
Setelah pergi meninggalkan lapas, Abimana langsung membawa istrinya kembali ke rumah tanpa menjemput Keanu terlebih dulu. Abimana berencana menjemput putra mereka setelah ia dan Kirana membersihkan badan.
.
.
"Bund, mandilah!" titah Abimana. Saat ini mereka berada di dalam kamar.
"Heem, Bie." Kirana melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah melepas pakaian, Kirana mengguyur seluruh badannya dengan air yang keluar dari shower.
Kala melakukan ritual membersihkan badan, terbayang kembali kejadian di lapas. Permintaan Diana sebelum melahirkan, kematian Diana, perasaan cinta Diana terhadap Abimana yang teramat dalam hingga di bawa sampai ke alam keabadian dan kedatangan Alden yang tiba-tiba. Kirana menangis di bawah guyuran air shower. Apa yang terjadi pada hari ini begitu membuatnya teramat bersedih.
Tubuh Kirana serasa lemas, ia pun duduk meringkuk disertai isakan.
Abimana teramat khawatir karena istrinya belum juga keluar dari dalam kamar mandi selama lebih dari satu jam.
"Bund, kenapa Bunda belum selesai mandinya?" tanya Abimana dari luar kamar mandi.
"Bun, Bunda...." Abimana terus saja memanggil istrinya namun tidak mendapatkan jawaban.
Abimana bergegas membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak di kunci oleh Kirana.
CEKLEK
Abimana terkesiap mendapati istrinya yang sudah menggigil dengan posisi duduk meringkuk.
"Bunda...," pekik Abimana.
Abimana bergegas membalut tubuh istrinya dengan handuk setelah mematikan shower. Abimana mengangkat tubuh wanita yang sangat dicintai dan membawanya ke ranjang.
Perlahan Abimana membaringkan tubuh Kirana di atas ranjang kemudian melumurinya dengan minyak kayu putih.
Kirana sudah tidak terlihat menggigil, namun wajahnya masih nampak pucat.
"Bund, apa yang Bunda lakukan tadi di kamar mandi jangan diulangi lagi ya!" Abimana meraih tubuh istrinya ke dalam pelukan.
"Hiks... Hiks, Bie."
"Hehem, ada apa Bunda?"
"Bie, aku gagal menjadi seorang dokter. Aku tidak berhasil menyelamatkan nyawa Diana karena keegoisanku. Aku tidak mengabulkan permintaan Diana, dengan melarang Hubby agar tidak mendampinginya pada saat ia melahirkan, hiks...," ucap Kirana terisak.
__ADS_1
"Sssstt..... Bunda berhentilah menyalahkan diri sendiri! Apa yang dilakukan Bunda sudah benar. Tidak mungkin, suamimu ini mendampingi Diana pada saat ia melahirkan. Aku bukanlah saudara Diana apalagi suaminya." Abimana mengusap-usap punggung istrinya seraya memberi ketenangan.
"Hiks, hiks.... Bie, mengapa cinta Diana teramat dalam kepadamu? Hingga perasaan cintanya terhadapmu ia bawa sampai mati."
Abimana mencium pucuk kepala istrinya, menuangkan rasa kasih dan cinta yang mendalam.
"Aku sungguh tidak tau Bunda. Bahkan aku juga tidak ingin tau. Aku hanya ingin cinta dari istriku seorang. Bund, jangan menyiksa diri dengan memikirkan sesuatu yang hanya akan menyakiti hatimu! Ingatlah Keanu, Bund! Jika bundanya bersedih, maka Keanu akan ikut bersedih." Abimana menyeka air mata yang membasahi wajah cantik istrinya.
"Iya Bie. Ba-bagaimana nasib baby Karan? Siapa yang akan merawat dan membesarkannya? Aku sungguh tidak rela jika bayi itu dirawat dan dibesarkan oleh ayah biologisnya yang brengse*."
Abimana membuang nafas kasar. "Sudahlah Bunda, jangan terlalu memikirkan nasib Karan! Aku yakin, Om Anggara akan melakukan yang terbaik untuk putra Diana."
"Bukankah, Om Anggara tidak menerima Karan sebagai cucunya?"
"Bund, Allah Maha membolak-balikan hati setiap insan. Insya Allah hati Om Anggara, akan tersentuh bila melihat wajah bayi yang belum berdosa itu. Sehingga menerima Karan sebagai cucunya."
"Semoga ya Bie."
"Iya Cintaku. Mmm.... Bunda tidak ingin berpakaian? Atau.... Bunda sedang menginginkan disentuh oleh suami tampanmu ini?" Abimana mengerlingkan matanya disertai senyuman yang menggoda.
