
Adam mengusap pipi putrinya dengan lembut. "Sayang, sepertinya ... kita sudah terlambat. Tante Mishel pasti sudah menerima pinangan om Farhan."
Seketika kebahagiaan yang baru dirasakan oleh Tiara menguap begitu saja. Dada Tiara seakan dihujam oleh ribuan anak panah. Pupus sudah harapan Tiara untuk menjadikan Mishel sebagai mamanya.
Tiara tak mampu menahan bulir-bulir kesedihan yang keluar tanpa permisi membasahi wajah cantiknya. Tubuh Tiara berguncang hebat karena rasa sedih yang teramat sangat. Adam mendekap tubuh Tiara seraya memberi ketenangan. Melihat putrinya bersedih dan menitikkan air mata, hati Adam seakan tersayat. Ia merutuki keputusannya sendiri karena tidak berusaha membuka hati untuk Mishel. Adam dilema. Ia dihadapkan oleh dua pilihan. Tetap setia pada almarhumah istrinya atau ... menjadikan Mishel sebagai pengganti Shelly. Seolah kegalauan Adam kini terjawab. Pada akhirnya, Mishel memilih takdirnya untuk menerima pinangan Farhan.
Setelah Tiara kembali tenang, Adam melajukan mobilnya menembus jalanan kota Jogja. Di sepanjang perjalanan mereka berdua saling terdiam. Seakan lidah Adam dan Tiara kelu untuk berucap karena rasa sesak di dada.
Adam menghentikan mobilnya begitu sampai di Alun-Alun Selatan. Ia menaruh mobilnya terlebih dahulu di parkiran bagian utara.
"Ayo Sayang, kita mampir di Alun-Alun Selatan!" ajak Adam sembari membuka pintu mobil untuk Tiara. Tiara hanya mengangguk pelan. Gadis kecil nan malang itu, perlahan menjejakkan kakinya ke tanah.
Adam menggenggam tangan Tiara setelah menutup kembali pintu mobil. Mereka berjalan menuju kerumunan orang yang tengah asik menikmati suasana malam di Alun-Alun Selatan.
Adam menyewa penutup mata untuk melakukan ritual masangin seperti yang dilakukan oleh para wisatawan bila berkunjung ke Alun-Alun Selatan. Adam melakukan masangin hanya sekedar untuk menghibur sang putri yang tengah dirundung kesedihan.
Ritual atau kegiatan masangin dilakukan dengan cara menutup mata, kemudian berjalan melewati dua pohon beringin kembar.
Menurut kepercayaan Jawa, dua pohon beringin di Alun-Alun Selatan memiliki makna filosofi tersendiri. Pada jamannya dua beringin tersebut menjadi tempat latihan para prajurit. Setiap prajurit dilatih untuk mengelilingi dua pohon beringin kembar dengan mata tertutup dan tidak boleh berucap.
Sampai sekarang, para pengunjung selalu melakukan ritual tersebut. Menurut mitos, jika berhasil melewati kedua pohon beringin tepat ditengah, maka rejeki yang diberikan kepadanya senantiasa berlimpah dan segala permintaan akan terkabul. Memang hanya sebuah mitos, akan tetapi sebagian orang berpendapat bahwa filosofinya, kita harus selalu berusaha ikhlas dengan apa yang telah dikerjakan dan pastinya usaha yang dijalankan harus halal agar selalu berkah dalam kehidupan.
Setelah menutup mata Tiara, Adam memutar tubuh putrinya. Kemudian, ia menyuruh Tiara untuk mulai berjalan melewati dua pohon beringin kembar.
Tiara pun menuruti perkataan papanya. Ia berjalan dengan perlahan melewati dua pohon beringin kembar dengan mata tertutup.
"Ayo Tiara, jalan ke samping kanan! Ayo, kamu bisa Sayang!" Adam memberikan aba-aba. Wajah yang sendu kini nampak dihiasi oleh binar-binar kebahagiaan. Seolah kesedihan yang mereka rasa, menguap begitu saja.
"Lurus, Tiara! Yakkkk jalan lurus!" Tiara terus berjalan sesuai dengan aba-aba yang diberikan oleh papanya hingga ia pun berhasil melewati dua pohon beringin kembar tepat di tengah.
Adam berteriak kegirangan tatkala putrinya telah berhasil melakukan ritual masangin.
__ADS_1
"Yeyyyyyy, putri papa hebat."
Adam membantu Tiara untuk membuka penutup mata.
