Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Keputusan Hana


__ADS_3

Seusai acara ijab qabul, para tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah tersedia.


Sebenarnya Adam ingin sekali memeluk gadis kecil yang masih berdiri di samping Shelly karena perasaan rindunya yang membuncah. Sekuat tenaga Adam menahan keinginan demi menjaga perasaan wanita yang baru saja diikatnya dengan janji suci pernikahan.


Adam meraih tangan Hana dan menggenggamnya dengan erat. Setelah berpamitan pada Shelly dan Tiara, Hana dan Adam melangkahkan kaki menuju kamar.


.


.


Sesampai di dalam kamar, Hana duduk di tepi ranjang. Irama jantungnya terdengar tak beraturan tatkala menyadari hanya ia dan Adam yang berada di dalam kamar.


Adam duduk bersimpuh di hadapan Hana. Ia genggam tangan Hana dengan erat.


"Hana, ada yang ingin Mas Adam sampaikan kepadamu." Adam menundukan wajahnya seraya menahan bulir kesedihan yang sudah menganak di kelopak mata karena rasa bersalah yang kian mendera terhadap Hana.


Hana mengerutkan sedikit dahinya. "Apa yang ingin Mas Adam sampaikan? Mengapa Mas Adam duduk bersimpuh dan menundukan wajah?" Hana nampak heran.


"Hana, sebelumnya Mas Adam ingin meminta maaf kepadamu, mungkin apa yang Mas Adam sampaikan, akan menyakiti hatimu."


DEG


Tetiba dada Hana terasa sesak sebelum mendengar apa yang ingin diucapkan oleh suaminya. Pikiran buruk tentang masa lalu Adam mulai memenuhi otaknya. Namun Hana berusaha untuk tetap berpikiran positif.


"Hana, sebenarnya Shelly adalah mantan kekasih Mas Adam yang pergi tanpa pamit saat mengandung buat hati kami. Mas Adam yakin bahwa Tiara adalah putri kami. Hana, maafkan Mas Adam...." Suara Adam tercekat karena menahan bongkahan kesedihan dan rasa bersalah.


Bagai dihujam ribuan pisau belati, dada Hana terasa sangat sakit. Bulir air bening mulai menetes membasahi wajah cantiknya.


"Hana, ma-maafkan Mas Adam." Bulir kesedihan yang sedari tadi ia tahan, pada akhirnya tertumpah. Tubuh Adam bergetar hebat.


Ingin rasanya Hana mengusap punggung Adam untuk memberi ketenangan, namun ia urungkan. Sayatan rasa sakit di hatinya begitu dalam hingga ia berpikir tak akan mampu lagi mempertahankan ikatan pernikahan yang baru saja terjalin. Apalagi bila membayangkan nasib Tiara, seorang gadis kecil yang malang.

__ADS_1


"Ya Allah, ampuni hamba yang telah berbuat dzolim. Seharusnya hamba mengikuti kata hati. Hamba lemah iman ya Allah. Jika saja hamba dapat menepis impian semu untuk memiliki hati dan raga Mas Adam, semua ini pasti tidak akan terjadi," batin Hana menyalahkan dirinya sendiri.


"Mas Adam. Hana akan memberi maaf, asalkan Mas Adam bersedia mempertanggung jawabkan kesalahan di masa lalu. Mas, lepaskan Hana! Jadikanlah Mbak Shelly istri yang sah di mata hukum dan agama! Kasihan nasib Tiara. Putri Mas Adam masih teramat kecil untuk memahami permasalahan yang dialami oleh kedua orang tuanya. Mas Adam, Hana bukanlah wanita yang sempurna seperti istri Baginda Rasul. Hana hanyalah wanita biasa yang tidak sanggup berbagi cinta dengan wanita lain." Hana berusaha tegar. Diusapnya jejak air mata yang membasahi wajah dengan jemari tangan.


"Tapi, bagaimana dengan perasaan kita, Hana? Kita saling mencintai. Aku benar-benar tidak bisa berpisah denganmu," Adam terisak.


"Mas Adam, Mbak Shelly sudah terlalu lama menderita. Selama ini Mbak Shelly berjuang sendiri demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan Tiara. Mbak Shelly wanita yang sangat tegar. Ia berhak mendapatkan kebahagiaan. Tiara juga membutuhkan sosok ayah yang akan mencurahinya dengan kasih sayang dan cinta. Lepaskan aku, Mas!" Bulir air bening mulai menetes kembali dari kedua sudut netra Hana.


Kebahagiaan yang baru saja dirasakannya, kini menguap.


