Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Jangan Ada Pelakor!


__ADS_3

Pagi menjelang siang, sang surya masih setia menerangi bumi, dengan sentuhan sinarnya.


Abimana, Kirana, Raikhan, dan Alya masih berbincang di ruang tamu.


"Bim, kapan mulai mengajar lagi?" tanya Raikhan, sekedar basa-basi.


Abimana mengulas senyum menjawab pertanyaan sahabatnya, "Aku sudah resign Rai, dari universitas tempatku mengajar."


Raikhan mengerutkan kening dan melontarkan pertanyaan lagi kepada Abimana, "Kenapa resign, Bim?"


Abimana menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Raikhan.


"Ayah memintaku untuk menjalankan bisnisnya Rai."


"Wah, kamu jadi CEO dong Bim." Raikhan terkekeh.


"Hemmmm, terus terang aku malah lebih suka menjadi seorang dosen Rai," balas Abimana dengan tersenyum tipis.


"Ya jelaslah, Abi lebih suka menjadi seorang dosen, karena banyak mahasiswi yang syantik dan seksihhhh," sahut Kirana dengan mengerucutkan bibirnya.


"Apaan sih Yank, kalau karena banyak mahasiswi cantik dan seksi, pasti dari dulu aku pacarin mereka," Abimana tersenyum lebar dan mengusap jilbab calon istrinya.


"Iya Mbak Kiran, Mas Abi nggak bakalan tergoda dengan mereka. Buktinya, Mas Abi tidak membalas perasaan salah satu mahasiswinya, yang bernama Diana. Padahal cantik banget dan seksi lho Mbak," ucap Alya disertai senyuman. Alya teringat saat Abimana mengajaknya ke universitas, tempat pria tampan itu mengajar, ia bertemu dengan mahasisiwi yang bernama Diana.


"Oh ya? Hemmm, baguslah kalau begitu. So, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku berharap, jangan ada pelakor yang menghancurkan rumah tangga kita kelak Bi," balas Kirana dengan menatap kedua manik hitam calon suaminya.


"Yank, kenapa sampai bicara tentang pelakor sich? Percalah, seorang Abimana hanya mempunyai satu istri dalam hidupnya." Abimana membalas tatapan kedua netra Kirana, disertai seulas senyum.


"Itu karena aku sering membaca novel yang isinya tentang rumah tangga yang dirusak oleh pelakor. Huaaaa sedih banget Bi. Ingin rasanya, pelakor itu aku lempar dengan sandal." Raikhan, Alya, dan Abimana tertawa mendengar ucapan Kirana.


"Duh, Mbak Kiran meresapi ceritanya ya? Sampai-sampai si pelakor mau dilempar sandal. Kalau menurutku bukan hanya dilempar sandal Mbak, tapi dibuang aja ke laut," Alya terkekeh.


"Iya Al. Kamu betul, buang aja ya si pelakor ke laut, biar dimakan kepiting, hhhhahha. Eh apaan sich, obrolan kita kog malah nggak jelas gini," ucap Kirana disertai tawanya yang renyah. Alya pun ikut tertawa mendengar ucapan si gadis comel. Sedangkan kedua pria, hanya tersenyum tipis, dan menggaruk kepala mereka yang tidak gatal.


"Om dan tante sedang keluar ya Rai?" tanya Abimana.


"Papa dan Mama, ada di dalam kamar. Sepertinya sedang tik tok-an, atau mungkin juga olah raga pagi. Mumpung hari libur, Bim," balas Raikhan disertai senyuman yang menghiasi bibirnya.


"Om dan tante nggak mau kalah ya?" sahut Kirana dengan menahan tawa.


"Huum, papa dan mama, meski sudah tua, jiwanya masih muda," Raikhan terkekeh.


"Bi, sepertinya kita harus segera pamit dech. Kasihan mereka terganggu dengan kehadiran kita."

__ADS_1


"Kamu benar Yank. Yasudah Rai, Alya, kami pamit dulu ya." Abimana beranjak dari duduk, diikuti oleh Kirana, Raikhan dan Alya.


"Loh, nggak nanti saja Mas yang pamit, sekalian makan siang bersama?" tanya Alya.


Abimana menjawab disertai seulas senyum, "Lain kali saja Al. Sebenarnya masih ada beberapa rumah yang mesti kami kunjungi. Salam buat om dan tante ya!"


"Iya Mas. Nanti Alya sampaikan salamnya."


