Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Kemuliaan Hati


__ADS_3

Semalaman Ilham tidur di mushola rumah sakit. Kebetulan Fabian juga bermalam di mushola tersebut. Malam itu mereka berdua memperbincangkan Kirana. Fabian merasa bersalah karena mengira luka serius di kepala Kirana akibat kesalahan Abimana. Namun ternyata bukan. Kekaguman Fabian bertambah setelah mengetahui penyebab luka di kepala Kirana. Ternyata, sahabat tercintanya sempat hanyut di sungai setelah menolong seorang anak kecil, dan luka itu diakibatkan karena kepala Kirana membentur batu.


Pagi ini, Ilham membeli dua cup bubur ayam serta teh hangat untuk sarapan bersama Abimana.


Ilham kini tengah duduk sendiri di depan ruang transisi sembari memainkan benda pipih di tangannya. Ternyata Ilham mengirim pesan kepada istrinya agar membawakan pasmina beserta pakaian ganti untuk Kirana.


"Asalamu'alaikum Bang Ilham," sapa Abimana disertai senyuman. Abimana mendaratkan pantatnya tepat di samping Ilham.


"Wa'alaikumsalam, Bima. Bagaimana keadaan Kirana?" tanya Ilham dengan menampakan raut wajah yang masih dipenuhi dengan kekhawatiran.


"Alhamdulillah, kata dokter tidak ada infeksi Bang dan tinggal pemulihan. Sebentar lagi Kiran akan dipindahkan ke ruangan rawat inap," jawab Abimana dengan menampakan seulas senyum.


"Alhamdulillah. Trimakasih ya Allah." Ilham merasa lega dan bersyukur setelah mendengar jawaban dari adik iparnya.


"Bim, kita sarapan dulu yukk! Abang belikan bubur ayam dan teh hangat." Ilham menyerahkan satu cup bubur ayam dan teh hangat kepada adik iparnya, Abimana menerimanya dengan mata yang berbinar.


"Wahhh kebetulan Bima sudah lapar Bang. Semalaman nggak nafsu makan karena memikirkan si comel." Abimana dan Ilham tersenyum lebar. Mereka berdua mulai menikmati bubur ayam dan teh hangat.


Kini mereka bisa bernafas lega, karena Kirana tinggal menjalani masa pemulihan, meski harus kehilangan rambut indahnya. Yang terpenting nyawa Kirana terselamatkan, masalah rambut pasti akan tumbuh lagi seiring berjalannya waktu. 😌😌😌


🌹🌹🌹


Saat ini Kirana sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap. Setelah sarapan bubur serta teh hangat, Abimana dan Ilham menemui Kirana di kamarnya.


"Asalamu'alaikum Sayang." Sapa Abimana disertai senyuman khasnya yang menawan, sembari mendaratkan kecupan di kening sang istri.


"Wa'alaikumsalam Hubby," balas Kirana yang juga mengembangkan senyuman. Kedua netra Kirana berganti tertuju kepada abangnya.


"Abang, pagi-pagi kok sudah sampai di sini? Sama siapa Bang?" tanya Kirana dengan menatap lekat abangnya.

__ADS_1


"Semalam Abang tidur di mushola rumah sakit. Ayah, ibu dan Suci, masih di rumah Dek. Semalam Abang meminta mereka untuk pulang ke rumah agar bisa beristirahat. Kami semua sangat mengkhawatirkanmu Ran. Cepatlah sembuh ya adek comel! Doa kami selalu untukmu," jawab Ilham. Ustadz muda itu mengusap pipi adiknya dengan lembut, sebagai ungkapan rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya.


"Makasih Bang. Maaf, gara-gara kecerobohan Kiran, semuanya jadi khawatir," ucap Kirana dengan sendu.


"Wajar Dek, jika kami merasa khawatir, karena teramat sayang pada si comel ini. Semua terjadi bukan karena kecerobohanmu Kiran, akan tetapi karena kehendak Allah, sebagai ujian untuk hamba-Nya."


Kirana menghela nafas perlahan.


