
Langit berselimut malam, desahan suara angin mengiringi lantunan doa seorang pria yang sedang merayu pada-Nya. Pria muda itu melangitkan doa agar hati wanita yang teramat dikagumi tersentuh untuk menerima cinta tulusnya.
Ada satu nama yang tersemat di dalam doa. Nama seorang gadis berjilbab dan memiliki akhlakul karimah. Gadis itu bernama Hana Maulida Putri.
Adam Rizal Syaputra, duduk di atas sajadah yang terbentang. Ia mengucap salam lewat hembusan sang bayu teruntuk Hana, wanita yang diimpikannya menjadi kekasih halal.
"Asalamu'alaikum cinta. Pada-Nya, pria yang tak sempurna ini melangitkan doa, agar hati kita bisa saling bertaut."
.
.
Semenjak perbincangannya dengan Asti, Adam berusaha untuk merubah pribadinya menjadi lebih baik, agar kelak ia pantas berdampingan dengan Hana Maulida Putri. Adam semakin rajin menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Bahkan setiap malam, Adam bersujud kepada-Nya dan melantunkan kalam cinta.
Pagi ini, Adam memberanikan diri bersilaturahim ke rumah Fatimah, ditemani oleh Arif dan Asti. Fatimah adalah ibunda Alya, Asti dan Hana.
"Assalamu'alaikum," ucap Adam, Arif dan Asti hampir bersamaan. Mereka mengucapkan salam hingga tiga kali. Setelah ketiga kalinya terdengar balasan salam dari dalam rumah disertai suara pintu yang sedang dibuka.
"Wa'alaikumsalam."
CEKLEK
Terlihat seorang gadis muda berusia 22 tahun berdiri di balik pintu.
"Mbak Asti...." Hana langsung memeluk Asti, begitu melihat sosok kakak yang sangat dirindukannya. Semenjak Asti menikah dengan Arif, keduanya jarang bertemu.
"Hana, adikku sayang...." Asti membalas pelukan sang adik.
Perlahan mereka mengurai pelukan.
"Mari masuk Mas, Mbak!" Hana mempersilahkan ketiga tamunya untuk masuk ke dalam rumah.
Hana menggenggam erat tangan Asti, mereka berjalan menuju ruang tamu, diikuti oleh Arif dan Adam.
"Mari silahkan duduk! Hana buatkan teh nasgitel dulu ya Mas, Mbak...."
"Iya Dek....," balas Asti. Adam, Arif dan Asti duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu, sedangkan Hana melangkahkan kakinya menuju dapur. Pandangan kedua netra Adam tak lepas dari punggung wanita pujaan hatinya, Hana.
"Hussh, Mas Adam. Dijaga pandangannya!" goda Asti disertai tawa, hingga nampaklah gigi gingsulnya.
__ADS_1
"Hemmm, iya As. Aku sudah berusaha menjaga pandangan." Adam mengalihkan pandangannya menatap foto keluarga Asti yang terpasang di dinding. Terlihat ketiga putri Fatimah yang sedang berfoto bersama. Ketiganya sama-sama memiliki paras yang cantik.
Tanpa Adam sadari, ternyata Hana sudah berdiri di sampingnya dengan membawa nampan berisi empat cangkir teh. Hana meletakan nampan tersebut di atas meja, kemudian mempersilahkan para tamunya untuk meminum teh nasgitel.
"Silahkan diminum teh nasgitel buatan Hana, Mas Adam, Mas Arif, Mbak Asti!"
Adam terkesiap setelah mendengar suara Hana, ia baru menyadari bahwa Hana sudah berdiri di sampingnya. Seketika tatapan kedua netra Adam tertuju pada wajah cantik Hana. Jantung Adam tetiba berdegup kencang.
"Trimakasih Hana," ucap Arif sembari mengambil secangkir teh kemudian menyesapnya dengan perlahan.
"Sama-sama Mas," balas Hana dengan mengulas senyum. Hana duduk di sebelah Asti, berhadapan dengan Adam.
"Ehemmm, Mas Adam. Diminum dulu teh nasgitelnya!" Suara Asti sedikit mengagetkan Adam yang masih terpaku memandangi wajah Hana.
"Ehhh, i-iya." Adam terlihat salah tingkah. Asti dan Arif terkekeh melihat ekspresi Adam.
Adam mengambil secangkir teh kemudian langsung menyesapnya. Seketika Adam menyemburkan teh yang sudah masuk ke dalam mulutnya karena kepanasan.
"Astaghfirullah, hati-hati minumnya Mas!" Hana mengambil tisu kemudian diberikannya kepada Adam untuk menyeka bibir dan baju Adam yang basah karena terkena air teh.
"Iya Han, trimakasih ya," ucap Adam sambil menatap sekilas wajah Hana.
