
Suara panggilan Sang Maha Cinta, terdengar sayup-sayup dari gubug Arya. Suasana menjadi hening, semua yang ada di ruangan itu tengah meresapi lantunannya.
"Mari kita dirikan sholat dzuhur!" ajak Ilham.
"Iya Nak Ilham. Silahkan ambil air wudhu di halaman rumah! Bapak sudah siapkan tempayan yang berisi air. Mohon maaf, kita menjalankan sholat di halaman, beralas tikar, karena gubug kami terlalu kecil." Arya menangkupkan kedua telapak tangan, sebagai permohonan maaf.
"Tidak apa-apa Pak Arya. Dengan sholat berjamaah di halaman rumah, in shaa Allah akan lebih khusuk, karena suasananya menyatu dengan alam," balas Ilham dengan menampakan senyum manis.
Lagi-lagi Suci dibuat terpana melihat sosok Ilham yang bijaksana sekaligus berwajah tampan.
"Alhamdulillah. Nak Ilham sangat pandai menyenangkan hati Bapak," Arya tertawa lebar membalas ucapan Ilham.
Arya, Suci, beserta para tamu, beranjak dari duduk dan melangkahkan kaki keluar rumah, untuk mengambil air wudhu.
Selesai mensucikan diri dengan air wudhu, Abimana melantunkan adzan dan iqomah. Sedangkan Ilham, sudah bersiap menjadi imam sholat.
Semua pun berdiri merapatkan shaf.
"Allahu Akbar," Ilham membaca takbiratul ikhram.
Mereka larut dalam kekhusukan menyembah Robb-Nya, ditemani desahan suara sang bayu dan gemerisik dedaunan.
Usai salam, dzikir dan doa terlantun. Dalam khusuknya doa, Ilham maupun Suci meminta agar mereka mendapat ridho-Nya untuk menjadi pasangan halal. Ternyata doa yang dibisikan di dalam hati Abimana dan Kirana pun sama. Mereka juga memohon ridho dari Sang Maha Cinta, untuk menautkan hati dalam ikatan cinta yang halal.
πΈπΈπΈπΈ
Usai menjalankan ibadah, mereka tetap duduk bersama, di halaman. Meskipun mentari menyapa dengan sinarnya, namun tempat itu tetap teduh karena rindangnya pepohonan.
Rupanya, Kirana dan Ratri sudah mempersiapkan beraneka lauk beserta nasi, dari rumah. Sehingga Suci hanya perlu menyediakan peralatan makan, berupa piring dan sendok.
Keakraban tercipta ketika mereka makan siang bersama di halaman rumah, yang hanya beralaskan tikar.
Selesai menikmati menu makan siang, Kirana dan Suci mengumpulkan peralatan makan yang kotor, dibantu oleh Abimana dan Ilham.
__ADS_1
Kedua gadis itu, membawa peralatan makan ke dapur untuk di cuci.
Mereka mencuci piring berdua, disertai dengan obrolan dan candaan.
"Menurut Mbak Suci, bagaimana pribadi Bang Ilham?" tanya Kirana sembari menata piring yang sudah dicuci bersih.
Suci menjawab dengan malu-malu, "Mas Ilham sosok pria yang bijaksana, berakhlak mulia, perhatian, soleh, cerdas. Insya Allah, Mas Ilham sosok yang sempurna, Mbak."
Kirana menyunggingkan seulas senyum ketika mendengar jawaban Suci.
"Mbak, jika Bang Ilham melamar Mbak Suci, bagaimana?" Pertanyaan Kirana membuat Suci terkejut, hampir saja piring yang ada di tangannya terjatuh. Raut wajah gadis berlesung pipi, menampakan rona merah.
"Achhhh, Mbak Kirana bisa saja. Mana mungkin Ustadz Ilham mau melamar seorang gadis desa."
"Insya Allah, kriteria wanita yang diinginkan oleh Bang Ilham seperti Mbak Suci. Maaf, saya memanggil dengan sebutan Mbak, karena berharap Mbak Suci bersedia menikah dengan Bang Ilham," ucap Kirana dengan menatap gadis manis yang berdiri di depannya.
"Mbak Kiran, jangan membuat saya melambung!" Suci menangkupkan kedua telapak tangan di wajah.
"Insya Allah, jika Mas Ilham benar-benar menginginkan saya menjadi pendamping hidupnya," balas Suci dengan menampakan senyuman yang teramat manis karena lesung di kedua pipinya.
πΈπΈπΈ
Kini semua berkumpul kembali di halaman rumah, dan duduk di atas tikar.
"Pak Arya, Mbak Suci, ini ada buah tangan dari kami. Semoga bermanfaat ya," ucap Kirana. Gadis itu menyerahkan empat paper bag kepada Arya dan putrinya, yang berisi beberapa pakaian batik.
Mereka berdua menerima keempat paper bag dengan senyuman yang mengembang.
"Trimakasih Mbak Kiran. Harusnya tidak usah repot-repot membawa buah tangan Mbak," ucap Suci.
"Achhh, saya tidak merasa direpotkan, apalagi jika untuk calon kakak ipar." Kirana melirik abangnya, Ilham.
"Ehem," Ilham berdehem.
__ADS_1
"Wahhhh, saya sangat setuju dengan apa yang diucapkan oleh Kirana. Pak Arya, bagaimana jika kita jodohkan Ilham dan Suci?" usul Ridwan dengan tersenyum lebar.
"Tapi kami hanyalah seorang yang miskin. Mungkinkah Suci bisa cocok bersanding dengan Nak Ilham?" tanya Arya, merendah.
"Kaya ataupun miskin, kita semua hanyalah makhluk-Nya. Yang terpenting bagi insan, adalah keimanan. Jika Pak Arya berkenan, ijinkan kami melamar Nak Suci, untuk dinikahkan dengan Ilham, putra kami," ucap Ridwan tanpa basa-basi, disertai seulas senyum.
Arya nampak berpikir sejenak. Pria paruh baya itu pun bertanya kepada sang putri, "Bagaimana Suci, bersediakah menerima lamaran ini?"
Suci menundukan wajahnya. Ada debaran di hati, sehingga lidahnya serasa kelu untuk menjawab. Gadis manis berlesung pipi hanya bisa mengangguk pelan, sebagai tanda menerima lamaran, untuk menjadi istri Ilham.
"Alhamdulillah," ucap Arya dan Ridwan hampir bersamaan.
"Yeeeeyyyy, abangkuhhh akhirnya mau menikah," teriak Kirana, sembari memeluk Ilham dengan erat.
Semua pun tersenyum bahagia, menyambut awal dari penyatuan cinta kedua insan, Suci dan Ilham.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Bersambung ....
Next episode, Insya Allah author akan mengetik kejahilan Kirana π
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like π
Komentar π
Klik emote β€ untuk favorit
Rate 5 βββββ
Vote untuk mendukung karya author
Trimakasih πππ
__ADS_1