Raikhan memeluk Abimana, begitu juga Alya memeluk Kirana.


"Asalamu'alaikum Rai, Alya." Abimana mengucapkan salam sebelum melangkahkan kaki keluar rumah.


"Wa'alaikumsalam .... Hati-hati di jalan ya Bim! Jangan ngebut!"


"Siap Rai."


Abimana dan Kirana berjalan menuju mobil. Sesampai di samping mobil, Abimana dan Kirana membuka pintu, kemudian masuk ke dalamnya.


Abimana mulai menghidupkan mesin dan menjalankan mobil dengan perlahan.


🌹🌹🌹


Di dalam mobil, Abimana dan Kirana berbincang.


"Sama-sama Bi. Bukankah kita sudah berjanji untuk saling menguatkan? Insya Allah, selama masih hidup di dunia ini, aku akan berusaha untuk selalu berada di sisimu, Bi. Menjadi penguat saat kamu merasa rapuh. Meski, cinta belum juga bersemi di hati kita," balas Kirana dengan pandangan kedua netranya menatap ke depan.


"Insya Allah, aku juga akan selalu berada di sisi, untuk menguatkanmu Yank. Aku teramat yakin, benih-benih cinta akan segera tumbuh, setelah kita bersatu dalam ikatan yang halal."


"Insya Allah Bi. Semoga aku mampu menjadi istri yang terbaik untukmu. Maaf, jika pribadiku tidak bisa seperti Alya."


"Sudahlah Yank, jangan membahas tentang Alya lagi! Membahas tentang aku dan kamu saja, okay!"


"Huum. Kotak merah ini, mau kamu simpan Bi?"


"Kamu saja yang menyimpannya Yank!"


"Baiklah. Aku mengerti dengan apa yang sedang kamu rasakan saat ini, Bi. Di hatimu masih terselip rasa cinta untuknya," ucap Kirana, sendu. Meski di hati gadis cantik itu belum tumbuh rasa cinta untuk Abimana, namun Kirana merasa sedih bila calon suaminya masih saja mencintai sang mantan. Sedangkan dirinya, sudah membuang jauh-jauh perasaan cinta terhadap Raikhan.


Abimana yang menyadari perubahan raut wajah calon istrinya, seketika menghentikan mobil di tepi jalan.


Pria tampan bermata teduh mengusap jilbab calon istrinya dengan penuh kelembutan.


"Ran, please jangan berkata seperti itu lagi! Maaf, jika perasaan ini masih ada untuknya meski hanya setitik. Aku berjanji akan segera menghempasnya."

__ADS_1


"Bi, aku hanya takut. Saat cinta benar-benar tumbuh di dalam hati ini, kamu tidak membalasnya. Aku trauma dengan rasa sakit yang dulu pernah kurasakan, Bi." Kirana tidak dapat menahan buliran bening yang keluar dari kedua sudut netranya.


Abimana mengusap wajah Kirana yang mulai basah, dengan jemari tangannya.


"Ran, jangan berpikiran seperti itu lagi! Aku yakin, tidak akan sulit mencintai gadis sepertimu. Hanya kamu yang mampu menguatkan dan memberiku rasa nyaman. Kita hanya butuh waktu untuk saling menautkan hati."


"Huum Bi."


"Jangan menangis lagi ya Yank! Yakinlah pada calon suamimu yang tampan ini!" Abimana mengerlingkan mata.


"Hisshhh, tampan kata siapa Bi?" Kirana mulai tersenyum.


"Kataku. Sayang pasti juga mengakuinya kan?"


"Hemmm."


"Nah, kan. Berarti aku memang tampan."


"Kepedean banget." Kirana menahan tawa.


"Aku yakin, kelak Sayang akan bucin, gara-gara pria tampan ini, hhhhhhahaha."


"Apaan sich, lebay." Kirana mengerucutkan bibirnya.


"Akan aku buktikan, ketika kita sudah menikah." Abimana terkekeh.


Pria tampan itu mulai menghidupkan mesin mobil, dan mengemudikannya menerobos keramaian jalanan kota Jogja.


🌹🌹🌹🌹


Readerssss terus ikuti kisah Abi ya!!!


Jangan lupa tinggalkan like 👍


Komentar


Klik emote ❤ untuk menfavoritkan novel


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Klik Vote untuk mendukung karya author


Trimakasih dan Happy reading 😘😘

__ADS_1



__ADS_2