
Seusai menjalankan ibadah sholat sunah Dhuha, Fadhil membawa Hana berwisata ke suatu tempat. Tentu saja untuk membuat Hana terlupa akan kesedihannya. Fadhil mengerti, tidak mudah bagi Hana untuk melupakan Adam. Apalagi mereka berdua sempat terikat oleh ikrar suci, meski pada akhirnya ikatan mereka tidak berlangsung lama. Fadhil tulus mencintai Hana. Fadhil tidak ingin membiarkan wanita yang dicintainya di hina dan tenggelam dalam kesedihan. Tentang perasaan Hana terhadapnya, Fadhil hanya bisa berikhtiyar dan melangitkan pinta pada Illahi, agar Hana membalas perasaan cintanya.
.
.
Sebelum melakukan perjalanan, Fadhil dan Hana berpamitan kepada Abdullah dan Aisyah. Mereka berdua mencium punggung tangan Abdullah dan Aisyah secara bergantian. Aisyah dan Hana berpelukan singkat.
"Dhil, mau di bawa ke mana menantu abi dan ummi?" Abdullah mengulas senyum sambil menepuk pundak putranya.
Fadhil menarik kedua sudut bibirnya hingga nampaklah senyuman yang menawan. "Fadhil ingin membawa Humaira ke suatu tempat yang indah, Bi. Fadhil dan Hana akan berpacaran."
Kedua netra Abdullah dan Aisyah nampak berbinar. Mereka tidak menyangka jika putranya bisa juga bersikap romantis. Mereka berharap, hubungan Fadhil dan Hana langgeng, sakinah mawadah warohmah. Meski Abdullah dan Aisyah menyadari, putra mereka membutuhkan perjuangan yang disertai dengan kesabaran untuk mengalihkan hati Hana.
"Baiklah Dhil, bahagiakan istrimu! Selalu bersikaplah romantis agar kalian segera memberikan kami cucu." Wajah Hana terhiasi rona merah tatkala mendengar ucapan Abdullah.
"Iya Bi. Fadhil akan selalu bersikap romantis. Lagi pula, semalam kami sudah mereguk kenikmatan surga dunia. Iya kan Humaira?" Fadhil terkekeh sambil melirik istrinya. Warna merah semakin tercetak jelas di pipi Hana.
Hana hanya bisa menundukan wajah untuk menyembunyikan rona merah.
"Sudahlah Dhil, tidak usah menggoda istrimu! Kasihan istrimu pasti sangat malu, ya kan Hana?"
"Iya Ummi." Hana menganggukan kepala sambil tersenyum kikuk.
"Hemmm, baiklah Ummi. Kami berangkat sekarang, Abi, Ummi. Assalamu'alaikum .... " ucap Fadhil sambil menggenggam erat tangan istrinya.
"Wa'alaikumsalam .... " balas Abdullah dan Aisyah secara bersamaan.
Fadhil dan Hana masuk ke dalam mobil. Setelah mereka memakai selt bealt, Fadhil menghidupkan mesin kemudian mulai menjalankan mobilnya.
🌹🌹🌹
Fadhil membawa Hana ke Pantai Ngandhong. Pantai yang terletak di sebelah barat laut dari pantai Indrayanti.
Fadhil menghentikan mobilnya tatkala sampai di area parkiran yang terletak tidak begitu jauh dari bibir pantai. Ia pun mempersilahkan istrinya untuk keluar dari dalam mobil.
"Humaira, sini tanganmu!" Fadhil meraih tangan Hana, kemudian menggenggamnya. Mereka berdua berjalan mendekat ke arah bibir pantai.
"Mas Fadhil, trimakasih sudah membawa Hana ke pantai ini." Senyuman Hana merekah tatkala melihat air laut berwarna kebiruan dengan garis pantai yang landai dan terlihat eksotis.
__ADS_1
"Iya Humaira, semoga kamu menyukai suasana di pantai ini ya." Fadhil semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Tentu saja Hana sangat menyukainya, Mas."
Kedua netra Hana membulat sempurna tatkala melihat bukit karst yang sangat eksotis.
"Masya Allah Mas, sungguh menakjubkan ciptaan-Nya. Bukit karst yang sangat eksotis."
"Jika Humaira ingin, kita bisa menaiki bukit itu. Dari atas akan nampak pemandangan laut dan pantai sekitar."
"Lain kali saja Mas. Bagaimana jika kita naik kapal nelayan, Mas?" Hana menampakan wajah puppy eyes sehingga membuat Fadhil merasa gemas. Andai tidak sedang berada di tempat umum, ingin rasanya Fadhil menciumi wajah Hana yang nampak menggemaskan.
"Baiklah Humaira, Mas Fadhil akan membawamu untuk berlabuh dengan kapal nelayan."
