
POV. KIRANA
Langit nampak gelap, bahkan rintik hujan mulai membasahi bumi. Angin berhembus kencang hingga daun-daun pun jatuh berguguran. Seolah alam juga merasakan kedukaanku.
Sejak saat Vano menodai kehormatanku sebagai seorang istri, hariku bagai berselimut kabut. Ditambah dengan kenyataan pahit, bahwa aku bukanlah anak kandung dari seorang ibu yang berhati mulia, Bu Ratri.
Kini aku duduk di samping pusara wanita yang ternyata adalah ibu kandungku. Ibu yang seharusnya menjaga, merawat dan memberikan kasih sayangnya untukku.
Setelah apa yang terjadi, aku tidak menyalahkan ayah atau pun ibu kandungku, Maria. Aku merasa, kehadiranku di dunia ini sebenarnya tidak diharapkan oleh mereka. Yahh, kehadiranku di dunia seolah menjadi bumerang bagi ayah dan kedua ibuku.
Aku tidak tau, bagaimana melanjutkan hidupku. Aku bukanlah anak yang diharapkan kehadirannya, aku juga bukanlah seorang istri yang mampu menjaga kehormatan. Wajahku sudah ternodai oleh bibir Vano yang kotor. Aku merasa jijik kala melihat pantulan wajahku di cermin. Bahkan untuk mendapatkan kecupan dari Abi, aku merasa sudah tidak pantas....
"Yang, ayo kita pulang! Hujannya semakin deras. Kasihan dedek bayi yang ada di dalam perut, jika ibunya jatuh sakit."
"Iya Bie."
Aku dan Abi beranjak dari duduk dan pergi meninggalkan makam ibu. Kami melangkah menuju mobil.
.
.
Selama di perjalanan, hanya kebisuan yang menemani. Aku dan Abi larut dalam pikiran masing-masing.
Sesampai di rumah, aku bergegas masuk ke dalam kamar. Kemudian ku buka pintu kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, aku mengguyur seluruh badanku. Aku menggosok wajahku dengan kasar, berharap noda yang ditinggalkan oleh Vano tidak berbekas. Aku menangis tanpa suara.
"Yang, kenapa mandinya lama sekali?"
Abi mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil-manggilku.
"Sayang... Yang..."
__ADS_1
CEKLEK
Aku membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Ku ulas senyum meski terpaksa.
Abi menampakan raut wajah yang dipenuhi oleh kekhawatiran. Pria tampan bermata teduh itu memeluk tubuhku dengan erat. Kurasakan kehangatan dan kenyamanan saat berada dalam pelukannya. Namun, mungkin sebentar lagi aku tidak akan bisa merasakannya kembali. Aku merasa sudah tidak pantas berada di sisi seorang pria se-perfect Abi.
Abi mulai melerai pelukannya. Dia ingin menautkan bibir kami, namun aku segera mengalihkan wajah. Aku benar-benar merasa, bibir yang ternoda ini sudah tidak layak untuk mendapatkan kecupan darinya.
Abi meraih daguku.
"Sayang, mengapa Sayang selalu menghindar bila suami tampanmu ini ingin memberikan kecupan di bibir dan di kening, hemm?" Tatapan mata Abi yang teduh membuatku tak kuasa untuk menahan gejolak rasa. Jujur aku merindukan kecupan darinya, namun perasaan bersalah karena tidak mampu menjaga kehormatan sebagai seorang istri dan rasa hina membuatku untuk menahannya.
"Bie, mungkin ini bawaan dari dedek bayi yang ada di dalam perut. Aku benar-benar sedang tidak ingin dikecup atupun dicium oleh Hubby." Aku mengelus perutku dan berusaha untuk tersenyum. Aku mencoba mengelak, meski dada ini serasa sesak.
"Benarkah? Sampai kapan aku menahan untuk tidak mencium istriku yang cantik ini?" Abi mengusap pipiku dengan lembut.
"Aku tidak tau Bie."
"Hemmm, aku akan bersabar Yang."
"Ya..."
"Aku ingin cilok Gajahan, sate Pak Kromo, rujak ice cream Pakualaman, mie ayam Kota Gede. Tolong belikan ya Bie!" Aku memasang wajah puppy eyes hingga membuatnya gemas dan menjapit hidungku.
"Pesan lewat go foo* ya Yang?"
Aku menggeleng-nggelengkan kepala pertanda tidak mau.
"Atau, aku minta Rifky untuk membelikannya?"
"Aku ingin Hubbie yang membelikannya sendiri."
"Apa ini juga permintaan dedek bayi?" Abi mengelus perutku.
__ADS_1
"Iya, mungkin Bie." Lagi-lagi aku berusaha tersenyum.
"Hemmm, baiklah. Untung aku mencintai kalian, kalau tidak, berasa males banget hujan-hujan begini harus berkeliling mencari apa yang diinginkan oleh istri comelku."
"Hhhehe, trimakasih ya Bie. Semangat berkeliling suamiku!"
"Beri aku kecupan!"
"Tidak bisa Bie. Aku sudah katakan alasannya kan?"
Abi nampak membuang nafas kasar.
"Huftttt, yasudah. Aku berangkat sekarang Markonah."
"Iya, hati-hati ya Markun!"
Abi mengambil kunci mobil kemudian bergegas pergi.
Ketika Abi sudah pergi, aku segera memasukan beberapa potong pakaian dan jilbab ke dalam tas punggung.
Sebelum pergi dari rumah yang dipenuhi dengan kenangan indah bersama Abi, aku meninggalkan sepucuk surat untuk suami yang teramat perfect, Abimana Surya Saputra.
"Maaf Bie, aku harus pergi. Jangan pernah mencariku! Aku sudah tidak pantas mendapatkan cinta darimu."
Lolos sudah air mataku. Rasanya teramat berat untuk meninggalkan pria yang sangat kucintai. Namun aku tetap harus pergi.
Selamat tinggal Abimana Surya Saputra, sahabat sekaligus suamiku tercinta......
🌹🌹🌹🌹
Upsss hari ini UP dua kali... Biar langsung nyambung ceritanya. Maaf kalau ada typo 🙏🙏🙏😅
Kira-kira, Kirana akan pergi ke mana? Dan bagaimana reaksi Abimana ketika tau bahwa istrinya telah pergi???
__ADS_1
Trimakasih dan happy reading ❤❤❤