Hana mengangguk pelan dan menyunggingkan senyum. "Sama-sama Mas. Maaf, Hana lupa memberitau, teh nasgitel yang Hana buat masih terlalu panas!" balas Hana.
"Ibu di mana, Han?" tanya Asti menyela percakapan Adam dan Hana.
"Ibu sedang berada di rumah Mas Raikhan, Mbak. Kebetulan tadi Mbak Alya, Mas Rai dan Allyra mampir ke rumah setelah berjalan-jalan pagi di Alun-Alun Utara, kemudian mereka mengajak ibu untuk ikut serta pulang ke rumah Mas Rai."
"Owhhh...." Asti mengangguk-anggukan kepalanya.
"Mbak, tumben pagi-pagi sudah berkunjung ke rumah?" tanya Hana sambil menyesap teh dengan perlahan.
"Mmmm.... Sebenarnya selain untuk melepas rindu, Mbak Asti dan Mas Arif mengantar Mas Adam untuk bertemu denganmu Han." Asti melirik Adam.
"Uhuk ... uhuk ...." Hana tersedak mendengar jawaban yang diberikan oleh Asti.
"Kenapa Han?" tanya Adam khawatir. Tangannya sudah bersiap untuk menepuk punggung Hana, namun ia urungkan.
"Ahhh, tidak apa-apa Mas," jawab Hana sambil menundukan wajahnya yang terlihat merona.
__ADS_1
"Ehemmm, Han ada yang ingin disampaikan oleh Mas Adam kepadamu," ucap Asti disertai kerlingan mata dan senyuman yang mengembang.
"Ap-apa?" Jantung Hana rasanya ingin copot mendengar ucapan Asti. Sebenarnya sudah sejak lama Hana menaruh hati kepada pria yang berusia lebih tua lima tahun darinya, Adam Rizal Syaputra. Namun Hana segera menepis perasaannya, karena pada saat itu Adam tengah menjalin hubungan dengan Diana. Hana menaruh hati kepada Adam, karena selain tampan, Adam juga sangat ramah dan perhatian.
"Mas Adam, buruan sampaikan niatanmu kepada Hana!" titah Asti.
"Eh, i-iya As." Adam kembali terlihat salah tingkah.
"Hana, Mas Adam ingin agar kita bisa saling mengenal lebih dekat sebagai seorang pria dan wanita, bukan sebagai seorang kakak dan adik. Hana Maulida Putri, maafkan jika pria yang kurang sempurna ini telah berani jatuh hati kepadamu. Mas Adam berniat untuk menjadikanmu sebagai kekasih halal." Adam berusaha memberanikan diri untuk mengutarakan semua isi hatinya.
Hana merasa teramat bahagia mendengar pengakuan Adam, pria yang selama ini dicintainya dalam diam.
"Ha-Hana juga ingin mengenal Mas Adam lebih dekat. Sebenarnya sudah sejak lama, Hana juga menaruh hati kepada Mas Adam," balas Hana. Gadis cantik itu masih menundukan wajahnya karena merasa teramat malu pada pria yang duduk di hadapannya.
Adam terkesiap mendengar pengakuan Hana. Ia tidak pernah menyangka bahwa Hana juga menaruh hati kepadanya.
"Benarkah, Hana?" tanya Adam disertai senyuman yang mengembang. Kedua netra Adam nampak berbinar.
Hana mengangguk pelan. "Iya Mas."
"Alhamdulillah Yaa Allah," pekik Adam karena teramat bahagianya.
"Mas, jangan buat Hana berdosa!" pinta Hana.
"Maksudnya apa Han?" Adam sedikit mengerutkan keningnya.
"Segera jadikan Hana kekasih halalmu, Mas!"
Ahhhhhh.... Ucapan Hana membuat hati Adam semakin berbunga-bunga. 🌹🌹🌹
Asti dan Arif tersenyum bahagia menyaksikan dua hati yang saling mengungkapkan isi hati.
🌹🌹🌹🌹
Readers... maaf jika author menjodohkan bekas Diana dengan Hana. Maaf juga kemarin belum bisa double UP, karena author sedang sok sibuk... memanjakan diri dengan membaca karya para author kece 😁😁🙏🙏
Alhamdulillah, tepat di episode ke 100, level ICPA naik, ini semua berkat dukungan para pembaca dan sobat author yang selalu setia mengikuti ICPA. Untuk itu, author mengucapkan terimakasih yang teramat sangat. Ke depannya, semoga author bisa memuaskan para pembaca dengan suguhan cerita yang lebih menarik. 😇😇🙏🙏
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like. Bila mempunyai kelebihan poin, beri semangat kepada author dengan memberikan hadiah atau vote. 🙏🙏💓💓
__ADS_1
Happy reading 😘😘😘