Fadhil dan Hana berjalan mendekat ke arah kapal nelayan.
"Hati-hati Humaira!" titah Fadhil sembari mengulurkan tangannya. Hana berpegangan pada tangan suaminya, yang terlebih dahulu berada di atas kapal.
Setelah mereka berdua naik dan duduk di atas kapal, nelayan mulai melabuhkan kapal dengan perlahan.
Kapal pun berlabuh dengan pelan. Hana menghirup udara dalam-dalam seraya menikmati kesejukan angin laut.
Bapak nelayan yang bernama Tarno, menunjukkan fenomena alam di laut yang menakjubkan, yaitu keluarnya sumber air tawar dari dalam laut yang seolah seperti air mendidih.
"Masya Allah, menakjubkan Pak." Seketika Hana berteriak kegirangan, kedua netranya membulat sempurna. Ia teramat mengagumi fenomena alam yang dilihatnya.
Tarno tersenyum puas karena merasa berhasil memperlihatkan hiburan pada penumpangnya. Sedangkan Fadhil, tertawa geli melihat sikap istrinya yang seolah berlebihan.
Fadhil merangkul erat pundak Hana. Ia kecup pipi Hana dengan penuh kelembutan.
"Humaira bahagia?"
"Iya Mas, Hana teramat bahagia." Hana menatap wajah tampan suaminya.
"Humaira, lihatlah hamparan laut biru yang luas! Bagaikan perasaan cinta Mas Fadhil kepadamu, Hana Maulida Putri."
Hana tertawa mendengar ucapan Fadhil. "Hhhaha, Mas Fadhil terlalu hiperbola. Mas Fadhil ternyata pandai juga ya berkata gombal."
"Tentu tidak Humaira. Apa yang Mas Fadhil ucapkan tulus dari dalam hati." Fadhil menatap manik mata Hana dengan tatapan penuh cinta. Ia usap pipi istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Hana Maulida Putri, laut yang luas adalah perumpamaan perasaan cinta Mas Fadhil kepadamu. Apapun akan Mas Fadhil lakukan, demi membuat Humaira bahagia."
"Trimakasih Mas. Semoga kelak cintaku melebihi luasnya samudra ini kepada Mas Fadhil. Seorang imam pengganti yang teramat sempurna." Hana membalas tatapan Fadhil dan memberikan senyuman penuh arti.
"Semoga alam pun ikut mengamini apa yang kamu ucapkan Hana Maulida Putri. Mas Fadhil sangat berharap, kita bisa saling mencintai seperti Baginda Rasulullah dan istrinya, Aisyah."
"Aamiin, Mas. Hana juga berharap demikian. Semoga Allah mengabulkan."
"Aamiin Allohumma Aamiin...."
Tarno mulai menepikan kapalnya setelah beberapa saat membawa Hana dan Fadhil berkeliling di sekitar pantai.
"Trimakasih nggeh Pak," ucap Fadhil sembari memberikan sejumlah uang kepada Tarno, setelah ia dan Hana turun dari kapal.
"Sami-sami Mas, semoga rejeki njenengan lancar. Apa yang diharapkan terkabul," doa Tarno tulus. Tarno mendengar apa yang diperbincangkan oleh Fadhil dan Hana. Ia pun melangitkan pinta supaya Illahi mengabulkan harapan kedua insan.
"Aamiin Yaa Allah, trimakasih atas doanya Pak." Fadhil mengembangkan senyuman.
"Iya Mas," balas Tarno disertai seulas senyum.
Fadhil dan Hana berjalan menyusuri bibir pantai. Nampak kerang-kerang kecil yang berserakan.
"Humaira, sudah lapar belum?"
"Sebenarnya sudah Mas," balas Hana dengan tersenyum kikuk.
"Baiklah, kita makan dulu. Sekalian menunggu adzan Ashar berkumandang. Setelah menjalankan sholat Ashar, kita akan melanjutkan perjalanan, menikmati keindahan tempat wisata yang lainnya."
"Huum Mas. Trimakasih Mas Fadhil." Hana menatap wajah tampan suaminya.
"Kembali kasih, Hana Maulida Putri." Fadhil membalas tatapan Hana. Bibir Hana dan Fadhil terukir senyuman penuh arti.
Mereka berdua berjalan menuju warung makan seafood, yang terletak tidak jauh dari bibir pantai.
🌹🌹🌹🌹
Ehemmmm, kurang so sweet apa Babang Fadhil???? Semoga Hana segera membalas perasaan Fadhil dengan sepenuh hati ya readers... 😍😍 Ups, apa kabar Mas Adam? Ada yang tau kabarnya? Next episode, insya Allah kita intip kabar Adam... 😅😅😅
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan klik hadiah atau vote jika berkenan.
__ADS_1
Trimakasih and happy reading 😘😘