Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Duka Pria Berkaca Mata


__ADS_3

Pagi ini langit terlihat begitu muram. Awan hitam mulai menyelimuti bumi. Semilir sang bayu tak mampu menyejukan hati yang sedang merana.


Satu persatu para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Pria muda berkaca mata masih terduduk di samping pusara sang calon istri. Deraian air matanya mulai kering, hanya tersisa suara isakan yang menyentuh hati.


Alya, Raikhan, Abimana, Kirana dan Asti (adik Alya) masih setia menemani Arif yang tengah berduka. Mereka ikut merasa pilu. Bahkan linangan air mata masih membasahi wajah cantik Kirana dan Alya.


"Rif, ayo kita pergi dari sini! Ikhlaskan Nita! Insya Allah, Nita sudah berbahagia di alam sana. Kasihan Nita, jika kamu masih terlihat rapuh seperti ini," bujuk Abimana dengan merangkul pundak Arif.


"Iya Rif, kamu harus kuat menerima cobaan ini!" ucap Raikhan yang juga merangkul pundak pria malang itu.


"Arif ingin di sini dulu Mas. Kalian pulang saja!" Arif berucap dengan lirih.


"Tapi Rif, sebentar lagi akan turun hujan. Ayo pulanglah bersama kami!" Abimana terus berusaha membujuk Arif, namun pria berkaca mata itu tetap bergeming. Ia masih terpaku menatap batu nisan sang kekasih.


Arif memilih diam, ia tak lagi menjawab ucapan Abimana maupun Raikhan.


Rintik hujan mulai membasahi bumi, diiringi gelegar suara petir bersahut-sahutan.


Raikhan dan Alya mulai melangkahkan kaki meninggalkan pemakaman setelah berpamitan pada Arif, begitu juga dengan Abimana beserta istrinya.


Kini hanya tinggal Arif ditemani oleh Asti yang masih duduk bersimpuh di samping pusara Nita.


"Asti, pulanglah! Biarkan aku sendiri di sini."


"Tidak Mas. Aku tetap di sini menemani Mas Arif."


Hujan semakin deras disertai angin yang bertiup kencang, namun Arif seolah belum rela meninggalkan makam Nita.


"Tubuhmu sudah menggigil kedinginan As, pergilah! Jangan sampai kamu sakit."


"Bibi..ar Mas. Aku titi..dak akan pergi jika Mas Arif juga tidak mau pergi dada..ri sini."


"Dasar gadis keras kepala."


"Mas Arif ju juga keras keke..pala." Tubuh Asti semakin terlihat menggigil. Arif merasa kasihan dan tidak tega, pada akhirnya ia mengalah. Arif memapah Asti dan berjalan meninggalkan makam Nita.


🌹🌹🌹


Di dalam mobil Asti duduk dengan menyandarkan tubuhnya. Sesekali Arif mencuri pandang pada gadis yang sedang duduk di sampingnya. "Benar-benar mirip Alya kamu As," batin Arif.


Arif terus saja melajukan mobil menembus derasnya hujan. Sedangkan Asti, kedua netra gadis itu nampak terpejam, bibirnya pucat. Arif sangat khawatir melihat keadaan Asti, ia pun semakin melajukan mobilnya dengan kencang.


Sesampai di depan kediaman keluarga Rizal, security segera membuka pintu gerbang untuk majikannya.


Arif melajukan mobilnya sampai di depan teras.


Setelah membuka pintu mobil, Arif segera mengangkat tubuh Asti.


"Ma, Mama cepat buka pintunya!" teriak Arif, wajahnya masih diliputi kekhawatiran.


"Iya Sayang," balas Rahma dari dalam rumah.


CEKLEK

__ADS_1


Pintu pun terbuka. Arif segera masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamarnya.


Rahma terkesiap melihat sang putra membopong seorang gadis. Ia pun bergegas melangkahkan kaki menyusul Arif.


Arif membuka pintu kamar dengan satu kakinya, kemudian berjalan ke arah ranjang. Dengan perlahan, Arif membaringkan tubuh Asti di atas ranjang.


"Siapa gadis itu Rif?" tanya Rahma setelah berdiri di sisi ranjang.


"Dia Asti, Ma. Adik iparnya Mas Raikhan."


"Mengapa dia seperti ini?"


"Tadi Asti menemani Arif di pusara Nita, hingga kami kehujanan."


"Owhh iyaya, tadi Asti datang bersama Alya dan Raikhan. Mama tidak memperhatikan keberadaan Asti, karena belum sempat berkenalan. Mama tidak menyangka kalau gadis cantik ini adik iparnya Raikhan." Rahma mengulas senyum.


