Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Berperahu


__ADS_3

Bila Abimana dan Kirana memilih berbulan madu dengan mendaki gunung serta menginap di vila yang menyuguhkan pemandangan alam yang berlatar belakang gagahnya Gunung Lawu, lain halnya dengan Ilham dan Suci. Mereka memilih berbulan madu dengan menikmati suasana pedesaan. Selain itu, mereka juga berkunjung ke Waduk Sermo serta Pantai Glagah. Kedua tempat wisata yang terletak di desa Kulon Progo.


Kini Ilham dan Suci tengah menikmati keindahan pemandangan yang tersuguh di Waduk Sermo dengan berperahu, diiringi obrolan dan candaan. Ilham sengaja memesan perahu hanya untuk mereka berdua, agar tercipta suasana romantis.


"Mas, indah sekali ya pemandangan yang tersuguh," ucap Suci dengan mengulas senyum, hingga nampak kedua lesung pipi yang membuatnya semakin manis. Suci menyandarkan kepala di bahu suaminya, sedangkan Ilham melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Sesekali Ilham mencuri kecupan di pipi wanita yang kini telah menjadi kekasih halalnya.


"Iya sangat indah, Sayang," balas Ilham yang juga mengulas senyum.


Sepasang pengantin baru, menghabiskan waktu menikmati keasrian yang ditawarkan oleh Waduk Sermo Kulon Progo. Suasana sejuk dan alami menjadikan mereka betah berlama-lama berada di sana.


Waduk Sermo seperti danau yang airnya sangat jernih, namun seolah berwarna kehijauan, karena dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun dan begitu hijau.


Keindahan Waduk Sermo semakin bertambah, karena hamparan rerumputan yang menutupi seluruh permukaan tanah.


Langit biru yang begitu cerah serta awan putih yang berarak-arak, juga menjadi penambah keindahan pesona Waduk Sermo.


Sesekali, tampak terusik air waduk yang tenang oleh ikan atau ketika perahu melewatinya.



Kedua insan yang sedang dimabuk asmara masih asik bercengkrama.


"Mas, pernahkah Mas Ilham mencintai wanita lain sebelum menikah denganku?" tanya Suci, kedua netranya menatap wajah Ilham lekat-lekat.


Ilham mengangkat dagu istrinya dan menjawab pertanyaan Suci dengan mengukir senyuman yang menawan, "Mas belum pernah mencintai wanita selain istri Mas yang teramat cantik ini. Kalau sekedar naksir, tentu pernah."


"Ahhh Mas Ilham, pasti boong. Mana mungkin seorang ustadz muda yang tampan dan cerdas, belum pernah mencintai seorang wanita," ucap Suci dengan memanyunkan bibirnya.


Ilham tersenyum lebar mendengar ucapan istrinya.


"Hhhaha, wajah Sayang makin menggemaskan kalau bibirnya manyun seperti itu. Ingin rasanya menjalankan sunah Rasul dengan segera. Beneran Mas tidak berbohong Sayangku."

__ADS_1


Mata Suci membulat, ia mencubit pinggang suaminya karena merasa sebal sekaligus gemas.


"Aww, sakit Sayang," rintih Ilham.


"Mas, nggak malu ya didengar sama si bapak yang menjalankan perahu?"


"Emmm, tentu malu tapi sedikit. Lagi pula kita sudah sah menjadi pasangan yang halal. Mas juga ngomongnya nggak terlalu vulgar lho Yank." Ilham terkekeh.


"Hemmm, itu menurut Mas Ilham." Suci menampakan wajah cemberut.


Ilham tertawa renyah melihat mimik wajah istrinya.


"Sayang, melihatmu seperti ini, Mas jadi teringat Kiran. Dia adik yang sangat comel. Kiran pernah mengatai abangnya seperti kaum Luth, karena belum mampu mencintai seorang wanita, tentunya sebelum kita menikah."


Suci terkejut mendengar ucapan suaminya. Bahkan ia juga merasa marah pada Kirana, karena tega mengatai abangnya kaum Luth.


"Hah, Kiran mengatai Mas kaum Luth?" tanya Suci dengan intonasi suara yang meninggi, kedua netranya membelalak.


"Tetap saja dia keterlaluan. Bercandanya nggak lucu." Suci menyilangkan kedua tangannya di atas perut.


"Sayang, jangan seperti itu! Kiran memang karakternya unik, jadi fahamilah adik iparmu!"


"Tapi Mas ...." Sebelum Suci meneruskan ucapan, Ilham terlebih dahulu memotongnya.


"Sayang, Mas mohon jangan marah pada si comel! Meski candaannya kadang suka keterlaluan, namun dia tetaplah adik yang manis bagiku," pinta Ilham dengan menatap kedua manik hitam istrinya lekat-lekat.


Suci mengeluarkan nafas kasar, "Hufff, seandainya Kirana bukan adik Mas Ilham, ingin sekali aku mengomelinya Mas."


"Hemzzz, Sayang boleh kog mengomeli Kiran, yang terpenting jangan main tangan! Ketika diomelin pasti dia akan meminta maaf dan memasang wajah puppy eyes. Kiran sebenarnya .... Ach sudahlah." Ilham tidak melanjutkan perkataannya. Ustadz muda itu mengalihkan pandangannya ketika hampir saja keceplosan mengucapkan kebenaran tentang siapa sebenarnya Kirana.


"Mas, maksud Mas apa? Mengapa ucapan Mas Ilham tidak diteruskan?" tanya Suci dengan mengerutkan kening, di dalam pikiran wanita berlesung pipi itu dipenuhi dengan pertanyaan.

__ADS_1


Ilham kembali menoleh dan menatap kedua manik hitam sang istri.


"Kiran sebenarnya adalah adik yang teramat kusayangi, Yank," jawab Ilham. Ustadz muda itu berusaha menutupi kebenaran tentang Kirana. Entah apa yang sebenarnya ia sembunyikan.


Tanpa terasa, perahu yang mereka tumpangi mulai berlabuh. Ilham turun dari perahu diikuti oleh Suci. Ketika Suci hendak turun, Ilham memegangi tangan istrinya agar tidak terjatuh.


Mereka berdua berjalan ke atas dengan menaiki tangga.


"Mas, Suci ingin beli cilok," ucap Suci ketika melihat penjual cilok yang sedang menjajakan jualannya dengan menggunakan sepeda motor.


"Baiklah Sayang," balas Ilham dengan menampakan senyumnya.


Mereka membeli dua porsi cilok. Cilok makanan yang terbuat dari tepung kanji, dan berbentuk bulat seperti kepala Pak Ogah, dilengkapi dengan saus, kecap dan bumbu kacang.


Setelah menerima dan membayar cilok yang harganya hanya lima ratus perak perbiji, Ilham dan Suci menikmati cilok dengan duduk santai di atas kursi, sambil memandang air Waduk Sermo yang terlihat berkilau bila dilihat dari atas.


🌹🌹🌹🌹


Readerssss author masih ngajak traveling yakkk 😍


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like 👍


Berikan komentar


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Klik emote ❤ untuk favoritkan novel


Vote jika berkenan mendukung karya author


Trimakasih dan happy reading

__ADS_1



__ADS_2