung Adam berdegup sangat kencang. Dadanya berdesir tatkala memikirkan apa yang akan diutarakannya pada Mishel.
Adam menghentikan mobilnya. Ia pun bergegas keluar dari dalam mobil dengan perasaan yang tidak karuan.
Langkah kaki Adam serasa berat saat berjalan mendekat ke arah pintu rumah Mishel. Bahkan, tangan Adam gemetar ketika akan menekan bel pintu. Lidahnya serasa kelu untuk mengucap salam.
.....
🌹🌹🌹🌹
Catatan: Selama masa pandemi, takjil piring terbang diganti dengan takjil nasi kotak.
Hemmm, apa yang akan terjadi selanjutnya? Mungkinkah Adam dan Mishel benar-benar berjodoh? 😁😁😁
Yupssss semoga belum bosan dengan boncabe ICPA ya guys... 😅😅😅
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan beri komen penyemangat. 💓💓💓
__ADS_1
Selamat menantikan waktu berbuka puasa. Trimakasih dan happy reading 💓💓💓