"Ma, tolong gantikan pakaian Asti ya!" pinta Arif dengan wajahnya yang masih diliputi kekhawatiran.


"Hemzzz, baiklah Rif. Kamu juga segera ganti pakaianmu yang basah kuyup itu!"


"Iya Ma. Arif berganti pakaian di kamar sebelah saja."


Setelah mengambil baju ganti, Arif segera keluar dari kamar, diikuti oleh Rahma.


Rahma masuk ke kamarnya kemudian membuka almari dan memilih baju untuk dikenakan pada Asti.


🌹🌹🌹


Dengan telaten, Rahma mengganti pakaian Asti. Ia pun melumuri tubuh Asti dengan minyak kayu putih.


Kedua kelopak mata Asti mulai bergerak-gerak. Perlahan kedua netra gadis cantik itu pun mulai terbuka.


"Maaf, di mana saya?" tanya Asti dengan sedikit mengerutkan keningnya.


"Di rumah Tante dan tentu saja rumahnya Arif juga," jawab Rahma disertai senyuman.


"Owhhh, Mas Arif di mana Te?" Perlahan Asti beranjak dari posisinya berbaring. Ia pun duduk dengan bersandar pada bantal.


"Arif sedang berganti pakaian. Tunggu sebentar ya, Asti! Tante akan membuatkanmu jahe hangat."


"Tidak usah repot-repot, Te!"


"Tidak apa-apa Sayang." Rahma tersenyum sembari mengusap rikma Asti.


Tanpa mereka sadari, ternyata Arif sudah berdiri di sisi ranjang.


"Bagaimana keadaanmu, Asti?"


"Achhh dari tadi aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing, Mas." Asti menyunggingkan seulas senyum.


"Syukurlah kalau begitu." Arif tersenyum tipis.


"Rif, temani Asti ya! Mama buatkan wedang jahe dulu untuk kalian berdua."

__ADS_1


"Iya Ma."


Rahma melangkahkan kaki keluar dari kamar dan meninggalkan mereka berdua.


Arif duduk di sofa sedangkan Asti masih duduk di posisi semula.


"As, aku sudah menghubungi Alya dan memberitahukan kepadanya bahwa kamu berada di rumahku."


"Iya Mas, trimakasih. Mas Arif, kalau boleh tau, di mana bayi Mbak Nita saat ini?"


"Bayi Nita masih berada di rumah sakit. Bayi yang malang, begitu lahir sudah tidak mempunyai orang tua, persis seperti ibunya. Ketika masih bayi, Nita sudah yatim piatu. Ayah Nita meninggal karena kecelakaan, sedangkan sang ibu meninggal sesaat setelah melahirkannya." Wajah Arif nampak sendu.


"Yang sabar ya Mas! Semua sudah kehendak Allah."


"Iya As, aku hanya bingung, siapa yang akan menjadi donor asi dan membantuku merawatnya. Terus terang, aku tidak mungkin bisa menjaganya setiap hari, As. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Asti mengulas senyum tatkala mendengar ucapan Arif.


"Mengenai donor asi, Mas Arif bisa meminta tolong Mbak Kiran untuk mencarikannya. Andai bayi Mbak Nita perempuan, pasti Mbak Alya yang akan membantu."


"Benar apa yang kamu ucapkan As. Nanti, aku akan menghubungi Mbak Kiran."


"Jika Mas Arif berkenan, aku dan ibu yang akan membantu merawat bayi Mbak Nita, Mas."


Arif sedikit mengerutkan keningnya.


"Apa tidak akan merepotkanmu As?"


"Tentu tidak Mas, lagi pula di rumah juga ada Hana."


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu?"


"Aku akan mengambil shift siang Mas."


Kedua netra Arif nampak berbinar dan bibirnya yang tipis terhias senyuman manis.


"Trimakasih Asti. Kamu memang adik yang baik."


"Sama-sama Mas," balas Asti disertai senyuman yang semakin menambah kecantikannya.


🌹🌹🌹🌹


Ehemmmm, pembaca CGB "Alya" pasti tidak asing dengan Asti. Bahkan ada beberapa readers yang berharap Asti berjodoh dengan Arif. Mungkinkah di ICPA mereka benar-benar akan dijodohkan oleh author? Nantikan episode selanjutnya!! 😘😘😘


Like 👍


Komentar


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Vote jika berkenan


Klik emote ❤ untuk favoritkan novel

__ADS_1


Trimakasih dan happy reading 😘😘😘



__ADS_2