Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Boncabe 2


__ADS_3

Rembulan menyapa dengan terang sinarnya, berteman dengan rasi bintang yang membentuk rupa maha sempurna sang pencipta. Dibawah naungan langit para hamba melantunkan kalam cinta, bertadarus, membaca dan memahami kitab suci.


Selama Ramadhan, masjid-masjid tidak pernah sepi. Para hamba berlomba-lomba untuk mendapatkan rahmat dan ampunan dari Robb seluruh alam.


Seusai bertadarus, Hana dan Fadhil berjalan dengan bergandengan tangan menuju rumah Abdullah. Semua orang yang melihat keromantisan mereka merasa kagum. Bahkan para orang tua melangitkan pinta agar putra putri mereka diberikan jodoh seperti Hana ataupun Fadhil. Beda halnya dengan Karmi (Bu Tejo) dan Sani. Kedua wanita itu senantiasa mencari cela seorang Hana Maulida Putri. Seolah ada yang kurang bila mereka tidak membicarakan kisah cinta Hana di masa lalu. Namun berbeda pada malam ini. Seharian Sani tidak keluar dari dalam rumah, entah apa yang terjadi padanya. Sedangkan Bu Tejo, terlihat menangis tersedu-sedu di teras rumahnya.


Hana dan Fadhil menghentikan langkah mereka tatkala melewati pekarangan rumah Bu Tejo. Mereka nampak heran melihat pemandangan yang tak biasa. Baru kali ini seorang Bu Tejo menangis tersedu-sedu.


"Assalamu'alaikum Bu Tejo," sapa Hana dengan suaranya yang terdengar lembut.


"Wa'alaikumsalam," balas Bu Tejo ketus sembari membersihkan ingusnya dengan tisu.


"Apa yang terjadi, Bu?"


"Suamiku, dia ternyata punya istri lagi. Huwwaaaa apa kurangnya diriku ini? Bibirku seksi. Wajah juga nggak kalah kalau dibandingkan dengan Desy Ratna Sari." Tangis Bu Tejo semakin menjadi.


Hana berjalan mendekat ke arah Bu Tejo. Ia usap pundak Bu Tejo seraya memberi ketenangan. "Sabar ya Bu! Lebih baik bicarakan dari hati ke hati dengan Pak Tejo! Siapa tau dengan saling terbuka, Bu Tejo bisa menerima alasan Pak Tejo, mengapa beliau menikah lagi."


"Tapi, wanita mana yang mau dimadu? Buktinya, dulu kamu minta berpisah dengan Adam, setelah mantan suamimu itu menikah dengan Shelly, iya kan?" ketus Bu Tejo. Bu Tejo memang tidak pernah mengerti dengan permasalahan Hana dan Adam, hingga menyebabkan mereka harus berpisah.


Mendengar ucapan Bu Tejo, seakan membuka luka lama. Hati Hana terasa sakit. Bahkan titik-titik air mulai mengumpul di pelupuk mata Hana. Fadhil yang memahami perasaan istrinya pun segera meraih bahu Hana.


"Bu Tejo, jangan pernah lagi membicarakan masa lalu istri saya! Lebih baik, Bu Tejo introspeksi diri, mengapa Pak Tejo sampai hati menikah lagi. Mungkin ada sifat atau pribadi Bu Tejo yang membuat suami tidak tahan dan memilih untuk menikahi wanita yang mampu memberikan ketentraman batin."


Bu Tejo terkesiap mendengar ucapan Fadhil. Tanpa berucap salam, Fadhil dan Hana melangkah pergi meninggalkan Bu Tejo.


.


.


Sesampai di rumah, Fadhil membawa Hana masuk ke dalam kamar. Lolos sudah buliran bening yang sedari tadi Hana tahan.


"Mas, mengapa Bu Tejo selalu mengungkit masa lalu Hana? Seolah Hana teramat hina di matanya." Fadhil mendekap tubuh istrinya. Dikecupnya puncak kepala Hana, mengungkapkan perasaan cinta dan kasih sayang seorang suami terhadap istrinya.

__ADS_1


"Humaira, jangan pernah mendengarkan semua ucapan Bu Tejo! Masa lalu tidak usah dikenang ataupun disesali! Cukup dijadikan sebagai pelajaran hidup."


"Mas, jika boleh meminta, Hana tidak ingin bertemu dan jatuh cinta pada Mas Adam. Hana menyesal mengapa tidak mendengarkan kata hati yang meragu kala menerima pinangan Mas Adam, saat itu." Tangis Hana pecah tatkala terbayang kembali kisah cintanya dengan Adam yang berakhir perpisahan.


Fadhil mengusap punggung Hana dengan gerakan naik turun seraya memberi ketenangan. "Humaira, apa yang pernah terjadi adalah ujian dari Allah. Bukankah Allah sudah memberi balasan berupa kebahagiaan kepada Humaira? Atau ... Humaira tidak bahagia menjadi istri Mas Fadhil."


Fadhil meregangkan pelukan. Ia usap bulir bening yang membasahi wajah cantik istrinya.


