
Seusai menjalankan sholat Ashar, Fadhil dan Hana menikmati keindahan wisata hutan pinus yang dikenal dengan sebutan Puncak Becici.
Fadhil membawa Hana ke Puncak Becici atas saran Raikhan dan Abimana. Rupanya seusai acara ijab qabul, mereka berdua mengajarkan beberapa trik untuk meluluhkan hati seorang wanita kepada Fadhil.
Soal meluluhkan hati wanita, Raikhan dan Abimana ahlinya. Sampai-sampai, istri mereka menjadi bucin karena perlakuan yang teramat so sweet.
.
.
Puncak Becici dikenal dengan panoramanya yang indah. Terlihat deretan pepohonan hijau yang tumbuh rapat-rapat dari ketinggian dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.
Fadhil dan Hana kini tengah duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu sembari menikmati keindahan alam ciptaanNya dari atas gardu pandang.
"Humaira." Fadhil menatap manik mata istrinya dengan intens.
"Ya Mas." Hana membalas tatapan suaminya. Kedua netra mereka pun saling bersiborok.
"Humaira, Mas Fadhil membawamu ke Puncak Becici karena tempat ini ditumbuhi oleh ribuan pohon pinus. Humaira tau ... ? Dalam budaya Korea, pohon pinus melambangkan cinta abadi atau disebutย everlasting love.ย Pohon yang tumbuh menjulang tinggi melambangkan cinta sejati dan tidak bercabang-cabang, lurus, sekaligus kokoh."
Senyum terbit dari bibir Fadhil. Tangannya mengusap pipi Hana yang terlihat kemerah-merahan.
Hening, tidak ada balasan dari Hana. Lidah Hana serasa kelu, bibirnya gemetar saat ingin berucap. Degup jantungnya semakin tak berirama.
"Humaira, Mas Fadhil ingin menunjukkan pemandangan alam yang akan membuatmu takjub ketika senja tiba."
"Benarkah Mas? Menurut Hana, saat ini pun pemandangan yang tersuguh sudah sangat menakjubkan."
"Hehem. Kita akan melihat keindahan alam yang dilukisNya dengan sangat indah."
"Hana sudah tidak sabar melihat lukisan Illahi, Mas."
"Bersabarlah menunggu saat senja menyapa! Seperti sabarku menunggu balasan cinta darimu, Humaira."
Mendengar ucapan Fadhil, hati Hana menjadi tersentuh. Betapa tulus cinta Fadhil terhadapnya. Bahkan, Fadhil juga bersedia untuk sabar menanti balasan cinta darinya. Kedua netra Hana nampak berkaca-kaca.
"Trimakasih Mas atas sabarmu. Semoga Allah segera menumbuhkan perasaan cinta di dalam hati Hana, hanya untuk Mas Fadhil."
"Aamiin Humaira, semoga ribuan pohon pinus pun ikut mengamini." Fadhil mengecup kening Hana dengan penuh perasaan.
"Mas, Hana teramat bersyukur memiliki kekasih halal seorang Fadhil Siddiq Syam." Hana menyandarkan kepalanya di bahu Fadhil. Tangan Fadhil yang kekar melingkar di pundak Hana.
"Lihatlah Humaira! Senja mulai menyapa."
"Iya Mas, nampak warna jingga dari pancaran matahari yang akan tenggelam." Pandangan netra mereka tertuju pada langit yang sudah tergoreskan warna jingga.
"Begitu indah kan, Humaira?"
"Sangat indah Mas." Kedua netra Hana nampak berbinar tatkala melihat keindahan langit senja.
"Humaira, lihatlah di sana terlihat goresan air yang memanjang lurus!" Jari Fadhil menunjuk ke arah goresan air yang memanjang lurus.
"Huum, apa itu Mas?"
__ADS_1
"Itu Pantai selatan, Humaira."
"Masya Allah, sungguh ciptaanNya tiada yang mampu menandingi."
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah, yang kamu dustakan."
"Iya Mas, Hana semakin terpesona dengan keindahan ciptaanNya."
"Semoga, Humaira juga terpesona dengan makhluk ciptaanNya yang bernama Fadhil Siddiq Syam."
Hana tertawa mendengar ucapan Fadhil. "Hhhaha, Mas Fadhil bisa saja. Hana sudah terpesona dengan ketulusan cinta dan kasih sayangmu Mas. Juga lantunan kalam cinta yang selalu terdengar sangat merdu dari bibir Mas Fadhil."
"Benarkah Humaira?"
"Iya Mas."
Fadhil mencium pucuk kepala Hana dengan penuh cinta.
"Humaira, malam ini kita bermalam di villa ya! Kita akan kembali mereguk manisnya surga dunia," bisik Fadhil di telinga Hana.
Hana terkesiap mendengar ucapan Fadhil. Terbayang apa yang akan terjadi di villa nanti, peyatuan raga untuk mereguk kenikmatan surga dunia.
