
Hari ini merupakan hari yang dipenuhi dengan kebahagiaan bagi Ilham dan Suci beserta keluarganya. Suci melahirkan seorang putri yang sangat cantik dan sehat.
.
.
"Bang, selamat ya. Bang Ilham sekarang sudah menjadi seorang ayah." Kirana memeluk abangnya, Ilham pun membalas pelukan sang adik yang sangat dikasihi. Namun kali ini mereka tidak bisa berpeluk dengan erat karena perut Kirana sudah semakin besar.
"Terimakasih Dek... Sebentar lagi, adik abang yang comel juga akan menjadi seorang ibu." Ilham mengusap-usap punggung adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Iya Bang. Doakan Kiran, semoga diberi kemudahan dan keselamatan pada saat melahirkan!"
"Tentu Dek, abang akan selalu mendoakanmu..."
"Ehemm...." Abimana berdehem karena merasa diacuhkan oleh Ilham dan Kirana. Keduanya perlahan melerai pelukan mereka.
"Afwan Bim. Jangan cemburu melihat kami berpelukan!" Ilham terkekeh begitu juga dengan Kirana. (maaf Bim)
"Labasa na'am (iya, tidak apa-apa), Bang. Kalian kan memang kakak beradik, jadi sah-sah saja bila saling berpeluk. Kecuali jika pria lain yang memeluk Kiran, siap-siap kena bogeman dariku." Abimana menarik kedua sudut bibirnya hingga nampaklah senyuman yang menawan.
"Hemmmm, syukurlah Bim. Lantas, kenapa tadi berdehem?"
"Bima merasa diacuhkan oleh kalian. Tau nggak sih Bang, Bima juga ingin mengucapkan selamat kepada Abang."
"Ya Allah Bie, gitu aja merasa diacuhkan. Tuch buruan kasih selamat ke Bang Ilham!" Timpal Kirana disertai tawa.
"Iya istri comel." Abimana menjapit hidung Kirana dengan gemas.
"Aww ... sakit Bie," rintih Kirana sambil mengusap hidungnya yang sedikit memerah.
Ilham tersenyum lebar melihat tingkah adik dan iparnya, meski semakin so sweet namun terkadang mereka juga seperti tom and Jerry.
"Bang, bolehkah kami masuk ke ruangan Mbak Suci?" tanya Kirana disertai seulas senyum.
"Tentu boleh Dek. Mari silahkan masuk! Kebetulan ayah, ibu dan ayah mertua juga berada di dalam." Ilham pun membuka pintu.
Ketiganya melangkah memasuki ruangan. Nampak Ridwan, Arya dan Ratri sedang duduk di sofa sembari berbincang dengan Suci.
"Asalamu'alaikum." Abimana dan Kirana mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Suci, Arya, Ridwan dan Ratri yang terdengar kompak.
Abimana dan Kirana mencium punggung tangan Ridwan, Ratri dan Arya, bergantian.
Ratri dan Kirana saling berpeluk. Diusapnya punggung putri tercinta dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Sehat selalu ya, Ndhuk."
"Aamiin, Bu."
Setelah melerai pelukan, Kirana mendekat ke ranjang pasien dan memberi selamat kepada Suci.
"Mbak Suci, selamat ya. Semoga si kecil tumbuh menjadi anak yang solekhah." Kirana mengulas senyum.
"Trimakasih, Mbak Kiran," balas Suci disertai senyuman yang menampakkan kedua lesung pipinya. Suci duduk di atas ranjang dengan bersandar pada headboard sembari menggendong baby girl.
"Oya, siapa nama putri kecil ini?" Kirana menowel pipi baby girl yang sedang berada di gendongan Suci. Meski tengah terlelap, si baby girl nampak tersenyum.
"Nabilla Annisa Chairanie, Mbak. Bisa dipanggil Nabilla atau Nisa."
"Emmmm, baiklah. Tante akan memanggilmu Nisa, ya cantik?"
"Iya Tante...." jawab Suci dengan menirukan suara anak kecil.
"Bolehkah Kiran menggendong baby Nisa?"
"Boleh, silahkan Mbak."
Suci menyerahkan baby Nisa kepada adik iparnya.
"Sayang, kamu cantik sekali Nak. Perpaduan wajah Bang Ilham dan Mbak Suci." Kirana mencium kening baby Nisa dengan pelan.
"Cantiknya.... Yang, kalau putra kita sudah lahir, wajahnya pasti sangat tampan mirip Caesar Hito."
"Hemmzzz, Caesar Hito menurutku tidak terlalu tampan, Bie."
"Memangnya ada yang lebih tampan, Yang?" Abimana sedikit mengerutkan keningnya.
"Ada," jawab Kirana singkat.
"Siapa?"
"Suamiku." Kirana menarik kedua sudut bibirnya.
"Akkkkhhh, kamu jujur sekali Yang... Berarti putra kita, kelak wajahnya mirip aku dong."
"Yaiyalah Bie, mau mirip siapa lagi?" Kirana memutar bola mata malas.
"Mirip kamu yang nggemesin, Yang." Abimana mencium pipi Kirana.
"Bie, malu," bisik Kirana.
__ADS_1
Meski berbisik suara Kirana tetap terdengar oleh kedua orang tuanya, Arya, Ilham dan Suci.
"Ehemmm, tidak usah malu Ran. Nich, Ayah juga tidak malu mencium pipi ibumu." Seolah tak ingin kalah dengan sang menantu, Ridwan tanpa merasa canggung mencium pipi Ratri di hadapan besan, kedua anak dan menantu mereka. Seketika semua yang ada di dalam ruangan tertawa.
Binar kebahagiaan nampak di kedua netra mereka. Keluarga harmonis, yang selalu saling menguatkan ketika ditimpa ujian.
🌹🌹🌹
Sudah beberapa bulan ini, Anggara tidak pernah mengunjungi kedua buah hatinya. Ia teramat rindu kepada Vano dan Diana.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya pada hari ini, Anggara segera melakukan perjalanan dengan jetpri ke Jogja.
.
.
"Papa...." Diana memeluk papanya. Anggara pun membalas pelukan putri yang sangat dirindukan meski telah sering kali mengecewakannya.
"Di... Bagaimana kabarmu, Sayang?" Anggara sedikit merenggangkan pelukan.
Diana tertunduk, kedua sudut netranya tak mampu lagi membendung air mata kesedihan.
Anggara mengangkat dagu Diana.
"Apa yang terjadi? Katakan pada Papa?"
"Hiks ... hiks, Pa...."
"Kenapa kamu menangis, hemmm?"
"Pa, Diana ha-hamil. Hiks ... hiks."
Kedua netra Anggara membulat sempurna. Pria paruh baya itu terkesiap mendengar ucapan putrinya.
"Apa....? Siapa yang melakukan ini, jawab Di!" Anggara mencengkram pundak Diana dan mengguncang-guncangkannya.
Tangis Diana pun pecah, ia tak sanggup menjawab pertanyaan papanya. Entah apa yang akan dilakukan oleh Anggara, setelah mengetahui kebenaran bahwa putrinya telah melakukan dosa besar dengan salah seorang penjaga lapas.
🌹🌹🌹
Ehemmm, UP nya segini dulu ya readersss. Insya Allah, jika hari ini ada waktu, author akan UP dua kali. Tapi nggak janji yach... 😁😁🙏
Tetap ikuti kisah Abi dan Kiran sampai end ya readers, agar author tetap bersemangat melanjutkan kisah mereka. ❤❤❤
Trimakasih and happy reading 😘😘
__ADS_1