
Pukul 07.00wib, Abimana dan Kirana mulai menuruni Gunung Lawu dengan hati-hati. Mereka mampir di warung Mbok Yem untuk mengisi perut yang sudah keroncongan sekaligus beristirahat.
Nampak beberapa pendaki sedang menikmati menu makanan yang dijajakan di warung tersebut, sambil beristirahat. Mereka tidak banyak berbicara ketika masih berada di wilayah Gunung Lawu dan teramat menjunjung tinggi moral yang mesti dijaga ketika melakukan pendakian. Para pendaki itu mengerti bahwa Gunung Lawu masih memiliki hawa spiritual yang kental. Ketika mendaki, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar.
Ketika sedang asik melahap makanan yang telah dipesan, pandangan kedua netra Kirana tertuju pada serombongan tim SAR yang sedang berjalan dengan langkah panjang. Mereka membawa peralatan lengkap.
Salah seorang pendaki ada yang memberanikan diri bertanya pada salah seorang tim SAR, karena perasaan ingin tahunya yang berkecamuk.
Ketika mendengar jawabannya, semua bibir seolah terkunci. Bahkan Kirana sudah tidak berselera lagi untuk menghabiskan makanannya.
Terbayang oleh Kirana, kejadian semalam yang membuat bulu kuduk merinding.
Ternyata para tim SAR, akan mengevakuasi jasad sepasang pria dan wanita muda, berkat laporan dari beberapa pendaki. Mereka melihat tubuh korban sangat mengenaskan dengan pakaian yang sudah tidak lengkap.
"Ya Allah berarti teriakan semalam .... Astaghfirullah, yaa Robb yang Maha Pelindung, lindungilah kami selalu, beri penjagaan kepada kami dari segala hal yang buruk," pinta Kirana di dalam hati.
Setelah membayar dan beristirahat sejenak di warung Mbok Yem, mereka berdua melanjutkan perjalanan.
Ketika malam menyapa, mereka berhenti sejenak di salah satu posko, karena merasa lelah.
Malam itu Kirana kembali merasa gelisah, seolah ingin segera sampai ke kaki gunung. Ia selalu membaca kalam cinta ketika mengalami beberapa hal aneh, terutama saat melewati Pasar Dieng.
Namun Kirana berusaha mengalihkan kegelisahan dengan berpikiran positif, jika di malam hari suasana sangat mencekam, beda halnya tatkala mentari mulai menyapa dengan kehangatan sinarnya. Maka ia akan dapat melihat keindahan alam yang sangat memukau.
Setelah merasa cukup beristirahat, mereka pun kembali melangkahkan kaki. Abimana dan Kirana melanjutkan perjalanan yang penuh perjuangan.
Raut wajah mereka berdua menyiratkan kebahagiaan, tatkala berhasil sampai ke bawah dengan selamat. Seketika Kirana melakukan sujud syukur.
🌹🌹🌹
Abimana dan Kirana mencari penginapan untuk melepas lelah. Sepasang kekasih itu memutuskan untuk menginap di salah satu vila yang menyediakan kamar bernuansa klasik.
__ADS_1
Vila tersebut juga menyuguhkan pemandangan alam yang berlatar belakang kegagahan Gunung Lawu, dan hamparan sawah menghijau.
Ketika lembayung menorehkan warna jingga, Abimana dan Kirana duduk bersantai di atas sofa yang empuk, setelah selesai membersihkan diri, sembari menikmati pemandangan alam dari jendela kamar.
"Sayang pasti capek ya?" tanya Abimana. Pria tampan itu melingkarkan tangannya di pundak sang istri.
"Lumayan Bie," jawab Kirana singkat. Wanita cantik itu merasa lelah dan mengantuk.
"Aku pijit kakimu, Yank?"
"Hemmm, boleh," jawab Kirana dengan mengerlingkan matanya disertai seulas senyum.
Abimana beranjak dari posisinya saat ini, dan duduk bersila di hadapan sang istri. Pria tampan itu mulai memijat kaki istrinya.
Kirana senyam-senyum, ketika melihat suami tampannya yang sangat perhatian.
"Bie, makasih ya. Kamu suami yang sangat baik dan perhatian," ucap Kirana sambil mengusap pipi suaminya.
"Iya Sayang. Tapi nanti gantian lho!" Abimana tertawa renyah.
"Sayang, istirahatlah! Sepertinya Sayang sangat mengantuk." Abimana menyudahi pijitannya.
"Huum Bie, lihatlah kedua mataku seperti mata panda!" Kirana terkekeh.
Abimana berdiri, kemudian mengangkat tubuh istrinya. Kirana tersenyum dengan apa yang dilakukan oleh Abimana. Wanita cantik itu pun mengalungkan tangan di leher suami tercinta.
Perlahan Abimana membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang. Kemudian ia pun turut serta berbaring di samping Kirana.
Posisi mereka saling berhadapan. Abimana dan Kirana saling berpeluk.
"Bie, aku teramat bersyukur, kita bisa menuruni gunung dengan selamat," ucap Kirana. Kedua netranya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Iya Sayang, Alhamdulillah. Jika kita selalu berlindung kepada-Nya dan tidak melanggar pantangan saat melakukan pendakian, Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Meski kadang terlihat berbagai keanehan dan suara-suara yang membuat nyali kita ciut," balas Abimana dengan mengulas senyum.
"Apa mungkin, Hubby juga mendengar suara jeritan dan melihat siluet seorang wanita berambut panjang?" Kirana mengerutkan kening.
Abimana membuang nafas kasar dan menjawab pertanyaan istrinya, "Huffff, iya Yank. Makanya aku segera pergi ke alam mimpi. Sayang sich, berbulan madu kog mintanya dengan mendaki gunung."
Abimana mengecup kening istrinya penuh kelembutan.
"Maaf Bie, karena aku sangat rindu mendaki gunung," balas Kirana dengan menampakan raut wajah sendu.
Abimana mengangkat dagu istrinya. Kedua netra pria tampan, mengunci manik hitam wanita yang kini teramat dicintai.
"Sudahlah Yank, jangan menampakan wajah sendu! Lagi pula, aku sangat menikmati pendakian kita. Benar-benar momen yang tak akan terlupa." Senyum Abimana mengembang. Pria tampan itu mengusap bibir istrinya yang seolah bagai candu. Wajah mereka pun semakin berdekatan, dan tautan bibir tak terelakan lagi.
Abimana dan Kirana, semakin tenggelam dalam buaian asmaraloka.
🌹🌹🌹🌹
Ket.
Asmaraloka: Dunia (alam) cinta kasih.
Readersss
Jangan lupa tinggalkan like 👍
Beri komentar boleh kritik atau saran 😘
Klik emote ❤ untuk favoritkan novel
Klik rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
Beri Vote jika ingin mendukung karya author
Trimakasih dan happy reading 😘😘