Hana memukul dada Fadhil dengan pelan. "Achhh Mas Fadhil .... " Fadhil tersenyum lebar melihat wajah Hana yang sudah dihiasi kupu-kupu.
๐น๐น๐น
Fadhil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Villa yang akan disewa untuk bermalam.
"Humaira...." Fadhil menatap wajah Hana sekilas, kedua tangannya fokus memegang kemudi.
"Ya Mas....." Hana mengalihkan pandangannya menatap wajah Fadhil.
"Jangan tertidur dulu lho!"
"Memangnya kenapa Mas?" Hana sedikit mengerutkan kening.
"Pokoknya tidak boleh! Awas saja kalau tertidur."
"Hhhaha, ya Allah. Mas Fadhil mengancam Hana."
"Hehem. Humaira kan belum mandi, badannya masih bau kecut. Masa Mas Fadhil harus memandikan Humaira terlebih dahulu sebelum membaringkan di atas ranjang."
"Apaan sich, Mas..." Raut wajah Hana nampak merah merona.
"Atau ... Humaira inginnya begitu?" Fadhil semakin menggoda Hana.
"Jangan menggodaku terus Mas! Aku cubit lho." Hana mencubit pinggang suaminya dengan gemas.
"Awww, sakit Humaira."
"Makanya, Mas Fadhil jangan nakal!"
"Iya, iya ... Humaira." Tercetak senyuman manis di bibir Fadhil tatkala melihat Hana kembali ceria.
__ADS_1
๐น๐น๐น
Di kediaman Rizal, nampak seorang pria sedang terbaring lemah di atas ranjang. Semenjak kehadirannya di acara ijab qabul Hana dan Fadhil, Adam merasa tidak mempunyai semangat hidup lagi. Seringkali Adam mengurung diri di dalam kamar dan tidak menjamah makanan yang disediakan oleh Shelly.
Seolah, kehadiran Tiara tetap tidak mampu melukiskan pelangi di hidup Adam. Hanya Hana yang Adam harapkan untuk mengukir senyum dan menghiasi hari-harinya.
"Dam, makanlah! Tubuhmu sudah sangat lemah!" bujuk Shelly sambil menyendok bubur ayam yang masih hangat.
"Aku tidak ingin makan, Shel." Adam membalikkan badan membelakangi Shelly.
"Tapi, Dam. Dari kemarin kamu tidak makan."
"Aku tidak lapar Shel. Pergilah!"
Hati Shelly teramat sakit karena selalu menerima penolakan dari pria yang kini telah berstatus menjadi suaminya. Shelly merasa teramat bersalah, karena kehadiran dirinya dan Tiara menjadi penyebab kesedihan yang kini tengah mendera Adam. Andai waktu bisa berputar kembali, Shelly memilih untuk tidak dipertemukan dengan Adam. Shelly menyadari, bahwa cinta Adam terhadapnya sudah terhapus. Kini, hanya Hana wanita yang sangat dicintai Adam.
"Papa .... " Tanpa mereka sadari, ternyata Tiara sudah berada di dalam kamar. Tiara berjalan mendekat ke arah ranjang.
Tiara duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah Adam yang terlihat pucat.
"Pa ...."
Adam berusaha mengukir senyum di bibirnya tatkala berhadapan dengan Tiara.
"Ada apa putri papa?"
"Pa, mengapa Papa tidak mau makan? Wajah Papa yang tampan berubah pucat. Tubuh Papa menjadi kurus." Raut wajah Tiara nampak sendu.
"Papa sedang tidak lapar, Sayang." Adam mengusap rambut Tiara dengan penuh kelembutan.
"Tapi Papa harus makan! Tiara suapin ya?" Tiara berusaha membujuk Adam.
Adam mengulas senyum. "Papa benar-benar tidak lapar. Tiara main sama Mama dulu ya!"
"Tapi Pa .... "
Adam memangkas ucapan putrinya. "Sttt ... Tiara kan anak yang penurut. Papa ingin tidur, jadi ... Tiara main dulu sama Mama!" Tiara berusaha menahan bulir kesedihan yang sudah menganak di pelupuk mata.
Sambil menunduk, Tiara membalas ucapan Adam, "baiklah Pa. Tiara cinta Papa." Tiara mencium kening Adam, menumpahkan rasa cinta seorang anak terhadap papanya.
Hening ....
Adam diselimuti rasa bersalah dan kesedihan. Bersalah karena mengacuhkan putrinya. Sedih karena pupusnya cinta.
๐น๐น๐น๐น
Maaf UP nya terlambat ... Rumah othor sedang kedatangan bocil-bocil.๐๐๐ ๐๐๐
Semoga episode kali ini tidak membosankan ya ... Hemmmm, bagaimana agar Adam kembali memiliki semangat hidup??? Ada saran untuk Shelly??
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like, klik hadiah atau vote jika berkenan.
Trimakasih dan happy reading ๐๐
__ADS_1