"Tapi Bang, jujur Kiran teramat sedih saat mengetahui tak ada lagi rikma yang menghiasi kepala gundul ini. Kiran merasa gagal menjadi wanita sempurna. Kiran teramat jelek Bang." Lolos sudah air mata dari kedua sudut netra Kirana.


Abimana duduk di tepi ranjang, ia berusaha menenangkan istrinya dengan mengusap pipi Kirana seraya mengucapkan kata-kata yang menenangkan.


"Sayang jangan menangis lagi! Kelak rambut Sayang akan tumbuh dan lebih indah dari sebelumnya. Kesempurnaan seorang wanita bukan terletak dari rikmanya, namun dari kemuliaan hati. Karena kemuliaan hati yang Sayang miliki, semakin menambah perasaan cintaku terhadapmu, Ayunda Kirana."


Hati Kirana bagai disiram air langit yang menyejukan, tatkala mendengar ucapan Abimana. Tubuhnya pun bergetar. "Entah dengan apalagi aku harus mensyukuri anugerah cinta yang terindah? Aku teramat bahagia menjadi istrimu, Abimana Surya Saputra." Lagi-lagi Kirana meneteskan air mata. Seketika Abimana kembali mengusap pipi istrinya yang basah dengan jemari tangan.


Ilham merasakan keharuan tatkala melihat perlakuan Abimana yang sangat sweet kepada adiknya. Di dalam hatinya, Ilham berucap syukur, karena sang adik memperoleh jodoh yang tepat dan terbaik.


"Iya Bang. Trimakasih karena Abang dan Hubby menguatkan Kiran dengan kata-kata yang sangat menyejukan, hiks ... hiks," balas Kirana disertai isakan


Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar dibuka.


CEKLEK


Abimana, Kirana dan Ilham mengarahkan pandangannya ke pintu. Terlihat seorang wanita cantik berlesung pipi beserta Ridwan dan Ratri berdiri di balik pintu, kemudian mereka melangkahkan kaki memasuki ruangan.


"Asalamu'alaikum," sapa Suci disertai seulas senyum dan menampakan kedua lesung pipinya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Abimana, Kirana dan Ilham bersamaan.

__ADS_1


Ridwan, Ratri dan Suci berjalan mendekat ke arah ranjang.


"Mas Bima, ini baju ganti untuk Mbak Kiran." Suci menyerahkan tas yang berisi pasmina beserta pakaian ganti untuk Kirana, kepada Abimana.


"Trimakasih Suci," ucap Abimana sembari menerima tas tersebut dan meletakannya di dalam nakas.


"Putriku sayang, bagaimana keadaanmu? Ibu sangat mengkhawatirkanmu." Ratri mencium kening putrinya dengan pelan.


"Alhamdulillah, Kirana tinggal menjalani pemulihan Bu. Ibu jangan khawatir ya!" balas Kirana dengan menggenggam tangan Ratri dan menatap wajah sang ibu lekat-lekat.


"Alhamdulillah. Bagaimana ibu tidak merasa khawatir bila melihat putrinya yang lincah tiba-tiba terbaring tanpa daya?" Buliran bening mulai menetes dari kedua sudut netra Ratri.


Ridwan merangkul istrinya seraya berbisik, "Sudah, jangan menangis Bu! Kasihan putri kita jika ia ikut bersedih."


"Iya Yah. Maafkan Ibu, karena sudah tidak kuat lagi meluapkan kesedihan dengan menumpahkan air mata."


"Kiran benar-benar minta maaf ya Bu, karena membuat ibu bersedih dan meneteskan air mata," ucap Kirana dengan suara lirih karena menahan kesedihan.


"Sudahlah Sayang jangan meminta maaf! Justru ibulah yang seharusnya meminta maaf, karena tidak tegar di hadapan putri Ibu yang tengah diuji." Ratri memeluk dan menciumi pipi Kirana seraya meluapkan rasa cinta seorang ibu terhadap putrinya.


🌹🌹🌹🌹


Readerssss


Semangati author dengan meninggalkan jejak Like ya 👍😘😘😘


Trimakasih dan happy reading 😘😘


__ADS_1



__ADS_2