"Hana, bagaimana aku bisa melepaskanmu? Kita baru saja mengikrarkan janji suci." Adam menengadahkan wajahnya. Kedua netranya menatap manik mata Hana.


Hana membalas tatapan Adam dan mengusap jejak air mata yang membasahi wajah suaminya. "Mas Adam, kita tidak boleh egois! Ada yang lebih berhak mendapatkan cintamu dari pada Hana. Insya Allah, inilah yang terbaik untuk kita Mas. Lebih baik kita segera berpisah, sebelum melangkah lebih jauh."


Adam terdiam, ia sungguh tidak mampu bila harus melepaskan wanita yang baru saja dinikahinya.


🌹🌹🌹


Hana meminta Kirana untuk membujuk kedua kakaknya agar bersedia bermain di taman bersama Keanu dan Allyra. Hana tidak ingin membebani pikiran Alya dan Asti karena mereka berdua tengah mengandung.


.


.


Saat ini Hana duduk bersebelahan dengan Kirana dan Adam. Keluarga Hana dan Adam duduk melingkar di atas tikar.


Abdulllah beserta istri dan putranya datang sebelum Hana mengutarakan keinginannya. Mereka dipersilahkan untuk duduk dan ikut serta mendengar apa yang akan diutarakan oleh Hana.


Hana meminta Adam untuk menceritakan kisah kasihnya dengan Shelly di masa lalu, hingga mereka memiliki seorang putri, Tiara.


Adam memenuhi keinginan Hana dengan menceritakan kisah kasihnya di masa lalu. Semua yang mendengarnya terkesiap, terkecuali Rizal dan Rahma.

__ADS_1


"Jadi apa yang sebenarnya kamu inginkan, Hana?" tanya Rizal dengan menatap manik mata menantunya.


"Pa, Hana ingin agar Mas Adam menjadi seorang pria yang bertanggung jawab. Mas Adam harus menikahi Mbak Shelly dan melepaskan Hana," jawab Hana dengan mantap.


Kedua netra Rizal membulat sempurna, "Tidak, papa tidak setuju dengan keinginanmu itu, Hana. Kalian baru saja menikah. Dan Shelly... dari dulu papa tidak merestuinya berhubungan dengan Adam." Rizal meninggikan intonasi suaranya karena emosi yang meluap. Rahma mengusap-usap punggung suaminya seraya memberikan ketenangan.


"Pa, kasihan Mbak Shelly dan Tiara. Mereka berdua sudah lama menderita. Terimalah Mbak Shelly sebagai menantu! Mbak Shelly dan Tiara lebih berhak mendapatkan cinta Mas Adam dari pada Hana," pinta Hana dengan sedikit menundukan wajahnya. Buliran kesedihan yang sedari tadi ia tahan, akhirnya lolos juga.


Abdullah mulai membuka suara untuk menengahi permasalahan yang sedang dihadapi oleh Hana dan Adam. "Nak Hana, tenangkanlah pikiranmu terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan! Pilihlah cara lain untuk menyelesaikan permasalahan kalian!"


"Maaf Ustadz, menurut saya tidak ada cara selain berpisah. Sa-saya tidak sanggup bila berbahagia di atas penderitaan wanita lain. Saya bukanlah wanita sempurna seperti istri Baginda Rasul, yang menerima poligami. Saya Hana Maulida Putri, seorang wanita biasa." Hana tetap kukuh dengan keputusannya.


"Ndhuk, bagaimana jika semua orang akan memandangmu hina?" tanya Fatimah, raut wajahnya diselimuti kesedihan.


"Hana sudah siap menerimanya, Bu. Bahkan bila mereka melempari Hana dengan batu karena dianggap sebagai aib, Hana sudah siap untuk mat...," Hana tidak kuasa melanjutkan ucapannya. Tubuh Hana bergetar, ia sudah tidak sanggup lagi menahan kesedihan yang mendera.


Kirana berusaha menenangkan Hana dengan memberikan pelukan. Diusapnya punggung Hana dengan lembut. "Dek, kamu harus kuat sayang! Yang tegar! Apapun yang menjadi keputusanmu, Mbak Kiran akan mendukungmu selama itu yang terbaik untuk kalian."


Hening


Semua tenggelam dalam pemikiran masing-masing.


🌹🌹🌹🌹


Ujian cinta memang harus dihadapi dengan keikhlasan, kesabaran dan ketegaran... Hana dan Adam akan berpisah, atau mungkin mereka tetap akan bersama?


Next episode semoga dapat menjawab kegalauan mereka... 😅😅😅


Trimakasih untuk readers dan sobat author yang selalu setia mengikuti ICPA... 😇😇🙏🙏


Happy reading 😘😘

__ADS_1


__ADS_2