Wajah Kirana merona. "Ap-apaan sih Bie. Aku akan berpakaian, kasihan Keanu pasti sudah menunggu." Kirana berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya. Setelah berhasil terlepas, Kirana segera beranjak dari ranjang. Namun tangan kekar Abimana menariknya hingga tubuh Kirana jatuh kembali ke dalam pelukan.
"Bund, sebentar saja! Mumpung Keanu masih di rumah utinya," bisik Abimana di telinga Kirana.
Kirana tidak dapat menolak apa yang diinginkan oleh suaminya. Apalagi saat ini, Kirana juga sedang ingin mendapatkan kehangatan.
Tangan Abimana membuka handuk yang membalut tubuh istrinya dan memberikan sentuhan-sentuhan yang melenakan. Mereka berdua tenggelam ke dalam ritual penyatuan cinta, mereguk kenikmatan surga dunia.
🌹🌹🌹
Anggara segera menghubungi polisi untuk menangkap Tukiyo alias Alden.
Adam nampak memainkan benda pipih di tangannya. Sebenarnya Adam ingin menyuruh orang untuk menghabisi nyawa Alden.
"Kak, sepertinya Kak Adam sedang memikirkan sesuatu," ucap Arif sambil menatap manik mata Adam dengan intens.
"Iya Rif. Kakak ingin menghabisi nyawa pria brengse* itu. Kakak ingin memberikan hukuman yang setimpal kepadanya," balas Adam dengan menampakan amarah yang memuncak.
"Kak, jangan berbuat kesalahan! Bukan kakak yang berhak memberi hukuman kepada Alden."
"Lalu siapa yang berhak? Polisi? Asal kamu tau Rif, Alden pasti mempunyai banyak cara untuk terlepas dari hukuman. Alden akan mengatakan bahwa mereka melakukan perbuatan terlarang atas dasar suka sama suka, tanpa paksaan," tegas Adam.
"Kak, jika polisi tidak mampu untuk memberikan hukuman kepada Alden, biarlah Allah saja yang akan memberikan hukuman kepada pria itu."
__ADS_1
"Tapi Rif, Allah akan memberikan hukuman kepada Alden lewat perantara siapa?"
"Hanya Allah yang tau, Kak."
.
.
Alden melajukan sepeda motornya dengan kencang setelah menyadari bahwa polisi tengah mengejarnya.
Tanpa ia duga, ada truk yang berhenti dengan tiba-tiba di depannya.
BRUKKK
Sepeda motor Alden mencium bagian belakang truk. Tubuh Alden terhempas beberapa meter dan menghantam aspal. Naas, tubuh Alden terlindas oleh mobil yang sedang melintas. Darah segar mulai mengalir dari kepala dan bagian tubuh Alden yang lain.
Semua orang yang menyaksikan kecelakaan naas itu, seketika berteriak.
"Ya Allah...."
Polisi yang bernama Gunawan, menghentikan mobilnya di samping tubuh Alden yang sudah tidak bernyawa. Ia dan seorang rekannya menutupi tubuh Alden dengan koran bekas sebelum mobil ambulance datang.
.
.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun," ucap Anggara lirih, setelah menerima kabar bahwa Alden meninggal dunia karena mengalami kecelakaan.
"Ada apa Om?" tanya Adam dan Arif hampir bersamaan.
"Alden meninggal dunia. Pria brengse* itu mencoba melarikan diri dari kejaran polisi, namun naas ia malah mengalami kecelakaan."
"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun," ucap Arif. Arif dan Adam saling berpandangan. Ternyata hukuman untuk Alden, disegerakan oleh sang penulis skenario.
🌹🌹🌹🌹
Ehemmmm, next episode semoga terjawab, siapa yang akan merawat Karan. 😅😅😅
Jangan lupa untuk memberikan semangat kepada author dengan meninggalkan jejak like 👍!!!
Boleh memberikan hadiah bila mempunyai kelebihan poin, apalagi memberikan vote, agar othor yang tak keren ini akan semakin bersemangat melanjutkan ICPA, hhhhehe. 😁😁😁
Oya, info sedikit ya readers. Kebanyakan para author tidak menerima hasil dari NT atau MT, lho readers. Loh, tapi mengapa mereka masih semangat UP? Jawabnya, karena sebagian dari para author, sudah merasa puas apabila karyanya dibaca dan dihargai oleh para readers. Apalagi jika para pembaca dapat memetik hikmah dari karya yang ditulis oleh para author. 😅😅😅
__ADS_1
Sekian infonya, terimakasih and happy reading 😘😘😘