Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Istri Comel VS Pencopet


__ADS_3

Desah angin memberikan kesejukan, kala terik mentari masih menyentuh bumi.


Keempat pengantin baru telah tiba di titik nol kilometer.


Area pedestriannya yang luas mampu menampung banyak orang. Beberapa kursi taman pun tersedia, menambah kenyamanan pengunjung. Dihiasi pula oleh lampu hias dan gedung-gedung tua peninggalan kolonial Belanda.


Abimana dan Kirana, berdiri menghadap ke selatan. Terlihat gedung Bank Indonesia, Kantor pos dan Gedung BNI mengapit jalan menuju keraton.


Mereka berdua berfoto selfie, bagai anak muda yang sedang berpacaran.



Sumber: goegle


Sedangkan Ilham dan Suci, mereka berjalan dengan perlahan ke arah utara, dengan saling bergandengan tangan.


Terlihat Istana Negara, Benteng Vendeburg dan Monumen Serangan Umum 1 Maret.


Tidak jauh dari Monumen Serangan Umum 1 Maret, terdapat beberapa patung khas abdi dalem. Patung berbentuk tambun nan ramah yang dikenal dengan nama Bedjokarto.


Dalam bahasa jawa Bedjo berarti untung dan Karto berarti aman. Patung Bedjokarto memberikan pesan dan harapan aman, adem dan tentram untuk Yogyakarta.


Kirana berlari kecil menuju patung Bedjokarto.


"Abi, cepat kesini!" teriak Kirana dengan menampakan wajahnya yang sumringah.


Abimana segera berjalan dengan langkah panjang.


"Ada apa Yank?" tanya Abimana setelah sampai di hadapan istrinya.


"Bi, fotoin donk!" pinta Kirana, karena ingin berpose di samping patung Bedjokarto.


"Hemmzzz, baiklah Tuan Putri," balas Abimana dengan menampakan senyuman yang menawan.


Abimana mulai mengarahkan kamera ke arah istrinya yang sedang berpose.


"Nah, sudah Yank," ucap Abimana setelah menjadi fotografer sang istri.


"Loh kog nggak terasa Bi?" Kirana terkekeh.

__ADS_1


"Nih lihat hasilnya, ada lima pose yang aku ambil." Abimana memperlihatkan semua hasil foto yang ia ambil, kepada istrinya.


"Bi, mau foto sekalian nggak? Mumpung Pak Bedjokarto masih setia berdiri di sini." Kirana tersenyum lebar.


"Ada-ada aja Yank. Jelas Pak Bedjokarto tetap setia berdiri di sinilah, karena dia kan patung, hhhaha ...," Abimana tertawa, dan mengacak pelan jilbab istrinya.


"Hhhehe, siapa tau kalau malam bisa berlarian, Bi."


"Hiss, mengerikan Yank."


BRUKK


Kirana terkejut ketika seorang pria bertopi menabraknya dengan cukup keras. Hampir saja tubuh wanita cantik itu ambruk, beruntung Abimana dengan sigap menopang sang istri.


"Woeee hati-hati donk!" teriak Kirana karena kesal.


Pria bertopi seakan tidak mengindahkan ucapan Kirana. Ia bangkit dan kembali berlari.


"Copet, copet. Tolong ....!" teriak seorang wanita paruh baya. Wanita itu berlari, berusaha mengejar pria bertopi yang tadi menabrak Kirana.


Seketika Kirana ikut berlari mengejar pria bertopi.


Ketika semakin dekat, Kirana langsung menarik baju bagian belakang si pria bertopi, dengan kencang. Hingga tubuh pria itu pun terhuyung ke belakang.


Wanita cantik, istri Abimana, melayangkan bogem mentah tepat di pipi pria bertopi.


"Awww, ampun! Ampuni saya Mbak!" pinta si pria bertopi yang ternyata adalah copet.


"Cepat berikan tas itu!" gertak Kirana yang masih mencengkram baju si pria bertopi.


"I-iya. Ini Mbak." Pria itu memberikan tas hasil copetannya kepada Kirana.


"Ampuni saya Mbak. Saya melakukan ini, karena ingin membeli susu untuk si kecil," pinta pria bertopi yang bernama Anto, dengan terisak.


Kirana mulai melepaskan cengkraman tangannya, dan memberikan tas itu kepada si pemilik. Harni menerima tas miliknya tanpa mengucapkan kata terimakasih.


"Berdiri, dan minta maaflah kepada ibu yang hampir saja kamu rugikan!" perintah Kirana dengan sedikit merendahkan intonasi suara.


Pria itu pun berdiri, dan meminta maaf kepada wanita paruh baya yang hampir ia rugikan.

__ADS_1


"Maafkan kesalahan saya Bu. Sungguh saya melakukan ini karena terpaksa," ucapnya lirih.


"Allaaahhh, alasan. Itu hanya alibimu kan?" Wanita paruh baya, yang bernama Harni membalas permintaan maaf dari Anto dengan nada suara yang tinggi sambil berkacak pinggang.


"Sungguh Bu, saya berkata jujur. Kalau anda tidak percaya, mari ke gubug saya!" Anto merasa putus asa. Lolos sudah air mata yang sedari tadi ia tahan agar tidak keluar.


"Pak, maaf. Siapa nama anda?" tanya Kirana, kedua manik hitamnya menatap lekat wajah si pria bertopi.


"Nama saya Anto, Mbak," jawab Anto dengan terisak.


"Kalau boleh tau, dimana rumah Pak Anto? Saya ingin mampir ke rumah Bapak," ucap Kirana dengan mengulas senyum.


"Rumah saya di kampung Sayidan, Mbak. Tidak jauh dari sini."


"Baiklah Pak. Mari sekalian kami antar pulang!" Kirana kembali mengulas senyum.


"Iya Mbak."


"Loh, mana tanggung jawabmu? Mbak, jangan lepaskan pria itu! Dia sudah merugikan saya," ucap Harni dengan meninggikan nada suaranya.


Kirana sangat tidak suka dengan cara Harni berbicara.


"Bu, apakah ada barang yang berhasil diambil oleh Pak Anto? Harusnya anda bersyukur, tas jadul itu masih menjadi rejeki seorang wanita yang kurang mempunyai rasa empati," balas Kirana dengan menatap tajam ke arah Harni.


Wanita paruh baya itu pun terdiam. Ia merasa terhina dengan ucapan Kirana.


🌹🌹🌹


Bersambung ....


Jangan lupa tinggalkan like setelah membaca 👍


Klik emote ❤ untuk favoritkan novel


Komentar


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Vote jika ingin mendukung karya author

__ADS_1


Trimakasih dan happy reading 😘😘



__ADS_2