Hana menengadahkan wajahnya. Ia tatap manik coklat Fadhil Siddiq Syam, pria tampan yang selalu mencurahi Hana dengan kasih sayang dan cinta, disertai ketulusan hati. "Mas, aku teramat bahagia menjadi istri Mas Fadhil. Bahkan karena terlalu bahagia, sampai-sampai ... Hana merasa bahwa kebahagiaan ini hanyalah mimpi. Namun Alhamdulillah, ternyata ini bukan mimpi Mas."


"Benarkah Humaira?" Fadhil membalas tatapan Hana.


Hana mengangguk pelan. "Iya Mas, Hana sangat bahagia. Apalagi benih cinta kita, beberapa bulan lagi akan segera hadir ke dunia."


Senyum terbit di bibir Fadhil kala mendengar jawaban Hana. Ia hujani wajah istrinya dengan kecupan. Setelah puas menghujani kecupan, Fadhil sedikit membungkukkan badan.


"Assalamu'alaikum, malaikat kecil abi dan ummi. Sedang apa Sayang? Kami menantikan kehadiranmu, Nak. Sehat selalu ya Sayang." Hana tersenyum mendengar ucapan Fadhil yang seolah sedang bercakap-cakap dengan calon bayi mereka. Perasaan Hana menghangat tatkala Fadhil mencium perutnya yang sudah mulai buncit.


🌹🌹🌹


"Pa...."


"Iya Sayang. Ceritakan pada papa, apa yang sebenarnya terjadi!" Adam merangkul pundak Tiara. Ia kecup puncak kepala putrinya.


"Pa, tante Mishel akan segera dipinang. Tiara sungguh tidak ingin jika Tante Mishel menikah dengan pria lain. Tiara ingin supaya Papa bersedia menikahi Tante Mishel."


Adam menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan. "Tiara, relakan Tante Mishel untuk meraih kebahagiaannya! Tante Mishel berhak mendapatkan cinta dari pria yang tulus mencintainya. Jujur, sampai detik ini, papa belum sanggup menghapus nama mama yang tergores di dalam hati. Cinta mama yang teramat besar, tidak tergantikan."


"Tapi Pa, Tiara membutuhkan kehadiran seorang mama. Tiara merasakan kasih sayang seorang mama dari Tante Mishel." Wajah Tiara semakin terlihat sendu.


"Sayang, masih ada papa, oma dan opa yang akan mencurahi Tiara dengan cinta serta kasih sayang. Apa Tiara rela jika posisi mama tergantikan?"


Tiara bergeming. Gadis malang itu sudah menduga bahwa sang papa tidak akan pernah mau mewujudkan keinginannya untuk menjadikan Mishel sebagai ibu sambung.

__ADS_1


Tiara yang kecewa beranjak dari posisi duduk kemudian berjalan meninggalkan papanya.


"Tiara ...." Adam memanggil Tiara, tanpa beranjak dari posisi duduknya. Adam menyadari bahwa ucapannya membuat Tiara kecewa.


Sesampainya di kamar, Tiara menghempaskan tubuh mungilnya di ranjang. Gadis kecil nan malang itu menangis tersedu-sedu.


"Ma, Tiara kecewa pada papa. Mengapa papa tidak bersedia menikahi Tante Mishel?"


"Tiara sayang." Terdengar suara lembut yang sangat familiar. Tiara menengadahkan wajahnya.


"Mama." Mata Tiara nampak berbinar tatkala melihat bayangan mamanya. Seketika Tiara duduk, lalu memeluk bayangan sang mama dengan erat.


Shelly mengusap rambut Tiara dengan penuh kasih sayang. "Tiara, jangan kecewa pada papa! Beri papa waktu untuk membuka hatinya kembali! Jangan memaksakan keinginan jika papa memang belum ingin menikah! Percayalah, bila papa dan tante Mishel berjodoh, pasti mereka akan dipersatukan oleh Allah, entah kapan waktunya."


"Tapi Ma, Tiara terlanjur menyayangi tante Mishel."


"Sayang, jika Tiara menyayangi Tante Mishel, langitkan pinta pada Illahi! Insya Allah, doa anak yang salehah akan dikabulkan oleh Allah."


"Benarkah, Ma?"


"Tentu saja, Sayang. Sekarang Tiara tidur ya! Mimpilah yang indah, Nak."


"Iya Mama." Tiara mengurai pelukan. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai memejamkan mata.


Tiara merasa bahagia saat bayangan Shelly mencium keningnya. Gadis kecil itupun terlelap dan terbuai dalam mimpi indah.


🌹🌹🌹🌹


Boncabe ke 2 😁😁😁


Ada nggak ya yang kangen dengan Abi, Kiran dan Keanu? Jika ya, Insya Allah mereka akan hadir next boncabe.


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan beri komentar penyemangat. 💓💓💓

__ADS_1


Oiya, bagi readers yang belum mengupdate aplikasi mangatoon atau noveltoon versi terbaru, segera update ya! Karena jika masih versi lama, dukungan dari readers kemungkinan tidak akan sampai pada author-author kesayangan kalian. Kan sayang banget poin vote dan hadiahnya jika mubazir. 😅😅


So trimakasih dan happy reading 💓💓💓


__ADS_2