"Seru kan, Sayang?" tanya Adam sembari mengusap jilbab yang dikenakan oleh Tiara.
Tiara menganggukan kepalanya disertai senyuman yang merekah. "Iya Pa, seru banget."
"Mmm ... yuk kita minum wedang ronde dan makan roti bakar! Setelah itu, papa ingin mengajak Tiara naik sepeda tandem," ucap Adam dengan memperlihatkan senyum khas yang menawan.
"Yeyyyy, asik tuch Pa. Tiara seneng banget." Raut wajah Tiara nampak dihiasi oleh binar kebahagiaan. Adam teramat bersyukur karena saat ini Tiara bisa menanggalkan kesedihannya. Adam berharap, semoga putrinya dapat melupakan Mishel meskipun perlahan.
.
.
Setelah menikmati kehangatan wedang ronde serta memakan roti bakar, Adam dan Tiara mengendarai sepeda tandem. Mereka berdua tertawa lepas. Seakan kesedihan yang tengah mendera terbang bersama hembusan angin malam.
🌹🌹🌹
Saat ini Fadhil dan Hana tengah berbaring di atas ranjang. Hana memandangi wajah suaminya yang nampak gelisah.
"Mas, ada apa? Mengapa Mas Fadhil nampak gelisah?" tanya Hana sembari mengusap pipi sang suami dengan jemari tangannya yang lentik.
Fadhil memiringkan tubuhnya hingga wajah mereka pun kini saling berhadapan.
"Mas Fadhil merasa lapar, Humaira," jawab Fadhil dengan menampakan wajah memelas.
Hana terkekeh mendengar jawaban dan melihat ekspresi wajah suaminya. "Mas, kalau lapar ya tinggal makan saja. Atau ... Hana ambilkan nasi beserta lauknya ya?"
Fadhil mencium buku-buku jari istrinya. Ia tatap manik mata Hana dengan intens. "Humaira, Mas Fadhil tidak ingin makan nasi dan lauk. Tapi ... Mas Fadhil ingin makan pisang genderuwo."
__ADS_1
Ucapan Fadhil membuat Hana tergelak. "Hhhaha ... Hana yang hamil mengapa sepertinya Mas Fadhil yang nyidam? Duhhh Mas, malam-malam begini mau mencari pisang genderuwo di mana coba?"
"Humaira, Mas Fadhil juga tidak tau. Tapi .... Mas Fadhil benar-benar ingin memakan pisang genderuwo saat ini juga."
"Mas, ini sudah malam. Di kebun Kyai Saleh ada pohon pisang genderuwo, tapi letaknya dekat makam. Kalau Mas Fadhil mau memetik malam ini juga, nanti yang dipetik malah salah lho. Bisa jadi genderuwonya asli yang dipetik."
Fadhil mencebikan bibirnya. "Mana ada genderuwo bisa dipetik, Humaira? Mas Fadhil bisa meminta Hamzah untuk memetik pisang genderuwo di kebun Kyai Saleh malam ini juga."
"Hemmm, kasihan Mas Hamzah dong. Mas Fadhil kog kemauannya ngadi-ngadi. Kalau pisang emas mau tidak, Mas? Di kulkas ada pisang emas."
"Suamimu ini tidak ingin pisang emas, Humaira. Tapi Mas Fadhil maunya pisang genderuwo, pisang yang berwarna merah."
"Kalau ingin pisang merah, tinggal diwarnai saja pisangnya, Mas." Hana kembali tertawa.
Fadhil menjapit hidung mancung Hana dengan gemas. "Meski diwarnai merah, tapi rasanya beda, Humaira sayang."
"Ishhhh, Mas Fadhil. Hidung Hana jadi merah nich," ucap Hana sembari mengusap hidungnya yang memerah karena japitan jari Fadhil.
"Bukan hanya hidung yang memerah, tapi pipi Humaira juga akan memerah."
CUP
Tetiba Fadhil mencium pipi istrinya dengan penuh perasaan. Dan benar saja. Kini bukan hanya hidungnya yang memerah, pipi Hana pun tercetak warna merah akibat serangan dari bibir Fadhil yang tiba-tiba.
🌹🌹🌹🌹
Bosan belum ya dengan boncabenya ...??? 😁😁😁
Yupsssss, jangan lupa tinggalkan jejak like dan beri komen penyemangat. Klik 💓 untuk menfavoritkan ICPA.
__ADS_1
Trimakasih dan happy reading 😘😘😘